Hukum Theis atau Atheis, dan Kebohongan 2+2=5

Kebohongan yang masif lama kelamaan akan menjadi suatu kebenaran apabila orang-orang mulai mempercayai kebohongan tersebut

Bahasan kali ini agak berat memang. Semua konten dari tulisan ini adalah opini pribadi saya. Sebagaimana isi tulisan-tulisan lainnya yang menjadi tanggung jawab saya. Kali ini akan dibahas mengenai pergeseran mindset para pemuda-pemudi.

Sebenarnya kebenaran paling mutlak dalam pandangan saya adalah agama atau kebenaran theis. Tetapi ditulisan ini tidak membahas mengenai agama sedikitpun karena kapasitas saya belum seorang yang berkemampuan baik dalam hal agama. Maka sebagai gantinya akan saya suguhkan dengan istilah yang mudah dipahami. Yaitu suatu kebaikan dan keburukan. Yaitu suatu kebenaran dan kebohongan. Di samping itu saya juga akan menggunakan istilah orang timur dan orang barat, tanpa mengubah dan menjelekkan kebaikan yang dihasilkan oleh keduanya.

Mari kita mulai.

Siapa yang pertama kali menanamkan suatu pemikiran mana yang baik dan mana yang buruk di dalam kehidupan kita? Tentu saja jawabannya kedua orang tua kita dan orang-orang sekeliling kita. Suatu kebiasaan dan lingkungan membentuk karakter seperti apa diri kita. Itulah mengapa istilah “mendidik” muncul dalam tatanan kehidupan kita.

Bisakah suatu kebaikan atau keburukan masing-masing diubah menjadi berkebalikan. Artinya apa yang tertanam sebagai hal baik, kemudian menjadi hal buruk, dan apa yang tertanam sebagai hal buruk, menjadi hal baik.

Tentu saja bisa. Saya definisikan hal buruk dengan kebohongan. Dan hal baik dengan kebenaran.

Hakekatnya, kebohongan akan menjadi suatu kebenaran jika semua orang mempercayainya bukan? Contoh kecilnya saja, ketika orang tua saya masih kanak-kanak, pacaran adalah suatu hal tabu. Tetapi dengan pergesaran budaya dan mindset, serta pola pikir yang makin hari makin bergeser ke arah tertentu, maka pacaran bukanlah lagi hal yang tabu. Kita bisa lihat sendiri bagaimana media dan semua orang mulai mempercayai bahwasanya “tak ada yang salah dengan berpacaran”. Bahkan saya pribadi sebagai seorang pemuda normal, menganggap pacaran adalah hal yang lumrah. Nah kenapa saya tekankan dan kasih tanda bold pada kata pemuda normal? Definisi pemuda normal sendiri sudah bergeser maknanya di lingkungan hari ini. Bukankan definisi pemuda normal saat ini adalah para pemuda pecinta wanita?

Pergesaran mindset ini tentu saja seringkali berarah ke arah yang berbahaya. Saya pribadi mengalaminya. Seperti ciuman itu tidak berbahaya. Pacaran itu lumrah. Laki-laki dan wanita tak ada salahnya bersama. Jomblo adalah hal tabu. Tidak nakal adalah cupu. Dan sebagainya. Ketika ke arah yang lebih parah lagi, maka pergeseran mindset ini akan menyerang sendi-sendi agama atau ilmu pengetahuan. Maka itulah titik di mana, keadaan berubah di mana agama atau ilmu pengetahuan bukan sebagai hukum, melainkan hanya sebagai identitas.

Mengapa saya berani sekali menyandingkan agama dengan ilmu pengetahuan? Mohon maaf, nanti akan saya jelaskan. Namun terlebih dahulu mari kita lihat contoh mudah berikut ini.

Ketika saya menyebarkan rumor yang nyata-nyata bohong bahwasanya “orang yang sudah meninggal itu arwahnya bergentanyangan”. Nah, pada mulanya orang-orang menganggap saya berbohong karena orang meninggal arwahnya tak mungkin bergentayangan. Namun, dari hari kehari saya berskenario untuk menjadi makin paranoid dan teriak-teriak melihat arwah gentayangan. Mau tidak mau orang-orang mulai berpikir apakah benar yang saya katakan itu? Kemudian hari berikutnya saya makin masif meberikan kebohongan itu dengan berpura-pura pingsan dan shock karena melihat arwah. Maka orang-orang akan mulai ber-opini bahwasanya pernyataan saya mungkin benar, bahkan sebagian orang akan mulai percaya. Dan ketika saya melakukan finishing dengan berakting menjadi gila karena sering melihat arwah gentayangan, maka orang-orang yakin itu benar, arwah gentayangan benar-benar ada.

Lihatlah begitu masifnya saya membenarkan suatu kebohongan di mata orang-orang? Maka di saat itulah saya berhasil mengubah seuatu kebohongan menjadi suatu kebenaran.

Pergeseran mindset iniliah yang sejatinya kadang menjadi berbahaya. Namun kadang pula menjadi baik. Kebaikan apa yang bisa di dapat dari pergeseran mindset?

Beberapa kebaikan yang dihasilkan tentu saja akibat dari keburukan yang diubah menjadi kebaikan. Dengan kata lain kebohongan yang telah dibuktikan dengan kebenaran. Semisal dengan berbagai macam tahayul yang tidak benar. Dengan adanya ilmu pengetahuan (dalam kasus ini kebenaran), orang-orang mulai tidak percaya tahayul (dalam kasus ini kebohongan) yang tidak benar. Contoh lain adalah kebohongan bahwasanya seks bebas itu hak tiap orang (dalam kasus ini kebohohongan). Dengan adanya ilmu agama (dalam kasus ini kebenaran), maka statement seks bebas adalah hak akan selamanya di bantah kebenarannya. Itulah di mana pergeseran mindset dikatakan baik.

Namun sayangnya, propaganda pergeseran mindset seringkali didasari hal buruk. Misal penciptaan stereotip mengenai bahayanya suatu golongan atau agama tertentu. Pembenaran bahwasanya kebebasan mutlak itu baik. Dan sebagainya.

Jika sudah begini, kesimpulannya manusia tak pernah punya hukum yang mutlak benar atau mutlak salah. Karena pada dasarnya mindset manusia selalu bisa di ubah-ubah. Hukum buatan manusia adalah kesepakatan bersama. Di mana sekali lagi, kesepakatan itu bisa saja suatu kebenaran atau kebohongan. Itulah mengapa suatu hukum mutlak diperlukan. Maka bagaimana caranya manusia menemukan hukum mutlak jika saja mindset manusia bisa diubah-ubah?

Beruntunglah orang-orang theis memiliki suatu agama yang mana bukan merupakan kesepakatan buatan manusia. Melainkan buatan Tuhan yang mutlak dan tidak akan berubah. Itulah sejatinya hukum yang haqiqi.

Bagaimana dengan orang-orang anti theis?

Tanpa menjelek-jelekkan mereka karena saya punya beberapa teman anti-theis, multireligion, dan bahkan agnostic. Maka menurut pribadi padangan saya, orang-orang anti theis menggunakan hukum mutlak berdasarkan pada ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan itu benar dan terbukti. Maka hukum itulah yang mereka gunakan. Kesepakatan dengan ilmu.

Baik orang barat, maupun orang timur, memiliki mindset dengan tujuan kebaikan bersama. Maka bagi mereka yang selalu menghina satu sama lain berhati-hatilah. Jika belum berpegang teguh pada hukum mutlak yang dianut, maka pergeseran mindset akan benar-benar terjadi.

Sekarang, sedikit frontal. Lihatlah saya, dan hampir seluruh pemuda-pemudi Indonesia? Apakah menggunakan hukum theis atau anti-theis? Hukum agama atau hukum ilmu pengetahuan? Jawabannya pasti “hukum kombinasi”. Dan sayang sekali, hukum kombinasi membuat kita terombang-ambing. Tak tahu pasti apakah BENAR ATAU SALAH statement bahwasanya 2+2=5

Itulah mengapa propaganda mengalir deras. Tanpa pegangan teguh, selamanya kita dibodohi. Maka mulai saat ini tentukanlah, bahwasanya 2+2=5 itu SALAH. Lakukan pembuktian dan pilihlah dengan cara theis, atau anti theis.

——————————————————————————

Catatan : Di tulisan ini saya berusaha bersikap netral tanpa memberatkan suatu golongan manapun. Mohon maaf jika ada yang salah. Maka berikan saran dan opini atau bahkan beritahu hal yang nyata-nyata salah di kolom komentar.

Advertisements

One thought on “Hukum Theis atau Atheis, dan Kebohongan 2+2=5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s