Sudah, Mencontek Sajalah!

Barusan saja, ada salah seorang teman posting display picture BBM yang bunyinya begini “Tanpa Sadar, Pendidikan yang Membesarkan Kita Adalah Pendidikan yang Memacu Kreatifitas Untuk Berbohong!”

Ya! Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang tua yang selalu menginginkan anaknya dapat nilai A+. Lalu kepada seluruh guru Indonesia yang “hanya” menghargai murid dari nilai yang didapat. Lanjut kepada para pejabat pembuat kebijakan pendidikan yang “seolah lupa” pentingnya nilai kejujuran karena mengejar yang namanya target nilai akademik. Dan terakhir, kepada seluruh murid Indonesia yang merasakan serba salah karena dilema akan pilihan “mencontek salah, tidak mencontek kalah.” Ya, kalau mereka semua baca tulisan di blog kecil ini sih.

Susah memang menjadi murid yang baik dan jujur di seluruh penjuru Indonesia ini. Namun lebih susah lagi jika tidak menjadi murid. Agar tidak egois, mari dengarkan cerita dari orang-orang di bawah ini.

“Sebagai orang tua yang baik, pendidikan adalah perkara penting. Jenjang pendidikan yang baik sangatlah kami inginkan. Kami sangat menyayangi anak-anak kami. Maka harga yang harus kami bayar adalah mendukung anak kami untuk belajar dan belajar. Tidakkah kau tau, mau masuk sekolah bagus itu harus mendapatkan nilai yang bagus pula. Maka dari itu, kami menyuruh dengan keras agar anak-anak kami selalu mendapat nilai yang bagus. Nilai yang bagus itu penting untuk kedepannya. Dengan nilai yang bagus, anak kami bisa dengan tenang melangkah ke sekolah lanjutan yang lebih baik. Kami percaya pada anak-anak kami bahwasanya mereka harus bisa. Harus.” Kata sebagian besar orang tua Indonesia.

“Sebagai seorang guru, tentu saja sangat bertanggung jawab akan pendidikan siswanya. Sangat mengesalkan jika ada beberapa murid yang nilainya selalu di bawah standart. Selain membuat pusing akan tanggung jawab kepada orang tuanya. Kami juga dibuat pusing akan laporan kepada atasan akan hasil yang didapatnya. Nama baik kami dan sekolah seolah sudah menjadi taruhannya. Maka dari itu, kami berusaha semaksimal mungkin agar tidak ada lagi nilai-nilai buruk di seluruh murid kami. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menghasilkan murid-murid dengan nilai yang baik pula. Dengan begitu mereka bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih baik. Orang tua mereka senang, nama sekolah pun tetap tenang. Itu semua tentu dipengaruhi oleh kerja keras kami dalam mengajar dan mendidik seluruh murid untuk mendapatkan nilai yang baik” Kata sebagian guru di Indonesia

“Bangga rasanya 99,99% murid Indonesia lulus dari jenjang pendidikan terakhirnya. Padahal kami telah menerapkan standart yang tinggi akan kualitas nilai yang di dapat. Itu artinya, pendidikan kita semakin ke sini semakin baik. Sistem pendidikan yang baik akan mengantar masa depan bangsa dan Negara yang baik pula. Untuk itu, diharapkan seluruh murid Indonesia harus mempertahankan prestasi ini. Tahun depan akan kami kaji ulang mengenai standart mutu pendidikan. Kalau bisa, standart kelulusan dinaikkan agar tercipta mutu pendidikan yang berkualitas Kata sebagian pembuat kebijakan pendidikan di Indonesia.

Tak bisa dibantah, tujuan mulia di atas sangatlah harus didukung. Namun tujuan itu jadi salah kaprah karena tidak dibarenginya dengan cara-cara yang jelas untuk mencapai tujuan mulia tersebut. Semua cara dipasrahkan kepada para murid di seluruh penjuru negeri. Tujuan yang mana? Mari kita simak curhatan murid Indonesia di bawah ini.

Saya benci sekolah. Saya benci akan diri saya sendiri. Jika bukan karena teman-teman yang selalu menghibur, sekolah adalah neraka bagi saya. Dulunya, saya tipikal orang yang memegang teguh kejujuran. Ulangan harian, Ujian, dan semacamnya adalah cobaan terberat dalam hidup saya. Bagaimana tidak? Soal-soalnya kadang membuat gatal untuk membuka buku secara diam-diam. Contohnya saja begini, “Jelaskan pengertian XYZ menurut professor ABC!”. Duh, jawaban dari soal ini ada di halaman 78. Saya hanya memamahinya saja, tidak menghafalnya.

Saya masih kuat, kuat untuk tidak membuka buku diam-diam, lalu menjawab sebisa saya. Tetapi melihat teman-teman yang lain pada membuka buku diam-diam? Ya Allah, cobaan sekali itu. Mereka enak sekali bisa menyalin dengan persis sementara saya pusing mengarang. Kemudian saya melihat guru saya dengan penuh harap, justru malah sakit yang saya dapat. Guru saya kok diam saja, padahal dia nyata-nyata tahu kalau si A itu sedang buka buku? Apa saya ikut buka saja ya? Toh guru juga bersikap acuh.

Tidak! Saya pasti kuat. Saya pun melanjutkan menjawab soal dengan ilmu menerka-nerka. Hampir dari semua soal ini benar-benar menyebalkan. Jawabannya bukan murni dari pikiran pribadi, tetapi ada di buku semua. “Sebutkan syarat X!” Ini ada di halaman sekian. “Sebutkan ciri-ciri W” Ini ada dihalaman sekian. Duh mereka yang membuka buku pasti hampir benar semua. Sedangkan saya, apesnya, hanya paham garis besar dan sedikit terapannya. Alhamdulilah ada satu soal yang saya bisa. “Apa yang akan terjadi jika dimisalkan X bersatu dengan W sebagai akibat dari reaksi ABC?”. Dalam hati saya kegirangan dan berteriak “Mampus lu yang buka buku. Ini tidak ada dihalaman berapapun. Karena ini kan soal pemahaman. Bukan teori mutlak kayak tai itu!!”

Lanjut, lanjut dan lanjut. Ternyata soal pemahaman dan pengayaannya hanya 10%. Sisanya teori yang tinggal dihafal saja. Kalau tidak hafal masak iya harus buka buku saja. Bagaimana ini? Apakah saya juga harus buka buku? Teman-teman banyak yang buka buku, banyak juga yang tanya sebelahnya. Guru juga masih cuek saja. Duh,…

Jujur, Ingat JUJUR!!

Waktunya sudah habis. Ujian pun usai.

Pada saat pembagian hasilnya. Saya kena damprat guru karena nilai saya di bawah rerata kelas. Sakit hati rasanya. Apalagi guru saya berkata saya ini bodoh. Soal gampang-gampang begitu kok tidak bisa. Seolah saya tidak belajar apapun. Saya jadi bingung, definisi belajar itu menghafal atau memahami sih? Rasanya sakit hati sekali. Belajar saya, usaha saya, dihargai dengan harga “bodoh” karena nilai dibawah rerata. Masalah tak selesai disitu saja. Ketika meminta tanda tangan ke orang tua, saya juga mendapat marah karena nilai ini. “Tidak becus sekolah! Kenapa nilainya jelek? Mau jadi apa kalau nilai saja dapat segini!” Ya Allah, saya sudah belajar, tetapi kenapa jadi begini?

Hari berganti hari. Ujian selanjutnya diselenggarakan. Kali ini saya mencoba fair. Bermain cara baru. Yaitu mengikuti trend terkini. Dan berhasil.

Saya mendapat nilai yang bagus. Ya jelas. Sebagian saya sudah hafal. Sebagian tinggal buka buku. Pemahaman itu tiada guna. Yang penting teorinya dapat dan hafal. Guru pun memuji atas kemajuan saya. Orang tua juga memuji atas kemauan untuk berubah saya. Dan saya pun tersenyum senang. Oh begini cara kerjanya. Ya sudah, toh juga semua orang melakukannya. Dan tidak ada larangan yang jelas. Teman-teman juga melakukan. Guru juga fine-fine saja. Orang tua juga senang. Jadi beginilah yang harus saya lakukan kedepannya.

Ujian dan Ujian berlanjut. Saya menggunakan cara ini untuk terus bertahan. Sampai akhirnya saya diterima di salah satu sekolah lanjutan terbaik. Orang tua saya sangat senang dengan hasil itu. Guru pun merasa nama baik sekolah terdongkrak karena banyak dari kami mampu tembus sekolah lanjutan bergengsi. Berita di TV pun bernada positif, Bapak/Ibu pembuat kebijakan senang karena angkatan kami lulus 99,99%. Semua senang, semua tenang.

Mari menghela nafas sejenak. Dari cerita murid di atas, rasanya sungguh ironi sekali. Tujuan dari guru tersebut tak lain dan tak bukan adalah nilai-nilai yang baik sehingga dia bisa dibilang berhasil dalam mengajar. Tujuan orang tua pun tercapai karena anaknya berhasil meraih nilai yang bagus. Tujuan siswa pun berhasil karena tidak kena marah oleh siapapun. Tetapi, apakah tujuan dari pendidikan itu sendiri bisa dikatakan berhasil?

Jawabannya TIDAK. Semua hanya PEMBOHONGAN DAN KEBOHONGAN.

Sudahkan kita belajar dari kisah seorang murid di atas? Dia berubah menjadi pencontek ulung karena keadaan dan tekanan dari berbagai pihak. Entah apa yang salah dan siapa yang salah. Saya belum pernah menjadi guru, orang tua, atau para pembuat kebijakan. Saya hanya seorang murid. Murid yang jadi pencontek ulung untuk sukses. Itulah mengapa bagian curhatan murid bisa saya tuliskan dengan lengkap.

Saya juga pernah jadi pecontek ulung. Salah seorang teman saya pernah kena marah gurunya karena dia ikut remedial. Dia pun menyampaikan unek-uneknya kepada saya alih-alih kepada gurunya, “Seharusnya guru A mengadakan ulangan di lapangan dan dikerjakan jujur, mari buktikan siapa yang layak dapat nilai tertinggi!” Mulai saat itu saya mencoba untuk jujur. Karena saya sendiri merasa malu dengan nilai-nilai yang saya dapat.

Awal-awal pertama jujur, hinaan dan cercaan datang dari berbagai penjuru. Hampir seluruh teman saya mengatai saya sok pintar, pelit, dan lain sebagainya. Tak sampai di situ, tentu saja nilai saya turun secara signifikan, karena biasanya saya mendapat lebih. Saya pun kena intograsi beberapa guru mengapa demikian. Orang tua pun menjadi kecewa akan penurunan ini. Berat sekali rasanya untuk jujur itu. Karena ketika kita mencoba untuk maju melalui jujur, yang lain justru menarik mundur kita melalui cercaan.

Sampai akhirnya saya baru merasakan pendidikan yang sebenarnya ketika kuliah. Kampus yang menerapkan zero tolerance untuk para pelaku contek mencontek. Sekali melakukannya, akan di drop out. Persainganpun terasa asyik. Nilaipun serasa membanggakan. Kreatifitas dalam menemukan pola belajar yang pas pun di dapat. Entah kenapa, dengan dapat nilai 47, kita jadi paham ternyata kita masih belum paham bagian yang ini, ini dan ini. Jadi harus dipelajari lagi.

Sekarang pertanyaannya, entah apa yang salah? Entah apa yang harus diperbaiki dari kompleksitas ini. Untuk itu mari berkaca… Siapa tahu mukanya jadi lebih ganteng dan cantik dengan kejujuran.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s