Karena keangkuhan dan sikap tidak menghargai uang akan datang jika hidup mulai berkecukupan, sementara kita tidak merasa mengimbanginya dengan kerja keras.

Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya. Tertohok dan membuat saya berpikir ulang mengenai standar dan pola pandang saya terhadap kekayaan itu sendiri. Dalam hal ini cara pandang saya terhadap nilai uang.

Entah mengapa? Nilai 10.000 yang dulu merupakan uang yang cukup besar, sekarang menjadi tidak begitu berharga. Bukan, bukan karena kebutuhan yang makin meningkat, karena status saya dari SMA hingga sekarang masih lajang dan bebas tanggungan. Tetapi anehnya, uang bernilai 10.000 membuat saya berpikir “kok cuma segini sih?”

Sebenarnya apa yang salah?

Banyak yang harus saya pelajari. Dan baru hari ini saya menemukan jawabannya ketika Ibu saya menerima uang 10.000 rupiah atas jasanya membuat kerajinan bambu berbentuk bintang. Saya dengan tidak sengaja berkata “Lah? Cuma sepuluh ribu?”. Karena saya pikir, membuatnya saja cukup sulit dan butuh skill khusus. Ya meskipun hanya habis modal 3000 rupiah untuk membeli lem dan kertas doang sih. Tapi tetap saja? Really? 10.000?

Saya kemudian mencoba mengkoreksi diri. Karena Ibu saya justru tidak berharap diberi lebih. Melainkan sangat menghargai uang itu beserta nilainya. Kemudian saya berkata kepada Ibu. “Kok, saya jadi tidak begitu menghargai nilai 10.000? Maksud saya, buat apa uang 10.000?” Saya berpikir keras. Mengapa saya sekarang begitu sombongnya.

Ibu memberikan jawaban yang sangat masuk akal.

“Jika kamu bekerja seperti Ibu, mendapatkan uang senilai 500, 1000, 2000 rupiah dari anak-anak SD. Kamu akan menghargai nilai uang sesungguhnya.”

Saya terdiam.

Itu benar sekali. Saya menemukan titik terangnya. Saya tidak menghargai nilai uang karena untuk mencari jumlah uang yang di maksud, saya tidak perlu melakukan perbedaan cara juang di tiap nilainya. Maksudnya, Ibu benar-benar melakukan hal yang berbeda, ketika Ibu ingin mendapatkan nilai 500 dan ingin mendapatkan nilai 2000 rupiah. Sementara saya? Tidak.

Seorang pengusaha, akan menghargai setiap nilai dari uang yang didapat karena dia senantiasa berpikir bahwasanya “harus melakukan hal yang berbeda untuk mendapat tiap nilai uang yang berbeda pula”. Untuk mendapatkan uang lebih, dia harus bekerja lebih. Itulah mengapa, seorang pengusaha memiliki mental ulet dan senantiasa kaya. Karena seringkali bersyukur. Sementara mereka yang pegawai?

Pegawai seperti saya, mendapat angka pasti yaitu sebuah gaji tiap awal bulan. Tidak peduli apakah bulan tersebut saya bekerja dengan keras, atau dengan tak ikhlas. Tidak peduli! Inilah letak alasan utama mengapa saya tidak begitu menghargai nilai uang. Karena baik saya bekerja dengan keras, ataupun tidak, tiap bulan, pasti saya akan mendapatkan gaji yang nilainya tetap. Sungguh ironis memang. Tapi begitulah kenyataannya.

Lalu bagaimana solusinya agar saya dapat menghargai nilai uang itu sendiri?

Mari saya simpulkan dalam sudut pandang saya sendiri. Untuk menghargai nilai uang, haruslah kita memiliki pola pandang seorang pengusaha. Sementara saya seorang pegawai. Maka, saya harus merasakan susahnya bekerja seperti pengusaha. Jangan justru santai-santai ria. Kalau dalam kamus saya dan teman-teman, namanya adalah mencari penyakit. Mencari penyakit di sini maksudnya adalah menabung nilai negatif karena cara bekerja kita tidak sepadan dengan nilai gaji yang kita terima. Simpelnya, gaji kita 800.000, tetapi bekerja kita seperti pengusaha berpenghasilan 50.000. Justru hal yang seperti inilah yang membentuk karakter kita yang mana kita tidak menghargai nilai uang.

Apa hukumannya?

Tentu saja hal negatif akan berdampak negatif pula. Maka hukuman yang akan diterima pertama kali adalah munculnya sifat hedon dan konsumtif dalam diri. Serta rasa haus dan angkuh akan nilai uang akan mengekor di tiap bulannya saat kita menerima gaji buta tersebut.

Mengapa itu sebagai hukuman?

Tentu saja. Tidak menghargai nilai uang adalah bentuk hukuman paling mutlak bagi mereka yang bekerja malas tapi bergaji seluas luasnya. Mereka dan mungkin saya, akan menjadi tamak dan senantiasa merasa kurang, karena tidak pernah menghargai nilai uang itu sendiri. “Halah! 10.000 dengan perjuangan susah selama dua hari buat apa? Saya duduk dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore bisa dapat 60.000.” Begitulah mental tamak dan kurang. Apa yang terjadi? Tentu saja, akibat nomor satu dari tidak menghargai nilai uang dan kerja keras adalah munculnya sikap Hedon dan/atau konsumtif.

Apa bagusnya bersifat konsumtif? Justu membawa penyakit bukan? Apalagi bagi mereka yang tidak tahu betapa pentingnya uang untuk hal-hal kebaikan. Istilah kasarnya, colaps karena uang! Naudzubillah.

Itulah mengapa mungkin pengusaha menjadi prioritas utama kemajuan bangsa. Karena setiap pengusaha akan menghargai setiap perjuangannya. Mungkin demikian.

Solusinya?

Solusi terbaik yang ditawarkan adalah buatlah diri ini, termasuk saya, merasa sangat lelah dalam pekerjaan. Lelah dalam artian positif. Lelah karena bekerja keras dan memantaskan diri. Menjadikan setiap jam nya bernilai seperti layaknya para pengusaha. Artinya, saat gajian, uang saya diterima sangat sepadan dengan kerja yang kita lakukan. Maka rasa bersyukur akan muncul dengan sendirinya. Maka, penghargaan terhadap nilai uang yang kita terima akan datang. Maka, setiap rupiah yang kita gunakan akan nampak membanggakan dan bermanfaat.

Tidak ada salahnya kok bekerja lebih keras. Insya Allah. Karena setiap nilai lembur dan perjuangan lebih kita digantikan dengan hal positif oleh Tuhan. Mungkin hal pertama yang Tuhan bayarkan kepada kita adalah rasa tenang hati, syukur, dan menghargai tiap rupiah yang didapatkan. Karena sebaik-baiknya pekerjaan adalah yang bernilai syukur, menenangkan hati, dan bermanfaat kepada sesama. Ini belum termasuk hadiah-hadiah lain dari Tuhan karena kita bekerja keras dan penuh manfaat.

Semoga saya senantiasa memantaskan diri dengan penghasilan yang saya terima. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s