Manusia tanpa Syukur

Mari saya ceritakan bagaimana nikmatnya jalan pagi di hari minggu… Namun sebelumnya, izinkan saya menyampaikan sajak yang saya buat dengan mengalir.

Siapalah aku?
Berjalan menatap dengan penuh rindu
Namun ada suatu hal yang terlupa di benakku
Bahwa aku tak pernah mensyukuri nikmat dari-Mu

Siapalah aku?
Tanpa sadar aku mengamati sekelilingku
Burung-burung bersemangat dan berkicau merdu untuk-Mu
Pepohonan hijau menunduk dan taqwa ke pada-Mu
Sungai mengalir deras penuh senandu ciptaan-Mu
Manusia berlalu lalang, mengharap sebuah ridho dari-Mu
Apakah aku lupa?
Continue reading “Manusia tanpa Syukur”

Ironi Pemuda-pemudi Indonesia

Pada saat saya menulis artikel ini, saya sedang menanti link asli yang akan dikirimkan oleh mas Ispon Yurano. Beberapa saat dia mengirimkan sebuah tulisan berbahasa Inggris yang mudah dipahami dan sangat menampar saya selaku rakyat Indonesia. Mengapa? Berikut saya ulas dengan saya utarakan pula pemikiran-pemikiran pribadi. Link asli akan saya berikan ketika mas Ispon sudah sukses mengirimnya. Tulisan di bawah adalah tulisan pribadi saya.

Kita semua memimpikan Indonesia menjadi maju? Mimpi itu hanya akan sekedar menjadi mimpi jika kita, rakyat Indonesia masih harus “mengembangkan” mentalnya.

Awalnya begini. Siapa sih yang tidak lelah dengan pemerintahan kita yang semerawut. Pemberitaan media yang massif akan berita buruk negeri ini. Politik yang saling serang dan para elit yang senantiasa haus kekuasaan. Muak rasanya bukan? Namun, kita semua lupa, mereka semua akan mati sendiri pada akhirnya. Iya, mati. Mereka yang tetap berintegritas akan mati meninggalkan medali pahlawannya, dan mereka yang munafik akan mati meninggalnya busuknya kenangan. Continue reading “Ironi Pemuda-pemudi Indonesia”

Pekerjaan Kami yang Dilematis

Siapalah kami? Yang selalu membantu Ibu untuk atas intruksi Bapak untuk lingkungan tercinta.

Sejarah awalnya begini, pada mulanya Bapak melakukan kesepakatan untuk kebaikan bersama dengan Bos-Bos untuk penghidupan segenap lingkungan yang Kami, Bapak, Ibu dan para Bos semua tempati. Kesepakatan yang didapat adalah Bos-Bos berkewajiban untuk berkonstrIbusi wajib kepada Bapak untuk kebaikan lingkungan. Berapa besarannya? Untuk ini, para Bos diberikan kewenangan menghitung sendiri besaran iuran wajib yang akan disetor dengan rumusan yang telah disepakati bersama. Menghitung sendiri, karena Bapak tidak pernah melakukan perhitungan. Kecuali jika Bos melakukan penyelewangan sedemikian rupa agar iuran wajib diberikan sesedikit mungkin atau bahkan mendekati nol dan menjadi nol.

Sebagai informasi, Bapak Kami adalah pemilik lingkungan, lingkungan yang kita semua dan para Bos tempati. Sementara Ibu Kami adalah pengurus lingkungan. Para Bos? Bos-Bos menempati lingkungan ini dan diwajibkan memberikan iuran untuk perbaikan, perawatan, dan pembangunan lingkungan guna kebaikan bersama. Tentu nominal iuran disesuaikan dengan kemampuan para Bos tersebut dan sekali lagi, dihitung sendiri dengan asas kejujuran. Bapak tidak pernah memaksa.

Continue reading “Pekerjaan Kami yang Dilematis”

Kegilaan, dan segala Kenangan yang Dihasilkan

Sesekali, bertingkah gila itu sangat amat diperlukan. Dengan gelak tawa yang dihasilkan dan kenangan yang menohok pikiran, menjadi gila bisa menjadikan kita layaknya manusia seutuhnya.
Baru beberapa saat saya membuka album foto kenangan selama melaksanakan pendidikan di Manado bersama teman-teman terhebat yang pernah saya temui. Hebat? Hebat apanya? Dari album foto yang saya lihat-lihat, banyak dari foto tersebut menunjukkan betapa gila nya mereka, – atau saya juga sih. Namun foto tersebut berhasil membuat saya menahan nafas, betapa rindu nya saya suasana yang ada di dalam foto tersebut. Di bandingkan dengan foto pose normal lainnya, foto gila menjadi jauh lebih hidup dan bermakna.

Terlepas dari kenangan foto gila. Terkadang menjadi gila di saat muda itu sangat amat diperlukan. Karena ketika kita dewasa dan menjadi orang tua, semua itu akan sirna. Kesirnaan tanpa adanya kenangan hanyalah akan menjadi penyesalan terpahit. Continue reading “Kegilaan, dan segala Kenangan yang Dihasilkan”

Kebahagiaan, Apakah harus Cari dan Buang Begitu Saja?

Untuk apa kita berjuang selain untuk meraih kebahagiaan yang haqiqi. Dan untuk apa kita bersyukur selain menghindari rasa tidakpuas diri tiada henti?

Mas Widyan memang benar. Kekayaan memang tidak selamanya menunjang sebuah kebahagian. Saya menemukan bentuk paling simpel dari sebuah kalimat bahwasanya apa gunanya kaya jika tidak bahagia.

Setahun di Manado, saya merasakan suatu yang bisa dikatakan upgrade dalam hal lingkungan keadaan tinggal. Tempat saya tinggal yang berada di Jalan Mangga II, merupakan sebuah kost yang sangat lengkap fasilitasnya. Kamar yang nyaman serta bersih. Fasilitas rumah kost yang lengkap seperti kulkas, TV kabel, alat dapur, dan apapun lainnya.

Continue reading “Kebahagiaan, Apakah harus Cari dan Buang Begitu Saja?”

Belajar Open Minded dari Beberapa Film Liar

Ingin rasanya saya mereview film-film terhebat dan paling membuka mindset saya akan dunia ini. Untuk perhatian saja, alangkah baiknya bagi teman-teman yang masih di bawah 18 jangan meneruskan membaca postingan ini. Bukan apa-apa, takutnya nanti malah jadi salah persepsi.

Film terkadang menyimpan beribu makna. Mengapa saya gemar sekali menonton sebuah film? Film tak ubahnya seperti mahakarya sang sutradara dalam menyampaikan suatu hal. Ada yang bagus dan mudah di terima akal, ada yang luar biasa dan harus dengan penuh pemikiran tertentu. Dan tentu saja banyak juga yang biasa-biasa saja. Jika music adalah pengantar pengetahuan melalui telinga dan perasaan. Maka film adalah jalan pengetahuan melalui mata dan pikiran.

Apa yang membuat sebuah film itu berarti? Bagi saya pribadi, esensi cerita yang baru dan diluar kehidupan normal adalah film terbaik, tentu harus dengan pembawaan yang baik. Berikut akan saya ulas film-film yang saya rekomendasikan bagi teman-teman yang berani open minded, tentu dengan tidak meninggalkan pegangan teguh yang telah menjadi prinsip dalam kehidupan teman-teman. Karena beberapa film ini adalah film “liar”

Continue reading “Belajar Open Minded dari Beberapa Film Liar”

Tetaplah menjadi Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia

Menulis di saat hujan seraya mendengarkan lagu, sungguh nikmat hidup dari-Mu

Saat-saat seperti ini membuat banyak pikiran melayang-layang. Yang menjadi tujuan utama dari pikiran ku yang serba melayang ini adalah menguapkannya dalam sebuah tulisan. Hari ini, aku putuskan saja untuk menulis dengan tema nasionalis. Dalam tulisan ini, fokus utamanya adalah penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Terutama bahasa Indonesia.
Baru tadi malam saya menemukan sebuah artikel bahwa 17 koma sekian persen rakyat Indonesia mampu 3 bahasa. Saya kecewa sekaligus bangga. Di artikel tersebut dijelaskan bahwa Indonesia menduduki nomor wahid akan kemampuan berbahasa banyak atau multilingual. Di susul dengan Israel dan Mesir kalau tidak salah. Dan negara paling tidak bisa berbahasa banyak adalah USA, UK, AUS, dan CAN. Wajar sajalah, mereka hanya dan hanya bisa menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-harinya. Continue reading “Tetaplah menjadi Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia”