Tetaplah menjadi Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia

Menulis di saat hujan seraya mendengarkan lagu, sungguh nikmat hidup dari-Mu

Saat-saat seperti ini membuat banyak pikiran melayang-layang. Yang menjadi tujuan utama dari pikiran ku yang serba melayang ini adalah menguapkannya dalam sebuah tulisan. Hari ini, aku putuskan saja untuk menulis dengan tema nasionalis. Dalam tulisan ini, fokus utamanya adalah penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Terutama bahasa Indonesia.
Baru tadi malam saya menemukan sebuah artikel bahwa 17 koma sekian persen rakyat Indonesia mampu 3 bahasa. Saya kecewa sekaligus bangga. Di artikel tersebut dijelaskan bahwa Indonesia menduduki nomor wahid akan kemampuan berbahasa banyak atau multilingual. Di susul dengan Israel dan Mesir kalau tidak salah. Dan negara paling tidak bisa berbahasa banyak adalah USA, UK, AUS, dan CAN. Wajar sajalah, mereka hanya dan hanya bisa menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-harinya.

Yang bikin saya kecewa adalah tidak tahunya penulis akan kemampuan berbahasa kita. Benarkah hanya 17%? Di situ dipaparkan juga bahasa yang dikuasai oleh 17% orang-orang tersebut adalah bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa ibu. Dalam kasus ini bahasa Jawa. Halo? Apa ini artinya cuman orang jawa saja yang bisa 3 bahasa? Bagaimana dengan suku lain? Bagaimana dengan suku lain yang hijrah ke wilayah suku lain dan belajar bahasa suku lain? Bertambah juga pastinya skill berbahasa mereka.

Contoh saja saya, yang bisa 4 dan hampir saja 5 bahasa karena ditambah bahasa Manado yang cuman berkesempatan belajar 1 tahun. Sejak lahir saya sudah berbahasa Ibu yaitu bahasa Sunda yang baik dan benar. Pindah ke Jawa dan kemudian hijrah berbahasa Jawa. Kemudian berbahasa Indonesia karena saya orang Indonesia. Dan Bahasa Inggris untuk pergaulan se-dunia. Itu baru saya, bagaimana dengan 200 juta orang lainnya? Pasti sama atau lebih jago dong daripada kemampuan berbahasa saya.

Namun apakah yang membuat saya kagum sebagai bangsa Indonesia?

Bahasa Persatuan!! Ya, bahasa persatuan bangsa Indonesia adalah bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa melayu. Lalu kenapa disebut bahasa Indonesia? Tidak bahasa melayu saja?

Setelah baca sana-sini, bangsa Indonesia, terkhusus suku jawa, sunda, dan suku yang berbahasa melayu, rela mengenyampingkan ego-etnisnya masing-masing. Hanya untuk persatuan dan kesatuan bangsa. Bagaimana tidak? Kala itu, saat sumpah pemuda diucapkan, secara tidak langsung kedua suku yaitu Jawa dan Sunda merelakan bahasanya tidak digunakan sebagai bahasa Persatuan. Andai, para pemuda mau, dengan jumlah penduduk dari suku jawa dan sunda sama menjadi suku terbanyaknya, pasti ricuh menang. Dan, para suku berbahasa melayu merelakan istilah “melayu” untuk disimpan di kandang saja. Digantikan dengan istilah “Indonesia” untuk penyebutan bahasa Indonesia. Terciptalah bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus BAHASA NASIONAL.

Dilihat dari sejarahnya saja. Saya belum menemukan bangsa mana lagi yang mampu melakukan ini. Lihat saja Malaysia atau  Singapura? Bahasa Nasionalnya saja ada berbagai macam. Tamil untuk India, Mandarin untuk etnis Tiongkok. Melayu untuk etnis Melayu, dan Inggris sebagai pengantar umum. Sayangnya tidak semua orang Malaysia atau Singapura mampu berbahasa Inggris padahal nyata-nyata pemerintah menggadangkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar umum. Sungguh repot mereka. Coba saja tengok media Malaysia atau Singapura, pasti berbahasa macam-macam. Betulkan jika saya salah. Kita lihat juga Amerika Serikat yang berbahasa Inggris. Yang pada saat negara ini dibentuk, ada semacam aturan pengubahan nama, bahasa Inggris yang digunakan di Amerika harus disebut bahasa Amerika. Tapi lihat? Mereka gagal. Seluruh dunia tetap menyebut Amerika menggunakan bahasa Inggris. Dan Indonesia berhasil. Seluruh dunia tahu Indonesia menggunakan BAHASA INDONESIA.  Meski seluruh dunia juga tahu bahasa ini sebenarnya variasi lain dari bahasa melayu.

Kita Indonesia? Semua sepakat bahasa Indonesia menjadi bahasa Nasional dan bahasa Persatuan. Jangan sampai terjadi degradasi bahasa persatuan seperti apa yang terjadi di Filipina. Pemerintah sana menggadangkan bahasa Inggris sebagai alternatif lain bahasa persatuan. Karena tidak semua suku di Filipina mampu berbahasa tagalog yang sebelumnya disepakati sebagai bahasa nasional. Apa yang salah? Karena mungkin pemerintah sana tidak semasif kita dalam mempromosikan bahasa nasional sebagai bahasa persatuan.

Masif? Tentu saja. Dari sudut manapun, meski kita berbahasa daerah masing-masing, tetapi tulisan berbahasa Indonesia ada di mana-mana. Sekolah, televisi, koran, internet, iklan, dan lain-lain. Mulai dari pelosok paling dalam sampai kota megapolitan. Kompak inilah yang harus senantiasa dijaga. Pernahkan kalian lihat tulisan yang berbunyi “neng kene eneng bengsin, regane 8000” ketika kalian berada di tanah Jawa? Tidak kan? Pasti menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar meski yang jual hanya orang biasa yang hampir tidak pernah berbicara bahasa Indonesia. Menakjubkan bukan? Semua bisa berbahasa Indonesia meski hampir tidak pernah mengucapkannya. Fenomena macam apa ini?

Pindah saja dari pulau satu ke pulau lainnya. Gunakan bahasa Indonesia. Maka kalian tidak akan merasa asing. Hebat sekali bangsa ini?

Namun ada sisi minusnya sih. Kita terkadang jadi gelap mata terhadap bahasa asing terutama bahasa Inggris. Sudah berapa kali pemuda Malaysia menghina kita yang tidak mampu berbahasa Inggris sehebat pemuda mereka? Namun biarlah. Lebih baik, sejauh pengamatan saya, biarkan saja bahasa Inggris tetap di kandangnya para orang-orang berpendidikan. Gunakan bahasa Inggris hanya pada diperlukan saja. Jangan pernah berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari kecuali untuk latihan dan peningkatan mutu berbahasa Inggris. Ingat, JANGAN PERNAH…

Gunakan bahasa dengan bijak. Bahasa daerah untuk ke sesama suku. Bahasa Indonesia untuk antar suku. Dan bahasa Inggris untuk orang asing. Gampang kan?

Banggalah dan tengoklah sekeliling, betapa hebatnya bahasa Indonesia. Bahkan saya pernah nonton di youtube statement seorang warga asing yang kagum kurang lebihnya begini “kalian ini beda pulau dan katanya beda-beda bahasa, tetapi kok masih bisa berbicara dengan lancar satu sama lain?” Haha. Biarkan itu menjadi kekayaan kita pak/bu Bule. Kalian cukup kagum saja. Satu lagi, seorang pemuda Malaysia di suatu forum pernah menyebut bahwasanya kurang lebih seperti ini, “Kenapa pemuda malay tidak pernah menulis berbahasa melayu? Carilah blog atau website berbahasa melayu? Bahkan Wikipedia melayu saja kalah jauh dengan Wikipedia Indonesia. Kenapa kita lebih suka menulis berbahasa Inggris? Lihatlah pemuda Indonesia senantiasa menulis dengan bahasa Indonesia.”

Okelah, sudah panjang sekali ini tulisan. Sekitar 950 kata dan itu cukup. Sekian tulisan kali ini… Oh ya, terkait statement-statement yang saya sampaikan di atas, saya tidak menyimpan link-link nya. Jika para pembaca tidak percaya akan tulisan ini dan para statementnya, maka sebut saja semua tulisan yang saya tulis adalah hoax. Gampang bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s