Mencoba untuk Kembali

Mencoba untuk Kembali

Selamat Malam

Sudah sekian lama, sangat lama sekali saya tidak menulis di website yang saya bangun ketika saya mengalami susah-susahnya hidup ~ berlebihan. Pepatah bilang, orang bijak seringkali lahir dari orang-orang yang hidupnya susah (atau merasa susah). Namun sayang sekali, sampai sekarang saya belum juga menjadi orang yang bijak. Hehe

Sudah setahun lebih saya tinggal di Jakarta, dan tulisan saya yang terakhir mengenai uang receh yang entah kenapa, berhasil mencuat lagi, membuat saya tergugah untuk menghidupkan website ini lagi. Tulisan itu dibuat entah tahun berapa, terinspirasi oleh Ibu tercinta ketika masih di kampung halaman dulu. Sekarang saya sudah bekerja di Jakarta, sebuah kota besar namun penyakitan… Ah semoga saya betah…

Continue reading “Mencoba untuk Kembali”

Advertisements

Mengapa Dilahirkan bersama Ketidakberuntungan?

“Jika memang hidup ada dua bagian, yaitu orang-orang yang beruntung dan tidak beruntung. Mengapa aku dilahirkan di posisi yang kurang beruntung?”

Terkadang beberapa orang akan berpikir demikian, termasuk penulis pribadi. Melihat sahabat baik, teman, dan bahkan orang yang kita tidak suka, mengapa hidup mereka tanpa beban? Mengapa hidup mereka tanpa cobaan? Mengapa?

Sebenarnya titik terberat yang menyebabkan pertanyaan ini muncul adalah rasa tidak bersyukur. Namun jika berpatokan hanya pada itu saja, rasanya tidak puas. Jadi, mari menggunakan realita.

Continue reading “Mengapa Dilahirkan bersama Ketidakberuntungan?”

Sudah, Mencontek Sajalah!

Barusan saja, ada salah seorang teman posting display picture BBM yang bunyinya begini “Tanpa Sadar, Pendidikan yang Membesarkan Kita Adalah Pendidikan yang Memacu Kreatifitas Untuk Berbohong!”

Ya! Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang tua yang selalu menginginkan anaknya dapat nilai A+. Lalu kepada seluruh guru Indonesia yang “hanya” menghargai murid dari nilai yang didapat. Lanjut kepada para pejabat pembuat kebijakan pendidikan yang “seolah lupa” pentingnya nilai kejujuran karena mengejar yang namanya target nilai akademik. Dan terakhir, kepada seluruh murid Indonesia yang merasakan serba salah karena dilema akan pilihan “mencontek salah, tidak mencontek kalah.” Ya, kalau mereka semua baca tulisan di blog kecil ini sih.

Susah memang menjadi murid yang baik dan jujur di seluruh penjuru Indonesia ini. Namun lebih susah lagi jika tidak menjadi murid. Agar tidak egois, mari dengarkan cerita dari orang-orang di bawah ini. Continue reading “Sudah, Mencontek Sajalah!”

Ironi Pemuda-pemudi Indonesia

Pada saat saya menulis artikel ini, saya sedang menanti link asli yang akan dikirimkan oleh mas Ispon Yurano. Beberapa saat dia mengirimkan sebuah tulisan berbahasa Inggris yang mudah dipahami dan sangat menampar saya selaku rakyat Indonesia. Mengapa? Berikut saya ulas dengan saya utarakan pula pemikiran-pemikiran pribadi. Link asli akan saya berikan ketika mas Ispon sudah sukses mengirimnya. Tulisan di bawah adalah tulisan pribadi saya.

Kita semua memimpikan Indonesia menjadi maju? Mimpi itu hanya akan sekedar menjadi mimpi jika kita, rakyat Indonesia masih harus “mengembangkan” mentalnya.

Awalnya begini. Siapa sih yang tidak lelah dengan pemerintahan kita yang semerawut. Pemberitaan media yang massif akan berita buruk negeri ini. Politik yang saling serang dan para elit yang senantiasa haus kekuasaan. Muak rasanya bukan? Namun, kita semua lupa, mereka semua akan mati sendiri pada akhirnya. Iya, mati. Mereka yang tetap berintegritas akan mati meninggalkan medali pahlawannya, dan mereka yang munafik akan mati meninggalnya busuknya kenangan. Continue reading “Ironi Pemuda-pemudi Indonesia”

Kebahagiaan, Apakah harus Cari dan Buang Begitu Saja?

Untuk apa kita berjuang selain untuk meraih kebahagiaan yang haqiqi. Dan untuk apa kita bersyukur selain menghindari rasa tidakpuas diri tiada henti?

Mas Widyan memang benar. Kekayaan memang tidak selamanya menunjang sebuah kebahagian. Saya menemukan bentuk paling simpel dari sebuah kalimat bahwasanya apa gunanya kaya jika tidak bahagia.

Setahun di Manado, saya merasakan suatu yang bisa dikatakan upgrade dalam hal lingkungan keadaan tinggal. Tempat saya tinggal yang berada di Jalan Mangga II, merupakan sebuah kost yang sangat lengkap fasilitasnya. Kamar yang nyaman serta bersih. Fasilitas rumah kost yang lengkap seperti kulkas, TV kabel, alat dapur, dan apapun lainnya.

Continue reading “Kebahagiaan, Apakah harus Cari dan Buang Begitu Saja?”

Tetaplah menjadi Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia

Menulis di saat hujan seraya mendengarkan lagu, sungguh nikmat hidup dari-Mu

Saat-saat seperti ini membuat banyak pikiran melayang-layang. Yang menjadi tujuan utama dari pikiran ku yang serba melayang ini adalah menguapkannya dalam sebuah tulisan. Hari ini, aku putuskan saja untuk menulis dengan tema nasionalis. Dalam tulisan ini, fokus utamanya adalah penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Terutama bahasa Indonesia.
Baru tadi malam saya menemukan sebuah artikel bahwa 17 koma sekian persen rakyat Indonesia mampu 3 bahasa. Saya kecewa sekaligus bangga. Di artikel tersebut dijelaskan bahwa Indonesia menduduki nomor wahid akan kemampuan berbahasa banyak atau multilingual. Di susul dengan Israel dan Mesir kalau tidak salah. Dan negara paling tidak bisa berbahasa banyak adalah USA, UK, AUS, dan CAN. Wajar sajalah, mereka hanya dan hanya bisa menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-harinya. Continue reading “Tetaplah menjadi Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia”

Hukum Theis atau Atheis, dan Kebohongan 2+2=5

Kebohongan yang masif lama kelamaan akan menjadi suatu kebenaran apabila orang-orang mulai mempercayai kebohongan tersebut

Bahasan kali ini agak berat memang. Semua konten dari tulisan ini adalah opini pribadi saya. Sebagaimana isi tulisan-tulisan lainnya yang menjadi tanggung jawab saya. Kali ini akan dibahas mengenai pergeseran mindset para pemuda-pemudi.

Sebenarnya kebenaran paling mutlak dalam pandangan saya adalah agama atau kebenaran theis. Tetapi ditulisan ini tidak membahas mengenai agama sedikitpun karena kapasitas saya belum seorang yang berkemampuan baik dalam hal agama. Maka sebagai gantinya akan saya suguhkan dengan istilah yang mudah dipahami. Yaitu suatu kebaikan dan keburukan. Yaitu suatu kebenaran dan kebohongan. Di samping itu saya juga akan menggunakan istilah orang timur dan orang barat, tanpa mengubah dan menjelekkan kebaikan yang dihasilkan oleh keduanya.

Continue reading “Hukum Theis atau Atheis, dan Kebohongan 2+2=5”