Pekerjaan Kami yang Dilematis

Siapalah kami? Yang selalu membantu Ibu untuk atas intruksi Bapak untuk lingkungan tercinta.

Sejarah awalnya begini, pada mulanya Bapak melakukan kesepakatan untuk kebaikan bersama dengan Bos-Bos untuk penghidupan segenap lingkungan yang Kami, Bapak, Ibu dan para Bos semua tempati. Kesepakatan yang didapat adalah Bos-Bos berkewajiban untuk berkonstrIbusi wajib kepada Bapak untuk kebaikan lingkungan. Berapa besarannya? Untuk ini, para Bos diberikan kewenangan menghitung sendiri besaran iuran wajib yang akan disetor dengan rumusan yang telah disepakati bersama. Menghitung sendiri, karena Bapak tidak pernah melakukan perhitungan. Kecuali jika Bos melakukan penyelewangan sedemikian rupa agar iuran wajib diberikan sesedikit mungkin atau bahkan mendekati nol dan menjadi nol.

Sebagai informasi, Bapak Kami adalah pemilik lingkungan, lingkungan yang kita semua dan para Bos tempati. Sementara Ibu Kami adalah pengurus lingkungan. Para Bos? Bos-Bos menempati lingkungan ini dan diwajibkan memberikan iuran untuk perbaikan, perawatan, dan pembangunan lingkungan guna kebaikan bersama. Tentu nominal iuran disesuaikan dengan kemampuan para Bos tersebut dan sekali lagi, dihitung sendiri dengan asas kejujuran. Bapak tidak pernah memaksa.

Kami adalah sebagian anak-anak yang ditugaskan mengumpulkan iuran dari para Bos. Para Bos memberikan beberapa dari jatah makan nya langsung kepada Ibu Kami yang kemudian disebut dengan iuran wajib. Tentu saja Kami tak pernah tahu menahu mengenai bentuk nyata jatah makan yang Bos kirimkan kepada Ibu. Para Bos hanya melapor kepada Kami bahwasanya, kewajiban iuran jatah makannya sudah dilakukan.

“Gampang benar ya pekerjaan Kami. Hanya menerima laporan dari para Bos yang sudah melakukan iuran jatah makan…”

Ternyata, tak semudah itu para Bos melakukan iuran wajibnya. Banyak sekali, bahkan sebagian besar Bos melakukan serIbu satu cara untuk tidak melakukan iuran wajibnya seperti apa yang telah Bapak dan para Bos sepakati. Padahal Bapak sudah memberikan kebebasan kepada Bos untuk menghitung sendiri berapa iurannya. Nah, di sini lah pekerjaan Kami. Kami melakukan mulai dari himbauan, rayuan, hingga paksaan yang tentu saja harus sesuai dengan intruksi Bapak, agar kewajiban para Bos terpenuhi. Tak jarang para Bos melakukan ancaman kepada Kami, berkata kasar, dan memfitnah Kami yang bukan-bukan. Setelah Bos bersedia melakukan kewajibannya kembali karena mungkin berkat rayuan atau paksaan Kami. Maka seperti biasa, Bos langsung menyerahkan uangnya kepada Ibu, dan Kami hanya menerima laporan bahwa Bos telah melakukan kewajibannya. Yaitu laporan berupa kertas.

Siapa yang disalahkan oleh Bapak jika target tidak tercapai? Kami, karena Bapak menyerahkan semuanya kepada kami termasuk sikap sebagian besar Bos yang senantiasa melawan kami. Bapak hanya ingin target tercapai. Lalu siapa yang disalahkan jika para Bos tidak setuju dengan keputusan dan sikap Ibu Kami sebagai pengelola iuran? Kami. Karena nyata-nyata garda utama yang ditemui para Bos dalam acara pengumpulan iuran adalah Kami. Ditambah lagi, para Bos tidak pernah menemui langsung Ibu Kami sementara iuran wajib sudah pasti langsung diserahkan kepada Ibu Kami secara “virtual”. Lalu siapa yang disalahkan ketika Kami melakukan kesalahan? Tentu saja Kami, karena kesalahan terletak pada Kami. Ibu siap menghukum Kami, dan Bapak pasti marah kepada Kami, serta sebagian Bos senang sekali mencaci kesalahan Kami secara berulang-ulang.

Apa yang paling menyakitkan?

Ketika sebagian Bos menuduh Kami melakukan penggelapan iuran wajib atau korupsi. Tuhan? Bagaimana Kami bisa berkorupsi? Para Bos menyerahkan jatah makannya langsung kepada Ibu selaku pemegang kas dan pengurus lingkungan. Kami tidak tahu menahu. Yang Kami terima hanya kertas laporan si Bos bahwasanya telah melakukan kewajibannya. Namun Kami berusaha tetap sabar. Memang, ada dari Kami yaitu si bodoh yang melakukan tindakan paling bodoh. Tapi tentu saja bukan berkorupsi. Si bodoh dengan bodohnya menerima sebagian jatah makan dari Bos padahal itu dilarang. Tentu saja untuk kasus ini, Ibu langsung turun tangan dan mengeluarkan si bodoh dari anggota keluarga Kami. Bapak sudah pasti marah besar karena tindakan ini menodai kode etik yang telah disepakati. Para Bos? Mereka marah kok kepada si bodoh. Sebagain malah menilai kami semua sama bodohnya dengan si bodoh. Padahal pada kenyataannya, Bos yang lain pula yang memberikan jatah makannya kepada si bodoh. Memberikan, yang tentu saja sangat jauh berbeda dengan menggelapkan. Memberikan artinya merelakan jatah makannya untuk si bodoh. Sebagai informasi, kode etik nomor satu adalah, Kami dilarang menerima apapun dari si Bos. Jika salah satu dari Kami mendapat benda misterius yang Kami yakini dari salah satu Bos. Kami pasti kebingungan dan wajib melaporkan langsung kepada Ibu agar Kami tidak menerima hukuman disiplin.

Bapak baru saja memberikan hadiah ekstra kepada Kami atas kerja keras dan komitmen Kami. Dan sebagian Bos protes besar-besaran. Sungguh dilematis pekerjaan Kami ini.

Bapak sadar, Bapak memberikan tanggung jawab yang besar kepada Kami untuk mengumpulkan iuran wajib yang sangat banyak. Karena, Bapak sadar betul banyak sekali Bos yang menanggalkan kewajibannya. Itulah mengapa Bapak memberikan hadiah ekstra.  Namun sebagian Bos justru menolak dan marah besar atas keputusan Bapak. Banyak cacian yang Kami terima, bahkan cacian itu hampir mendekati fitnah. Seperti contoh hadiah tersebut tidak pantas kami terima karena kami sering berkorupsi ria. Sekali lagi, bagaimana kami bisa berkorupsi? Tindakan bodoh yang bisa kami lakukan hanyalah menerima hadiah dari bos yang nakal, dan sekarang hal itu menjadi pelanggaran kode etik nomor satu. Kenapa memangnya dengan Kami? Kami sudah menjadi lebih baik. Kami rela menerima aturan Bapak yang ekstrim. Seperti;

Hadiah Kami akan dipotong 5% jika Kami tidak hadir melakukan pengumpulan iuran per harinya. Tak peduli alasan Kami apa, entah ijin mendadak, ijin berbela sungkawa, atau bahkan sakit parah, pokoknya di potong. Yang lain? Hadiah Kami akan dipotong 0,5 sd. 2,5% jika Kami terlambat datang atau terlalu cepat pulang dalam acara pengumpulan iuran. Yang lain? Hadiah yang Kami terima bersifat fleksibel. Jika para Bos membandel yang kemudian menyebabkan target dari Bapak tidak terpenuhi, misal hanya 70% dari kesepakatan awal, maka hadiah yang Kami terima dari Bapak tentu saja tidak jauh dari prosentasi itu. Ingat, kelakuan Bos yang membandel adalah salah Kami karena Kami tidak mampu merayunya atau bahkan memaksanya baik-baik. Sebagai akibatnya, Ibu memaksa Kami bekerja keras atas intruksi langsung dari Bapak. Dari pukul 7.30 hingga pukul 17.00. sering Kami melakukan kegiatan ekstra. Seharusnya para Bos yang sinis kepada Kami sesekali menilik Kami, betapa masih ramainya lokasi pengumpulan iuran meski waktu sudah menunjukkan pukul 17 lebih. Para Bos boleh melaporkan Kami ke Bapak atas segala kelalaian Kami. Dan tentu saja Bapak akan langsung menghukum Kami melalui Ibu. Ada salah seorang teman Kami yang makan dan bermain telepon seluler ketika acara pengumpulan iuran. Salah seorang Bos mengambil gambarnya dan melaporkan kepada Bapak. Apa yang terjadi? Teman Kami tersebut terkena  hukuman disiplin dari Ibu atas intruksi Bapak. Hanya karena makan dan bermain telepon seluler di depan si Bos. Cambuk bagi kami dan artinya kami harus bekerja dan bekerja sesuai jadwal.

Apakah Kami mengeluh? Tidak. Meski Ibu selalu merotasi lokasi pengumpulan iuran Kami dengan pola rotasi yang tidak main-main, yaitu seluruh lingkungan, padahal lingkungan Kami sangat amat luas. Apakah Kami mengeluh? Kami berusaha berkata “Tidak”.

Lalu apa yang membuat Kami bahagia selain hadiah dari Bapak sehingga kami senantiasa semangat?

Para Bos yang mendatangi acara pengumpulan iuran dan memberikan laporannya dengan penuh senyum adalah bahagia untuk batin terdalam Kami. Kami selalu bahagia, karena hampir setiap Bos yang datang selalu tersenyum kepada Kami. Merasa puas dengan pelayanan yang Kami berikan. Bahkan para Bos tidak takut membawa laporan kosong untuk Kami bantu menghitung kewajibannya. Kamipun tidak pernah memaksa, Kami tetap serahkan kepada  Bos untuk membuat dasar perhitungannya agar Bos merasa tidak keberatan. Untuk selanjutnya, Kami bantu menghitung dan mengisi laporannya. Cukup kata terima kasih dan senyum sebagai gantinya. Tidak boleh Kami menerima benda apalagi jatah makan. Pernah ada salah seorang Bos yang kebingungan menentukan dasar perhitungan kewajibannya dan meminta bantuan Kami. Kami selalu ingat asas kejujuran. Maka Kami suruh Bos tersebut kembali pulang untuk menghitung dahulu bersama keluarganya dengan meninggalkan janji harus dihitung dengan jujur. Bos tersebut menyetujui dengan penuh senyum. Kami telah berubah. Kami tidak pernah melakukan perhitungan sepihak lagi. Jika Kami melakukan perhitungan kewajiban, itu hanya Kami lakukan kepada para Bos yang membandel karena tidak mau menghitung sendiri dengan benar dan jujur. Bos boleh menuntut Kami dan melaporkannya kepada Bapak jika Kami salah melakukan perhitungan. Kami selalu berusaha sebaik mungkin.

Lalu mengapa masih ada Bos yang selalu berpandangan buruk kepada Kami?

Kami mencoba memahami, sebagian Bos yang berpandangan buruk hanya menilai Kami dari percakapan dan berita dari Bos lainnya yang juga membenci Kami. Sebagian yang membenci Kami dimungkinkan karena tidak rela melakukan iuran wajib. Dan Kami yakin, kebanyakan dari para Bos yang membenci Kami jarang sekali atau bahkan tidak pernah menghadiri acara pengumpulan iuran, apalagi menyerahkan jatah makannya untuk di-iurkan kepada Ibu. Mereka melakukan berIbu satu cara untuk menjatuhkan Kami. Namun Kami akan berusaha sebaik dan seramah mungkin kepada seluruh Bos yang menjadi pahlawan lingkungan. Karena dengan kebaikan para Bos tersebut, lingkungan menjadi lebih baik. Kami juga sadar betul Kami masih jauh dari sempurna. Kesalahan sepenuhnya ada pada Kami. Dan kebenaran hanya milik Tuhan Yang Maha Benar. Untuk itulah setiap pandangan buruk dari beberapa bos adalah sarana perbaikan Kami.

Sekali lagi, Kami berterima kasih kepada para Bos yang membantu meringankan beban Kami, membantu memperbaiki lingkungan dengan menyerahkan jatah makannya kepada Ibu untuk dikelola kembali. Membantu Bapak tetap sehat dengan senantiasa melakukan kewajiban yang telah disepakati. Kami terharu akan setiap senyum para Bos yang hadir dalam acara pengumpulan iuran padahal secara nyata telah menyerahkan sebagian jatah makannya kepada Ibu untuk kebaikan lingkungan. Sungguh pahlawan masa kini yang tak tertandingi.

Kami? Siapalah Kami, hanya petugas yang membantu Ibu melakukan salah satu kewajibannya sesuai intruksi Bapak untuk kebaikan lingkungan Kami tercinta. Semoga Tuhan selalu memberikan kebaikan kepada seluruh tokoh yang ada di kehidupan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s