Ironi Pemuda-pemudi Indonesia

Pada saat saya menulis artikel ini, saya sedang menanti link asli yang akan dikirimkan oleh mas Ispon Yurano. Beberapa saat dia mengirimkan sebuah tulisan berbahasa Inggris yang mudah dipahami dan sangat menampar saya selaku rakyat Indonesia. Mengapa? Berikut saya ulas dengan saya utarakan pula pemikiran-pemikiran pribadi. Link asli akan saya berikan ketika mas Ispon sudah sukses mengirimnya. Tulisan di bawah adalah tulisan pribadi saya.

Kita semua memimpikan Indonesia menjadi maju? Mimpi itu hanya akan sekedar menjadi mimpi jika kita, rakyat Indonesia masih harus “mengembangkan” mentalnya.

Awalnya begini. Siapa sih yang tidak lelah dengan pemerintahan kita yang semerawut. Pemberitaan media yang massif akan berita buruk negeri ini. Politik yang saling serang dan para elit yang senantiasa haus kekuasaan. Muak rasanya bukan? Namun, kita semua lupa, mereka semua akan mati sendiri pada akhirnya. Iya, mati. Mereka yang tetap berintegritas akan mati meninggalkan medali pahlawannya, dan mereka yang munafik akan mati meninggalnya busuknya kenangan.

Apa yang terjadi jika mereka semua, para orang-orang yang memegang kekuasaan, meninggal dunia? Tentu kita lah yang akan menggantikan mereka.

Sangat disayangkan. Faktanya, kita juga bermental seperti mereka. Saya menyebut dengan kata “kita” dan bukan dengan kata kalian. Saya juga menyadari saya masih jauh dari sendi integritas tinggi layaknya sebuah pejuang bangsa. Namun setidaknya saya mencoba untuk senantiasa berbuat baik dan manfaat bagi negeri. Dengan senantiasa Jujur dan Patuh.

Berapa dari kita yang melanggar aturan jalan? Berapa dari kita yang menjadi pesimistis? Berapa dari kita yang selalu mencontek? Berapa dari kita yang membiarkan kesalahan yang nyata-nyata salah? Berapa dari kita yang selalu melakukan kecurangan? Berapa dari kita yang tidak mencintai lingkungan? Berapa dari kita yang selalu membuang sampah disembarang tempat? Berapa dari kita yang suka merusak fasilitas publik?

Bung, Negara ini dikatakan Negara berkembang karena mental kita harus “dikembangkan”.
Kita ingin sekali memberatas korupsi sementara kita rajin mencontek dan menyuap jika ingin sesuatu. Kita ingin sekali Negara ini tertib hukum sementara kita tahu hukum dan kita selalu melanggarnya. Kita ingin sekali Negara ini bersih, transportasi sungai seperti di Korea Selatan, trotoar nyaman seperti di Times Square, sementara kita? Apa? Buang sampah tinggal buang saja di situ. Udah numpuk sampahnya? Buang saja di sungai kan gampang. Banjir? Salah pemerintah dong kenapa bisa banjir? Uang Negara dikemanain ngatasin banjir aja gak becus?

Kita yang gak becus bung. Kita lah pondasi utama kemajuan bangsa. Maunya nuntut, tetapi tidak mau berkorban. Percuma kita punya pemimpin seperti, – siapa saja yang pemimpin yang kita idolakan, kalau mental kepemilikan kita tidak ada sama sekali. Lupakah kita suatu saat kita akan jadi pemimpin negeri juga? Sementara kita masih bermental seperti ini?

Dulu buktinya Indonesia bisa maju. Apa karena presiden kita Bapak Soekarno? Saya rasa bukan hanya Pak Soekarno. Pak Soekarno hanyalah orang biasa. Lalu karena apa? Karena seluruh rakyat Indonesia merasa memiliki bangsa ini. Ingin merasakan kemajuan dan kebebasan dari penjajahan. Dan senantiasa sadar bahwa semua berawal dari kita dan pembangunan ini harus diawali dari kita. Masalahnya bagaimana menyadarkan kembali? Apa harus dijajah kembali? Saya rasa tidak.

Saya sadar saya sudah berbicara, atau menulis terlalu banyak tanpa berbuat apapun. Tetapi berbagi pemikiran ini tentu dengan penuh harapan. Harapan ada yang membaca tulisan ini dengan penuh semangat kemudian sedikit sadar dan mencoba berubah.

Bertolak belakang dari tulisan di atas, jika kita menuntut kemakmuran. Negeri ini sungguh sangat makmur. Kita tak perlu repot mengolah limbah air yang telah kita gunakan karena air kita belum pernah habis. Kita tak perlu repot membuat hutan kota karena lingkungan kita masih hijau. Kita tak selalu makan makanan kaleng karena makanan segar masih berlimpah ruah. Kita tak perlu berpelesir keluar negeri hanya untuk menikmati alam. Buat apa? Keindahan alam kita masih menjadi nomor wahid. Masih jauh dari kata makmur? Saya rasa bukan makmur yang kita impikan. Tetapi terawat. Terawat dan dikelola dengan tanggung jawab oleh pemerintah yang bersih.
Ingin pemerintah yang bersih. Ya sudah, tunggu saja beberapa tahun lagi. Pasti jadi pemerintah yang bersih, jujur dan berintegritas. Dengan syarat kita dulu yang harus bersih, jujur, dan berintegritas. Dimulai dari hal paling kecil. Percuma kita demo sana kemari ingin menggulingkan pemerintahan. Okelah pemeritahan mungkin akan berganti, tetapi jika gantinya adalah kita-kita juga yang bermental sama? Ya sama saja dong. Sama-sama bobroknya. Dan sama-sama akan digulingkan juga oleh generasi sesudah kita.

Bagaimana?

Masa depan seseorang ditentukan oleh orang itu sendiri. Artinya, masa depan kita ditentukan oleh kita sendiri pula. Masa depan negara siapa yang menentukan? Karena Negara adalah benda, dan benda itu milik kita, mau tidak mau, masa depan Negara ini ada di tangan kita. Jika kita saja tak bisa berbuat baik dari sekarang untuk Negara yang kita miliki sekarang dan kedepannya, bagaimana bisa kita mengharapkan kebaikan untuk Negara ini sementara kita adalah pengganti mereka yang memegang kekuasaan saat ini. Jangan jadikan ini sebagai sebuah ironi dibalik ironi.
Kita masih belum puas dengan pemerintahan? Silahkan lakukan cara-cara penyampaian pendapat yang disetujui undang-undang. Berdemo dengan izin dan tertib. Namun sebelum repot-repot melakukan itu, sudah puaskah kita dengan diri kita?

Tulisan ini tidak ada maksud untuk membiarkan atau menjadikan kita menjadi masyarakat yang apatis. Tulisan ini hanya saya utarakan agar, intinya, kita berhak protes kepada mereka, tetapi kita wajib intropeksi diri apakah kita pantas jika kita jadi pengganti mereka setelah mereka turun jabatan. Itu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s