Kebahagiaan, Apakah harus Cari dan Buang Begitu Saja?

Untuk apa kita berjuang selain untuk meraih kebahagiaan yang haqiqi. Dan untuk apa kita bersyukur selain menghindari rasa tidakpuas diri tiada henti?

Mas Widyan memang benar. Kekayaan memang tidak selamanya menunjang sebuah kebahagian. Saya menemukan bentuk paling simpel dari sebuah kalimat bahwasanya apa gunanya kaya jika tidak bahagia.

Setahun di Manado, saya merasakan suatu yang bisa dikatakan upgrade dalam hal lingkungan keadaan tinggal. Tempat saya tinggal yang berada di Jalan Mangga II, merupakan sebuah kost yang sangat lengkap fasilitasnya. Kamar yang nyaman serta bersih. Fasilitas rumah kost yang lengkap seperti kulkas, TV kabel, alat dapur, dan apapun lainnya.

Jujur saja, ketika saya pulang setelah satu tahun merantau di Manado. Saya disambut mamah yang telah menanti dan langsung saja saya peluk. Kemudian mamah menyuruh saya masuk. Setelah berbincang sejenak saya lihat sekeliling.

Ini adalah rumah yang saya tinggali dulu, dan sekarang mulai saya tinggali ulang. Dan oh crap… Rumah macam apa ini? Mamah, Raisya, dan Ryno tinggal dalam satu ruangan yang dulunya tidak terpakai, karena di sinilah satu-satunya yang tidak bocor ketika hujan. Dan, ini di sebut mereka sebuah kamar? Padahal sangat  berantakan, sumpek, dan sudahlah…

Kemudian saya keluar dari kamar yang belakangan saya juga tidur di dalamnya. Saya coba melihat bekas kamar saya, sungguh tak berbentuk lagi. Bekas kamar orang tua saya, ada sepeda motor bekas yang tidak bisa dipakai. Kamar orang tua menjadi gudang. Saya tanya kepada mamah saya mengapa bisa demikian? Mamah hanya menjawab “Ya kita bertiga (read. Raisya, Ryno dan Mamah) pindah ke ruangan ini karena ini ruangan tidak bocor ketika hujan. Tidak kayak kamarmu, dan kamarnya mamah”

– Batas tulisan –
Saya menulis tulisan di atas pada tanggal 12 Oktober 2014. Sehari setelah saya sampai rumah. Dan sekarang pada tanggal 15 Maret 2015, saya akan berusaha melanjutkan dan mengingat betapa perasaan sekarang ini berbeda.
– Batas tulisan –

Saya ingat betul betapa dulu saya merasa benar-benar kost-sick. Semacam rindu kehidupan kost yang mewah itu teramat sangat. Mewah tentu dalam pandangan orang berbeda-beda. Bagiku, mewah adalah kamar yang nyaman, televisi kabel, kamar mandi bersih, makanan lengkap, dan ruang tamu dengan sofa empuk di tambah tempat santai untuk tiduran dan beranda yang penuh tanaman. Dan begitulah suasana kost ku di Manado dulu. Mamah saya membayar dengan 750 ribu sebulan hanya untuk saya yang mendapatkan fasilitas itu semua serta makan pagi dan makan sore yang cukup lezat, bergizi, dan bernutrisi dibanding di rumah sini.

Namun apakah itu membuat bahagia?

Jika kekayaan mewakili kebahagiaan. Saya memang bersikap egois kala kuliah dulu. Saya merasakan lezatnya dan indahnya kehidupan. Sedikit kata teman-teman. Namun bagiku terlalu banyak. Saya berhasil tahu bagaimana itu Mc. Donald, Pizza Hut, Bioskop 2D dan 3D, Bunaken, Kentucky, dan pola elit lainnya. Luar biasa bukan? Sementara adikku? Nothing
Namun saya ulangi lagi. Jika memang kekayaan mewakili kebahagiaan lalu untuk apa saya sekarang merasa betah di rumah dan tidak mau pindah lagi? Oke memang waktu pertama kali pulang ke rumah saya merasa kost-sick. Tetapi setelah beberapa bulan berjalan. Sampai bulan Mei ini. Ini adalah surga paling indah yang jatuh di dunia. Ya meski keadaan rumah masih sama saja. Tetapi saya masih punya mamah dan kedua adik saya yang luar biasa hebat ini.

Anak mana yang tak tersenyum haru ketika melihat nyata-nyata mamahnya masak pagi-pagi untuk membuatkan bekal makanan anaknya. Anak mana yang tak mengeluarkan air mata bahagia ketika mamahnya bercerita berapa banyak uang yang dia dapat dari hasil jualan, kemudian beberapa ribu diberikan kepadaku untuk disimpan. Kebahagiaan mana lagi yang akan saya dustakan ketika melihat adikku tertawa dan bercanda bersama. Suatu hal yang tak akan pernah aku dapatkan ketika aku merantau dulu dan kelak.

Mas Widyan, mengeluarkan statement yang membuat saya dengan seenaknya berkata “dia bodoh”. Mas Widyan bilang “kekayaan tidak membawa kebahagiaan” di saat aku kuliah dulu. Posisi di Manado dan butuh banget yang namanya uang. Seketika aku bilang dalam hati “dia bodoh”.

Namun saya menyesal. Dia benar. Mas Widyan benar. Kekayaan tak membeli kebahagiaan.
Jika menuruti ego untuk menjadi kaya terlalu tinggi. Selamanya kita tak akan pernah bahagia. Contohnya begini saja, lihatlah teman-teman yang harus pulang tiap minggu menghamburkan uangnya – ya mesti mereka mampu – dan tenaganya hanya untuk memperjuangkan sebuah kebahagian. Sementara saya? Tanpa uang pun saya sudah mendapatkan kebahagian yang mereka inginkan. Yaitu kebersamaan dengan keluarga. Lalu apalah arti uang jika sudah begini? Sekumpulan kertas yang dicari dan dibuang hanya untuk sedikit kebahagiaan. Lebih beruntung saya pastinya, tanpa kertas itu, kebahagiaan gratis di mata saya. Kembali jika ego untuk menjadi kaya terlalu tinggi, pastinya saat ini aku sudah bersumpah serapah karena tidak menggunakan motor untuk pulang pergi ke kantor.

“Menengok ke atas untuk urusan akhirat – jika pembaca bukan atheis. Dan menengok ke bawah untuk urusan dunia.” Kata-kata paling bijak tersebut adalah arti dari syukur dan perjuangan. Untuk apa kita berjuang selain untuk meraih kebahagiaan yang haqiqi. Dan untuk apa kita bersyukur selain menghindari rasa tidakpuas diri tiada henti?

Rumahku masih dalam keadaan yang sama sejak tanggal 12 Oktober 2014 lalu. Namun pola hatiku terhadap perbandingan kost dan rumah sudah berubah. Tidak, aku tidak mau lagi menukar kostku yang mewah itu dengan rumahku yang sederhana ini. Andai aku bisa memilih. Namun hidup dan jalannya sudah di atur oleh yang Maha Membuat Aturan bukan?

Mungkin dulu aku mengalami apa yang namanya roda berputar terlalu drastis. Dari bermewah berubah bergembel. Tunggu? Bergembel? Tidak. Hidupku sekarang lebih mewah karena lebih bahagia. Syukurlah Tuhan masih memberikan aku berbulan-bulan untuk bersama keluarga sebelum penempatan definitif. Sebelum kekayaanku terjual, maka aku akan nikmati setiap sen dari kekayaan haqiqi yang diberikan Tuhan kepadaku. Yaitu sebuah kekayaan hati dan kekayaan jiwa tiada tara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s