Manusia tanpa Syukur

Mari saya ceritakan bagaimana nikmatnya jalan pagi di hari minggu… Namun sebelumnya, izinkan saya menyampaikan sajak yang saya buat dengan mengalir.

Siapalah aku?
Berjalan menatap dengan penuh rindu
Namun ada suatu hal yang terlupa di benakku
Bahwa aku tak pernah mensyukuri nikmat dari-Mu

Siapalah aku?
Tanpa sadar aku mengamati sekelilingku
Burung-burung bersemangat dan berkicau merdu untuk-Mu
Pepohonan hijau menunduk dan taqwa ke pada-Mu
Sungai mengalir deras penuh senandu ciptaan-Mu
Manusia berlalu lalang, mengharap sebuah ridho dari-Mu
Apakah aku lupa?

Karena aku telah mendustakan semua
Pagi hari menerjang dengan penuh bahagia
Para anak berjalan dengan tawa riang gembira
Para Ibu pergi ke sawah dengan penuh rasa
Para Bapak siap menempa dengan bajak di depannya

Apalah arti sebuah kehidupan
Tanpa artian, tanpa kenikmatan
Nikmat mana yang harus ku ragu
Ketika aku sadar, bahwa akulah yang lupa pada keindahan-Mu

Susah juga ternyata menulis sebuah sajak. Sajak atau puisi atau pantun sama saja. Namun seperti post sebelumnya yang membawakan sebuah sajak karya Rofeq Yusro yang luar biasa itu. Di post kali ini saya akan menceritakan bagaimana hari minggu saya. Konsepnya begini, saya akan mencoba menjabarkan satu per-satu dari tiap paragraph sajak yang saya buat di atas.

Siapalah aku?
Berjalan menatap dengan penuh rindu
Namun ada suatu hal yang terlupa di benakku
Bahwa aku tak pernah mensyukuri nikmat dari-Mu

Siapa saya? Hari ini saya berjalan bersama kedua adik saya yang luar biasa, Ryno dan Raisya, dan anak dari Bu Lek saya, Aditya. Kami berempat berjalan lurus menatap sekeliling. Ada yang terlupakan ternyata. Lupa akan perasaan indah dan nikmatnya suasana desa. Hidup di desa membuat kami semua bermimpi, pasti begitu nikmat hidup di kota yang serba ada. Namun kami semua lupa, ternyata, keindahan di desa sungguh tiada tara. Kami lihat sekeliling, banyak hal yang kami harus syukuri. Kami nikmati dalam-dalam tiap nafas yang kami hasilkan, kami bersyukur dan kami sadar, kami jarang bersyukur akan kehidupan desa yang Engkau berikan.

Siapalah aku?
Tanpa sadar aku mengamati sekelilingku
Burung-burung bersemangat dan berkicau merdu untuk-Mu
Pepohonan hijau menunduk dan taqwa ke pada-Mu
Sungai mengalir deras penuh senandu ciptaan-Mu
Manusia berlalu lalang, mengharap sebuah ridho dari-Mu

Nikmat inilah yang selalu kami lupa. Suasana kota mana yang masih ada suara burung yang bersaut-sautan, kemudian berkicau dengan riang gembira. Di antara pohon satu ke pohon satunya lagi dengan ramai dan dengan canda. Pohon? Pohon di desa kami masih sangat hijau, nunduk, dan rindang. Seolah mengayomi kami seperti Dia mengayomi seluruh alam semesta. Pohon yang penuh taqwa dan memberikan setiap nafas kehidupan. Pohon penuh kehidupan. Kami melihat ke samping, di mana sungai mengalir dengan penuh harap. Menabrak bebatuan sehingga menciptakan senandu air yang menyejukkan jiwa. Membawa kehidupan, mengalirkan arti sesungguhnya sebuah rasa penyejuk jiwa. Manusia? Tentu dengan kesibukannya, banyak juga yang berlalu lalang hanya sekedar berjalan-jalan menikmati tiap langkahnya. Ada juga yang sudah siap bertempur dan bekerja untuk mencapai ridho-Nya.

Apakah aku lupa?
Karena aku telah mendustakan semua
Pagi hari menerjang dengan penuh bahagia
Para anak berjalan dengan tawa riang gembira
Para Ibu pergi ke sawah dengan penuh rasa
Para Bapak siap menempa dengan bajak di depannya

Kebahagiaan yang tertera sungguh tiada bandingnya. Melihat sekeliling, kami melihat berbagai macam kehidupan. Anak-anak saling berbicara dan tertawa di antara teman-temannya. Para ibu mengayuh sepedanya menuju sawah, yang kebetulan sudah siap tanam dengan tanah yang subur dan selesai dibajak oleh para bapak.  Sekali lagi kami menatap sekeliling, inilah sawah kita, sumber kehidupan kita. Dan inilah nikmat Tuhan. Kemudian tanpa sengaja kami menatap langit, matahari mulai menampakkan. Bewarna orange dan dengan kalemnya menyinari hijaunya padi-padi yang baru saja selesai di tanam. Mengantar kehidupan baru kepada padi-padi itu.

Apalah arti sebuah kehidupan
Tanpa artian, tanpa kenikmatan
Nikmat mana yang harus ku ragu
Ketika aku sadar, bahwa akulah yang lupa pada keindahan-Mu

Jika sudah begini, kami mulai sadar. Apalah arti kehidupan jika kami tak pernah bisa menikmati di mana kami berpijak. Kehidupan desa sungguh hal yang luar biasa yang Tuhan berikan kepada kami. Kami seringkali lupa, sehingga kami hidup di desa dengan tanpa artian, tanpa kenikmatan. Padahal justru berlaku sebaliknya. Lalu jika sudah begini, nikmat mana yang harus kami ragukan kepada-Mu. Lalu kami sadar, bahwa sebenarnya kami semua lah yang salah. Lupa akan tiap kenikmatan yang Engkau berikan. Kami melihat sekeliling dengan penuh haru. Lalu kami semua bersyukur. Kehidupan ini sungguh luar biasa.

Begitulah.

Menatap fenomena ini, sungguh wajar jika saya, dan teman-teman semua tak pernah puas dengan apa yang ada di sekeliling. Mereka yang di desa ingin sekali ke kota. Mereka yang di kota ingin sekali di desa. Mereka yang di kantor ingin sekali bekerja di lapangan. Mereka yang di lapangan ingin bekerja di kantor. Dan sebagainya, dan seterusnya.

Sebenarnya hanya satu yang seringkali hilang dalam hidup ini. Awalnya, cobalah lihat sekeliling, lalu cobalah untuk mensyukuri. Rasakan dalam-dalam, lalu katakana dalam hati, nikmat mana yang bisa aku ragukan lagi? Nyata-nyata, aku tidak perlu ragu dan tidak ada yang harus aku ragukan. Karena semua sempurna dengan tatanan yang luar biasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s