Tidak!! Pacar Saya kok Berkerudung sih…

“Kak, sekarang aku kalau keluar nggak pakai kerudung, rasanya malu” Begitulah bunyi BBM Isti tadi sore.

Tulisan kali ini murni opini pribadi. Karena ini website saya maka penanggung jawab tulisan ini sepenuhnya milik saya. Jika tidak setuju lontarkan di kolom komentar. Dengan senang hati saya akan menjawabnya. Mengapa? Karena tulisan ini mungkin dipandang aneh oleh banyak orang, dan bahkan mungkin dipandang omong kosong belaka. But, let it’s flow.. Toh semua bebas mau berkomentar apa.

Ketika pacar saya kirim BBM di atas. Ada dua hal yang saling bertarung dalam diri ini.

Rasa sedih datang karena saya juga lelaki yang ingin merasakan indahnya berdekatan dengan sang pacar. Pingin dong foto mesra dan gandeng tangan dia lagi seperti dulu. Ingin dong rangkul bahu dia dan ngacak-ngacak rambutnya itu. Ingin dong berduaan di motor jalan-jalan romantis gitu. Tanpa munafik dan dengan jujur saya ingin melakukan itu semua lagi. Seperti jaman SMK dahulu saat dia tidak mengenakan kerudungnya. Tanpa sungkan saya gandeng tangannya. Tanpa sungkan saya pergi keluar dengannya. Tanpa sungkan saya rangkul bahunya. Duh nostalgia zaman SMK itu sedih vroh.

Namun semua itu akan kupikirkan ulang berkali-kali karena kerudungnya. Bahkan saya sudah mengultimatum ke beberapa teman dekat, saya tidak suka dengan cewek berkerudung.
“Loh kok agan jadi nyalahin kerudung sih? Jadi agan pengen pacar agan gak pake kerudung gitu?” Kata pembaca.

Justru inilah mimpi saya yang terwujud. Kadang tersirat dalam benak saya yang paling polos waktu zaman SMK dulu. “Duh kapan ya Isti pakai kerudung. Dia cantik kalau pakai kerudung padahal.”. Dengan berkerudungnya dia, DERAJAT DIA SATU KALI LEBIH TINGGI DI BANDING SAYA.  Nah sekarang komplikasinya, saya jadi sedih karena semua hal yang seharusnya bisa saya lakukan di atas jadi hilang sudah.

Saya menghargai cewek berkerudung lebih dari apapun. Jika ada cewek berkerudung saya dekati, kemudian bilang “maaf mas, bukan mukhrim”. Duh, Masha Allah, adem sekali hati ini. Tidak bakal ada rasa tersinggung sedikitpun. Tak usah dijelaskan mengapa lah ya.. Karena semua orang puna opininya. Namun, jika ada cewek berkerudung, seperti kebanyakan teman saya, yang biasa saja berdekatan dengan cowok sebagai seorang teman. Ya sudah tidak masalah. Toh saya juga tidak bakal macam-macam dan bahkan berpikiran macam-macam… Karena banyak teman  dekat saya yang berkerudung.

Namun, ketika pacar saya berkerudung. Rasa-rasanya hati ini tak tega untuk mengajak dia kesana-kemari dengan tenang seperti jaman SMK dulu kelak. Karena apa? Karena saya punya tugas ganda. Yaitu tidak hanya menghargai dia saja, tetapi juga menghargai komitmen sucinya kepada Allah karena kerudungnya itu. Dan itu semua so complicated vroh…

Di sini saya menemukan sedikit jawaban sekaligus pertanyaan. Apakah ini saatnya ta’aruf? Kalau ta’aruf, kok rasa-rasanya aneh ya… Sama Isti jaga jarak karena kerudung, tetapi sama teman-teman lain biasa saja.

Nah, ini juga yang complicated untuk di jelaskan ke si pacar. Satu hal sih. Berhadapan sama seorang teman, dan berhadapan kepada si Isti itu beda.

Jika bersama seorang teman, rasa-rasanya terjadi pemisahan mutlak antara dosa-dosa kita berdua karena kita terlalu berdekatan misal. Tetapi kalau sama pacar, yang katanya bakalan jadi istri kelak, entah kenapa rasanya ikut bertanggung jawab atas harkat dan martabat dia, apalagi dosa-dosanya. Jika masih 19 tahun saja sudah bisa mencoreng kesucian hati dan kerudungnya, apa yang akan kulakukan selanjutnya? Entah kenapa, rasanya seperti Allah lebih mengawasi mereka-mereka yang berkerudung karena-Nya dari pada mereka-mereka yang tidak. Duh berarti saya lebih diawasi dong ya. Duh padahal Allah tahu saya pacarnya dia. Pasti Allah bakalan super duper mengawasi dong ya… Kan takut vroh. “Woy yan, jangan kau pegang tangan dia!” “Woy yan, jangan kau terlalu dekat dengan dia!”

Jadi, meskipun si pacar tidak bilang “mas bukan mukhrim”, ya saya selaku pacarnya harus tahu diri dong. Pacaran buat apa toh sebenarnya? Kan tujuan dari pacaran cuman latihan bertanggung jawab, percaya, berkomitmen dan saling menghargai saja. Selebihnya kan kayak teman biasa saja. Kalau pacaran dapat bonus macam-macam, ya itu mah mungkin udah kesepakatan mereka kali ya…

Nah, selanjutnya beda dengan teman. Berdekatan dengan seorang teman itu seolah-olah bunyinya gini,  “ya dosa-dosanya dia, maka urusan dia lah”. “Ini dosa juga dosa saya, ya biarkan saya yang membayarnya”. Allah pun mengawasi saya dan teman saya, tapi kan, dia bukan tanggung jawab saya kelak yang akan datang. Jadi fine lah. Selama dia tidak bilang “mas bukan mukhrim”, ya tidak masalah berarti. Secara tidak langsung, dosa yang kita tanggung sudah disepakati bersama dan tanggung jawab masing-masing. It’s simple, isn’t it?

Jadi intinya dari atas sampai bawah tuh gini nih. INGAT! INI PENDAPAT PRIBADI! Beban yang saya tanggung nih jadi lebih besar karena dia berkerudung. Kalau mau mengajak dia jalan keluar berduaan, bebannya jadi nambah dua. Yang pertama beban moril karena merasa tidak pantas berduaan dengan cewek berkerudung. Kedua, rasa tanggung jawab yang jadi nambah. Rasanya kok tidak tega ya mengajak dia berbuat dosa dengan berdua-duaan. Seolah kerudungnya itu selalu melirik langsung di depan saya. Jadi, yang mendasari ribetnya pemikiran saya tuh cuman satu. Rasa tanggung jawab saya kepada dia itu sudah muncul dari awal. Intinya, saya tidak mau ikut menyumbang akan dosa-dosa dia. Padahal ketika dia sudah saya nikahi kelak (amin), dosa-dosa dia yang dulu dan sekarang itu dipindahkan di beban saya. Kan ngeri vroh.

Eh, ini kok kayaknya susah banget sih dipahamin.

SUSAHNYA TUH KARENA SATU HAL. SAYA SUDAH TERLANJUR BERPACARAN DAN SANGAT MENGHARGAI DIA SEBAGAI MUSLIMAH, DAN BERPACARAN SESUSAI SYARIAT ISLAM ITU MENDEKATI MUSTAHIL. BAKALAN DIKETAWAIN SAMA ROSULULLAH DEH PASTINYA…

Eh, kok kamu sok alim gitu sih?

Saya bukannya sok alim. Saya ini mencoba sebaik mungkin hubungan ke sesama manusia. Karena meminta maaf kepada manusia itu lebih susah daripada meminta maaf kepada Allah yang Maha Pemaaf. Kalau dilain hari pacar saya merasa saya dzolimi, padahal dia DIposisi sudah lebih dekat dengan Allah lewat kerudungnya, duh bisa gagal masuk surga saya.

Lalu ini gimana saya sama pacar saya kelanjutannya?

Ya kalau tulisan ini sudah saya post di website ini, berarti saya sama pacar sudah memutuskan suatu perkara yang paling ruwet sepanjang 19 tahun ini yang katanya dinamakan CINTA. Terima kasih para pembaca ku…

Advertisements

4 thoughts on “Tidak!! Pacar Saya kok Berkerudung sih…

  1. Cerita klasik yang kalau drangkum dan disimpulkan menjadi -kira-kira- begini:

    Selalu ada 2 (dua) hal dalam diri manusia beriman (believer atau apapun istilahnya, yang pasti bukan atheis) yang selalu berkelahi. Ego dan kesadaran ilahi. Kata”ego” barusan adalah terjemah santai dari kata “hawa nafsu” dalam literatur Islam. Kesadaran ilahi adalah terjemah -yang juga asal-asalan- dari kata “iman”.

    Kedua “makhluk” ini selalu berkelahi. Cerita perkelahian ini selalu aktual sepanjang masa hingga hari kiamat. Jadi, cerita-cerita yang senada sudah ditulis dalam dan tetap akan ditulis dalam blog-blog selama satelit belum dihancurkan oleh alam nanti.

    Artinya, perkelahian ini menjadi sesuatu yang wajar dalam setiap per manusia. Tuhan juga menyadari itu. Saya tidak bermaksud sok tau tentang kondisi Tuhan. tetapi saya berani menyatakan itu karena Dia sendiri memperkenalkan dirinya dengan al-Ghaffar (Yang Penuh Maaf).

    Buat apa penuh menamakan diriNya denga nama “Yang Penuh Maaf (terhadap hambaNya)” jika hambanya tidak memiliki kesalahan yang diakibatkan oleh aktifitas kreatif egonya.

    Anda suka sisi keseksian Isti dan bahkan mengkhayalkannya sebelum tidur adalah aktifitas kreatifitas ego anda.

    Nah, saat anda bersamaNya, anda terharu dengan eksistensi Isti dengan kerudungnya. Ada rasa haru dan rasa damai.

    Saat dekat dengan “ego bermain”, saat shalat kesadaran ilahi muncul betapa sucinya Isti dan cinta ini. Wouwww.

    Saya cuma mau bilang, anda sudah setahap lebih baik dari sisi ada kesadaran ilahi yang ikut berperan menjadi varibel dalam dalam penilaian anda.

    Yang harus diwaspadai dan dibedakan adalah perasaan religi dan asmara berbungkus “religi”. Yang pertama sejati. Sedangkan yang kedua semu, yang kedua ini pada dasarnya nafsu yang dikemas dalam suasana religi, persis kayak di “film-film” itu.

    Saya jadi ingat masa lalu. Ketika Tuhan selalu terlibat dan terucap saat jatuh cinta. Seakan-akan Tuhan muncul bersamaan dengan kemunculan sang pacar. Kalimat astaghfirullah dan masya Allah selalu keluar saat berduaan dengannya. Ada term khusus yang dibuat oleh orang bijak untuk tipikal seperti ini, Maghrur!

    1. Terima.kasih atas pencerahannya.

      Iya. Konflik sebenarnya ada dalam diri. Antara nafsu dan keimanan bertengkar ingin dinomorsatukan. Bisa saja aku menggunakan tipikal pacaran berbungkus (katanya) syariah. Tapi hei, orang berkerudung harusnya jangan bermesraan. Gk ada bagusnya ketika hal buruk di bungkus kebaikan, apalagi sesuatu yg sakral. Entahlah, aku juga masih belajar hal ini.

      Thanks, anon..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s