Ibu, Amel, dan Kebodohan yang Telah Kuperbuat.

Jadi, hujan tak kunjung reda, namun rasa lapar ini tak bisa dikompromikan lagi. Oke kalau gitu, saatnya ambil payung dan pergi ke tempat makan. Kali ini aku memilih KFC saja. ~ Seperti biasa, KFC adalah opsi terakhir jika sudah bingung mau makan apa.

Suasana Jakarta memang sering hujan akhir-akhir ini. Entah apa yang menyebabkannya. Apakah kesedihan orang-orang yang berpadu dengan pengharapan yang menyebabkan itu semua? Ya, hujan pada dasarnya membawa cerita-cerita unik ditiap bulir nya.

67ADC052-9B2B-4CAF-839B-B660A1148ABB[1]
Hujan yang membawa cerita di setiap butirnya ~ Eaaa
Menerobos hujan adalah perkara gampang, tapi menahan lapar, itu tidaklah gampang. Setibanya di KFC, seperti biasa, antre di kasir dan pemesanan adalah perkara wajib. Aku tak mengamati jelas siapa dua orang di depan ku ini. Karena aku fokus berpikir pada menu apa yang akan aku pilih malam ini. Untuk mengusir jauh semua rasa lapar yang tak mengenakkan ini. Oke wingers dan cream soup.

Setelah mendapatkan pesanan, dan siap makan, aku pilih tempat duduk yang nyaman. Tepat didepanku adalah seorang Ibu dan Anak yang sedang bercakap-cakap dan sesekali ada senyum dari Ibu tersebut. Ah, itu mereka yang tepat didepanku tadi ketika mengantre. Aku pun melanjutkan menyantap cream soup ku sedikit demi sedikit, seraya mengamati mereka.

Karena mereka berdua tepat didepanku, dengan posisi si Anak Perempuan yang membelakangiku dan Ibu yang berhadapan denganku, aku tahu jelas bagaimana ekspresi dari keduanya ~ ekspresi anaknya terlihat dari gestur punggungnya yang naik turun.

Aku kemudian sadar, mereka hanya memesan satu makanan, dikombinasikan dengan fakta yang ada dalam hati “seingatku tadi Ibu tersebut memesan satu paket ayam saja, lalu Ibu itu tidak makan ya?”

Kemudian aku mengemati lagi mereka. Iya, Ibu tersebut senyum kepada anaknya. Tulus, sambil sesekali aku curi dengar mereka, “Udah makan aja, mamah udah makan tadi”. God, melihat mereka sangat amat membuatku tidak nyaman. Aku melanjutkan memakan cream soup ku dan tetiba lupa aku punya wingers yang harus aku makan juga. Aku fokus kepada mereka berdua, sesekali melihat Ibu tersebut mencuil krispi ayam dari anaknya tersebut. Sambil mendengarkan cerita anaknya yang entah apa, aku mendengar mereka sayup-sayup.

Momen mereka membuatku amat tidak nyaman, dan tidak fokus makan. Pikiranku liar kemana-mana melihat mereka. Aku amati, Ibu tersebut mengenakan daster dan sandal alakadarnya. Begitu pula anaknya, mengenakan pakaian alakadarnya. Tidak ada kemewahan yang terlihat diantara mereka. Apalagi Ibu nya, sangat biasa sekali penampilannya. Semakin membuat aku tak nyaman, jika harus makan di depan mereka.

Aku memberanikan diri, kuletakkan semua bawaanku dalam baki, dan aku berdiri, menghampiri mereka, kemudian bertanya “Bolehkah saya bergabung? Saya tidak ada teman di sana.” Sambil menunjuk tempat dudukku sebelumnya.

Ibu tersebut dengan senyumnya yang indah, membolehkan ku untuk bergabung bersama mereka. Anaknya yang masih kecil tersebut hanya tersenyum saja, sambil bergeser sedikit mempersilahkan aku duduk.

“Ibu kenapa tidak beli makan? Kok cuman satu?” Pertanyaan konyol tersebut aku lontarkan begitu saja.

“Tidak mas, saya sudah makan” Jawab Ibu tersebut sambil tersenyum.

“Adek namanya siapa?” Tanyaku kepada Anak Perempuannya.

“Amel.” Singkat, dan kemudian tersenyum.

“Kasian tuh bu, Amel makan masak diganggu..” Aku menghakimi Ibunya karena berani-beraninya mengambil krispi ayam milik Amel. “Ibu mau aku pesankan juga? atau Ibu mau ini?” Akupun menawarkan wingers-ku yang masih utuh. Aku sambil berharap, semoga tidak ada kesombongan yang muncul dalam diriku untuk saat ini. Karena, sungguh bukan saatnya sombong tersebut muncul.

“Gak usah mas, Ibu tadi sudah bilang ke Amel juga kok kalau Ibu sudah makan 2 mangkuk soto” Jawabnya.

Ah, Ibu ini pasti berbohong. Jawaban klasik kepada anaknya agar dia mau makan. Kemudian aku beranjak, dan ijin kepada mereka, mau memesan sesuatu. Tak lupa aku bilang ke Amel untuk menungguku, jangan habiskan dulu makanannya sebelum aku balik. Amel hanya tertawa.

Aku pesan wingers lagi satu paket. Kali ini take away. Beberapa saat kemudian aku bergabung lagi dengan mereka. Dan aku berikan wingers take away tersebut untuk Ibu. Spontan, Ibu tersebut berterima kasih.

Kemudian kami bercakap-cakap. Bercerita di mana Ibu tersebut tinggal. Berapa usia Amel, sudah kelas berapa, dan apa aktivitas Ibu saat ini. Semakin aku bertanya, aku semakin merasa malu. Bersalah. Sikapku salah kepada mereka. Aku terlalu arogan menghakimi orang. Ampun. Aku seketika ingin beranjak pergi karena sebenarnya aku malu. Tapi sikap Ibu tersebut sangat bijaksana, tidak memojokkan posisiku yang sedang salah ini. Begitu pula Amel. Anak yang baik, tidak arogan sepertiku. Bahkan dia membuat posisi ku lebih baik.

Ada apa gerangan?

Sebuah pepatah populer bilang, “Jangan lihat buku dari cover nya”

Ketika aku mengurai satu persatu cerita dari Ibu tersebut, di saat yang sama aku telah salah orang menilai orang. Argh, kenapa aku bisa seceroboh ini. Ibu tersebut ternyata tinggal di sekitar sini. Bukan orang perantauan juga. Ketika aku bertanya, aktivitas beliau apa, Ibu tersebut tahu betul apa yang aku maksud. Ibu tersebut menceritakan kalau aktivitasnya seperti layaknya Ibu biasa. Penghasilannya didapat dari pensiunan suaminya, seseorang yang dulunya bekerja di Pelayaran, namun sudah meninggal. Aku merasa, waduh,. Namun di saat yang sama, batinku tetap tak mau mengalah, bersikukuh merasa aku masih di posisi yang benar. Merasa benar meski telah menghina mereka dengan membelikan sepaket wingers.

Kemudian cerita berlanjut ke aktivitas Amel yang saat ini sedang siap-siap menghadapi Ujian Nasional. Ibunya juga bercerita, Amel tipikal anak yang susah makan. Itulah alasan mengapa mereka ke sini. Ibu Amel juga tipikal Ibu yang sangat protektif dan sangat menyayangi anaknya, apalagi Amel adalah satu-satunya anak yang Ibu punya. Ditambah setelah sepeninggalan Ayahnya. Cerita berlanjut, kenapa Amel tidak mau makan, padahal di rumah juga sedang ada arisan keluarga dan banyak makanan. Tuhan, aku merasa penilaian ku kepada mereka, benar-benar kacau. Aku tak sanggup menahan malu, aku hanya mengangguk-angguk. Lalu berlanjut ke cerita bagaimana sekolah Amel. Baru-baru saja Amel dibelikan Laptop untuk keperluan ujian CBT. Sekali lagi. Aku ditampar oleh mereka berdua.

Karena kepalang error, aku berkata kepada mereka “Amel dan Ibu kalau mau duluan, duluan aja..”. Berhubung Amel sudah selesai makan dari tadi, sementara wingers ku masih banyak.

“Gak apa-apa mas. Nunggu mas juga..” Jawab Ibu

Ya sudah. Aku melanjutkan makan. Kami bercerita satu sama lain. Begitu pula Amel. Padahal pikiranku sudah kacau.

Beberapa saat kemudian, kami berpamitan. Ibu dan Amel pergi sambil mengucapkan terima kasih, dan tentu saja, membawa wingers yang telah aku pesankan tadi. Sementara aku tinggal di KFC. Tidak berani keluar bersama mereka.

Kemudian aku duduk sendiri. Tertawa. Apa yang sebenarnya telah aku lakukan? Kenapa aku begitu cepat menilai orang. Aku pikir Ibu dan Anak tadi adalah dua sosok melow yang sedang butuh pertolongan. Ternyata bukan. Sebenarnya akulah yang butuh pertolongan. Begitu baper melihat mereka. Interprestasi langsung atas kerinduanku kepada Ibuku di kampung ~ Perasaan ini juga aku utarakan secara jujur kepada Ibu dan Amel, karena memang melihat mereka bedua, aku ingat Ibuku di kampung. Dan Ibu Amel memberikan support yang cukup baik.

Aku melanjutkan, ritual menertawakan diri sendiri. Jadi sebenarnya, Ibu dan Amel tersebut adalah orang ber-punya juga. Mereka bahkan sempat memiliki tanah di tempat elit ini namun kemudian dijual dan pindah ke kampung sebelah yang tak cukup jauh. Problema Ibu dan Anak yang sedang sharing sepiring berdua adalah murni kasih sayang diberikan dan Ibu yang memang sudah kenyang. Bukan kejadian melow seperti yang aku pikirikan di awal. Aku tetap melanjutkan, menertawakan diriku.

Kemudian aku merasa beruntung.

Ibu tadi begitu baik. Begitu juga Amel. Mereka berdua menerima kebaikanku yang salah sasaran tersebut. Tetap humble meski harkat dan martabatnya mungkin aku injak-injak. Tetap merasa di bawah ketika mungkin aku menyombongkan diri. Namun, Ibu tersebut mengajarkanku secara langsung dengan isyarat senyum-senyumnya yang tulus, untuk tetap menolong orang. Mungkin kali ini harus lebih baik lagi melakukan penilaian kepada seseorang. Ibu dan Amel tetap bersikap fair. Tidak membuatku malu bukan kepalang. Andai saja mereka secara frontal berkata, “Mas aku ini bukan gembel”. Bisa mati semua kebaikan yang aku tanamkan di awal.

But She is like an angle. Mengajarkan dua hal sekaligus. Tetaplah peduli kepada orang lain, dan tetaplah menolong dengan tulus. Mereka memberikan pengajaran, untuk tetap menjaga perasaanku, untuk selalu merasa tidak nyaman ketika melihat orang-orang dalam posisi mereka (seperti penilaian awalku terhadap mereka). Dan, Ibu tersebut dengan kebaikan hatinya, meninggalkanku dalam posisi orang yang berguna, dengan selalu mengucapkan terimakasih atas pemberianku (meskipun sebetulnya dia juga mampu membeli sendiri wingers tersebut -___-)

Ibu tersebut mengajarkan juga, untuk tidak sombong meski dalam posisi ber-punya. Seperti hanya mengenakan daster. Tetap berterima kasih, tersenyum, dan menghargai tiap usaha dan kebaikan orang yang diberikan kepadanya, meski sebenarnya tidak membutuhkan. Mengapresiasi usahaku untuk berusaha menjadi orang baik, alih-alih menghakimi atas kesalahan penilaianku kepada mereka. Bahkan, Amel pun mampu menahan diri untuk tidak menertawakanku.

Sungguh, meskipun begitu, aku hanya bisa tertawa dengan kelakuanku malam ini.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s