Mengapa Dilahirkan bersama Ketidakberuntungan?

“Jika memang hidup ada dua bagian, yaitu orang-orang yang beruntung dan tidak beruntung. Mengapa aku dilahirkan di posisi yang kurang beruntung?”

Terkadang beberapa orang akan berpikir demikian, termasuk penulis pribadi. Melihat sahabat baik, teman, dan bahkan orang yang kita tidak suka, mengapa hidup mereka tanpa beban? Mengapa hidup mereka tanpa cobaan? Mengapa?

Sebenarnya titik terberat yang menyebabkan pertanyaan ini muncul adalah rasa tidak bersyukur. Namun jika berpatokan hanya pada itu saja, rasanya tidak puas. Jadi, mari menggunakan realita.

Jika kita berani sekali saja menanyakan kepada mereka, orang-orang yang kita pandang senantiasa hidup berkecukupan, bahagia, mendapat segalanya, dan keadaan sempurna lainnya. Kita akan mendapatkan jawaban mereka. Namun, terkadang, banyak orang yang tidak pernah menanyakan pertanyaan “apa yang membuat hidupmu sungguh berat?” kepada orang lain. Jikapun sudah bertanya, tidak semua orang akan mau menjawabnya.

Jika saya katakan hidup semua orang itu sama berat. Pasti banyak juga yang tidak setuju karena realitanya, tidak semua orang nampak hidupnya berat untuk dijalani.

Pikiran memang selalu mengarahkan pada posisi yang tidak mengenakkan diri sendiri. Karena pada hakekatnya manusia tak pernah puas. Tak dapat dipungkiri, kehidupan manusia memang ada yang tidak beruntung, namun ada pula yang sedikit tidak beruntung. Hanya perbedaan kecil sebenarnya. Dan perbedaan itu datang akibat pikiran manusia itu sendiri. Karena, Tuhan sudah mutlak memastikan, tak ada yang membedakan kehidupan manusia kecuali amal perbuatan.

Lalu, apakah wajar jika kita merasa, “kita ini termasuk orang-orang yang cukup dan bahkan sengsara?”

IYA. WAJAR.

Terkadang, kehidupan memang tidak adil. Orang-orang yang ingin berubah akan mencari tahu mengapa demikian. Orang-orang yang tak mempunyai iman akan berkata Tuhan tidak adil. Orang-orang yang tak bersyukur, akan mengumpat di tiap langkah kehidupannya. Hidup memang tidak adil. Bukan karena Tuhan. Tetapi karena sesuatu yang tidak tahu pasti apa yang menyebabkannya. Dan kita harus mencari tahu.

Pesan dari mereka yang masuk kategori beruntung, adalah mencoba untuk selalu bersyukur. Iya, bersyukur adalah cara paling jitu untuk menaikkan rasa puas kita akan kehidupan. Di samping itu, bersyukur akan mendekatkan kita pada Tuhan dan menaikkan derajat ketanangan hati yang ada dalam diri kita. Sudah sering saya pribadi tulis dan bagikan, bagaimana dahsyatnya rasa syukur dan efek yang dihasilkannya.

Namun beberapa orang akan berteriak, “Ya kalau cuman ngomong bersyukur, bersyukur, dan bersyukur sih gampang. Anak TK juga bisa.”

Kalau begitu, lakukanlah sesuatu. Jika mencoba bersyukur saja tidak cukup. Maka lakukan apa yang seharusnya dilakukan. Yaitu mencari tahu. Apakah hidup ini adil? Apakah semua orang merasakan masalah yang sama besar, mesti berbeda? Pasti jawabannya Iya.

Namun, tidak perkara mudah untuk seseorang berbagi detail masalahnnya. Apalagi masalah yang membuat hidupnya nampak sengsara. Tidak. Itu bukan hal yang mudah.

“Jika melakukan hal itu saja susah? Apa yang harus aku lakukan?”

Pertama, merasa tidak adil akan hidup adalah perkara yang wajar. Akan menjadi ketidakwajaran jika kita menyikapinya berlebihan. Hal ini tentu akan menyebabkan rasa tidak puas diri berlebihan. Dan yang paling parah dan sangat dilarang, adalah menghakimi Tuhan. Jangan sampai kita melakukan hal bodoh ini. Kita harus senantiasa mengingat, meski hidup kita merasa tidak beruntung, sebenarnya, mereka yang beruntung pun memiliki masalah terberatnya, dan menjadikannya orang yang tidak beruntung. Namun, kendala banyak orang adalah ketidaktahuan masalah yang dimiliki tiap-tiap orang. Itulah mengapa timbul statment, hidup tidak adil, hidupku tidak beruntung, dsb.

Kedua, mencoba mempelajari tiap detail kehidupan orang lain. Mulai dari mereka yang kita anggap beruntung atau tidak beruntung. Hal ini merupakan perkara yang cukup sulit dan membutuhkan waktu yang cukup banyak. Membutuhkan teman-teman yang senantiasa suka berbagi dan saling mengerti. Hal ini akan membuka pola pikir kita dan pandangan baru mengenai kehidupan. Luar biasa dampaknya, luar biasa pula belajarnya. Dengan demikian, kita akan sadar, semua orang memiliki masalahnya masing-masing. Baik orang yang beruntung, dan tidak beruntung. Karena hidup itu menyelesaikan masalah, karena hidup itu berjuang.

Ketiga, bersyukur. Satu-satunya cara yang menenangkan hati adalah bersyukur. Baik mereka yang beruntung dan mereka yang tidak beruntung harus senantiasa bersyukur. Karena syukur adalah bentuk pertama yang dibutuhkan untuk mengerti, dan saling mengerti. Perkara yang mudah, namun cukup sulit untuk selalu memantapkan hati untuk selalu bersyukur.

Banyak dari mereka yang mungkin kita kategorikan orang yang beruntung berkata, “Saya pribadi ada masalah yang tidak bisa saya ceritakan. Tidak bisa saya tampakkan apa masalahnya. Saya pribadi meskipun berkecukupan, beruntung, dan apalah, juga masih belum bisa menyelesaikan masalah ini. Masih belajar. Yang penting bersyukur saja.”

Nah, tulisan ini mungkin tidak memiliki titik penyelesaian yang jelas. Karena masalah ini menyangkut pola pikir masing-masing orang. Dan memiliki bentuk penyelasaian yang berbeda-beda. Namun satu yang mutlak, belajarlah, dan bersyukurlah…

ps : orang orang beruntung adalah orang yang lahir dalam keadaan berkecukupan, penuh hormat, tampan/cantik, atau keadaan beruntung lainnya yang mana kita tidak meminta atau diberi.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s