Liberal itu, Bingung Membedakan antara Pahala dan Dosa

Dunia dan akhirat memang sudah benar-benar terpisah sekarang. Para pemuda-pemudi termasuk saya, membatasi dengan memberikan dinding yang besar di antara urusan dunia dan urusan akhirat itu sendiri. Padahal seharusnya, urusan dunia dan akhirat merupakan hal yang satu dan saling berdampingan.

Pemuda pemudi menjadi lebih open mind atau bahkan kebablasan menjadi liberal. Apa sebenarnya di balik fenomena ini?

Terkadang saya bertanya, apa batasan yang jelas antara larangan agama dan larangan dalam hak asasi manusia. Saya merasa, dan terlalu sering mencampur adukkan keduanya. Atau bahkan melupakan salah satunya. Tentu saja yang sering terlupakan adalah larangan agama itu sendiri. Sering kali saya merasa acuh dan merasa biasa akan semua fenomena kenakalan remaja yang ada. Yang nyata-nyata itu dilarang. Dan seringkali saya malah berpikir, “sudahlah biarkan saya (atau mereka) begini toh tidak merusak orang lain bukan?”

Tulisan kali ini merupakan tulisan yang tidak ada solusinya. Melainkan hanya pertanyaan dan pertanyaan.

Semakin dewasa saya, semakin tahu saya baik dan buruknya dunia. Dunia ini dan masyarakatnya ternyata benar-benar terbuka. Dari dulu saya diajarkan akan satu pegangan teguh yaitu suatu agama. Semua orang mengantarkan saya pada suatu jalan tertentu dan di samping itu semua terdapat sebuah pengawalan yang ketat sehingga saya tak mampu melihat sekeliling. Membuat saya tetap lurus dan lurus saja. Tidak tahu busuknya dunia. Atau mungkin memang belum boleh mengetahui busuknya dunia.

Namun, ketika tiba saatnya orang tua saya memberikan sebuah kebebasan yang mutlak, dan mulai membiarkan saya jalan sendiri mengenal dunia, saya pun akhirnya melihat dunia.

Orang-orang di sekeliling saya nyatanya sudah sama rusaknya dengan saya. Dahulu kala, saya mengira hanya sayalah orang yang bejat yang sering melakukan kesalahan yang dilarang orang tua saya dan agama. Karena saya tidak mengenal siapapun dengan utuh. Semua orang nampak seperti orang yang baik dan alim. Namun ketika dewasa kini, semua nampak begitu jelas. Setiap fenomena buruk yang pernah saya lakukan dengan penuh khilaf atau godaan, nyatanya pernah juga dialami oleh hampir semua orang yang seumuran dengan saya. Seperti nonton video porno misal, atau lainnya.

Di samping itu, para remaja sekarang tidak pernah saling mengingatkan. Atau mungkin saya saja yang tidak pernah bergaul dengan yang alim ya?

Mereka semua berjalan sendiri-sendiri. Prinsipnya, “saya mau gimana juga urusan saya, dia mau gimana juga urusan dia. Yang penting saya atau dia sendiri merasa baik-baik saja”. Nah, yang seperti ini adalah pandangan liberal yang kini diagung-agungkan banyak orang. Jujur, termasuk saya juga.

Pernah saya melihat seseorang misal tak pernah sholat, mau menegur pun enggan. Merasa apakah diri ini lebih baik memang? Pernah saya melihat teman saya nyata-nyata minum oplosan – minuman keras yang dicampur dengan macam-macam, dan saya justru biarkan saja. Karena tak tahu harus bagaimana, kan sudah hak nya dia?Pernah saya mendapatkan cerita dari seorang teman bahwa sex adalah kebiasaannya. Saya pun hanya diam tanpa memarahinya. Paling banter bilang jangan lupa pakai kondom aja biar enggak sakit. Pernah juga saya punya seorang kawan cewek yang bitch-nya minta ampun sampai-sampai hanya selangkangan saja yang dipikir, saya pun hanya ketawa mendengar ceritanya. Dan seringkali saya melihat di beranda facebook keluh kesah dan susah senangnya teman saya yang gay dan adek kelas saya yang lesbian, saya pun hanya manggut-manggut melihatnya.

“Apakah saya jahat dengan membiarkan mereka semua?” Kadang saya bertanya seperti itu.

Namun ketika itu semua terjadi, saya pun justru berpikiran, “belum tentu juga saya lebih baik dari dia”. Jadi yang saya lakukan akhirnya hanya diam, dan tetap menjadikan mereka semua kawan baik. Asal saya tidak terbawa dengan suasana saja.

Fenoma dunia yang bermacam-macam inilah yang membuat saya bingung. Sebenarnya, posisi apa yang paling pantas untuk menempatkan diri supaya kita sukses di dunia dan di akhirat?

Beruntunglah mereka yang tetap teguh imannya sampai tidak sempat melihat busuknya dunia. Saya kadang salut sama teman-teman sekelas, atau sekampus yang tetap teguh dan lurus tanpa perduli betapa liberalnya dunia ini. Tak sungkan-sungkan memarahi ketika saya salah. Dan tetap berusaha menjaga yang lainnya dalam koridor yang benar.

Pernah saya dimarahi dan dibuat kikuk ketika saya berkata kepada teman saya (sebut saja H) untuk melihat sexy nya cewek-cewek Manado. Saya pun berkata kotor dengan menyebutkan “lihatlah s*su dan p*pu nya begitu mulus”. Saya justru dimarahi dan diberitahu dasyatnya neraka untuk orang-orang yang mata keranjang seperti saya. Kala itu saya hanya diam karena saya benar-benar mengakui apa yang saya lakukan ini salah. Dan dilain hari saya menceritakan ini kepada beberapa teman saya, yang satu reaksinya hanya tertawa, yang satu membenarkan, dan yang satu justru bilang teman saya yang memarahi saya seperti orang munafik.

Lihatlah, dari kasus sesimpel itu saja, beragam macam pendapat yang saya dapat. Saya penasaran, sudah sebegini beragamnyakah dunia?

Terkadang saya bertanya-tanya, apakah kehidupan di negara Arab, di Vatikan, ajaran Hindu atau negara-negara yang kentara sekali ajaran agamanya, apakah semua orang yang di sana begitu lurus? Selalu memarahi dan mengingatkan satu dengan lainnya akan tiap kesalahannya? Saya rasa Indonesia yang katanya muslim nomor 1, namun pada kenyataannya negara ini begitu bebas dan liberal pemikirannya meskipun masih ada sedikit orang-orang yang lurus.

Saya pribadi dari kecil, dalam keluarga, dibentuk suatu jalan yang mana “Dunia ini bebas, namun kita punya agama yang memagari kita untuk tetap lurus”. Tentu saja hal ini berbeda sekali jika saja pendoman hidup dalam keluarga saya “Agama digunakan untuk memagari kita di dunia yang bebas ini”.

Mengapa?

Kedua orang tua, saya, dan adik-adik saya memandang, dunia ini sangat bebas dan tak se-alim yang diperlihatkan para alim ulama. Untuk itulah kita (saya dan adik-adik saya) diberitahu mengenai baik buruknya dunia dan diajari agama serta diwajibkan mengaji dan belajar agama. Namun tidak melupakan busuknya dunia. Saya pribadi seringkali bertanya dan meminta pendapat orang tua mengenai masalah cinta, sex, kenakalan remaja, dan kenakalan lainnya ketika saya beranjak remaja dulu. – yang sekarang mulai dilakukan oleh adik saya yang mulai beranjak remaja. Bahkan saya terbiasa menceritakan hal buruk yang pernah saya perbuat di saat remaja kepada kedua orang tua saya. Mulai dari yang dianggap wajar sampai yang paling tabu. Orang tua pun selalu memberikan respon masing-masing. Mulai dari penjelasan ringan, marah-marah, sampai pukulan fisik jika memang parah. – dulu, saya merasa sayalah yang paling busuk karena sering dimarahi orang tua karena nakal dan bebas. Sekarang, saya sadar banyak yang sama busuknya dengan saya. Namun, akibat orang tua saya percaya bahwa saya tidak akan mengulangi lagi, maka saya berusaha untuk tidak mengulangi. Dan kalaupun nafsu membuncah, saya tetap berani mengulangi dengan berani bertanggung jawab dan bercerita pada kedua orang tua saya. Dan semakin saya banyak bercerita, semakin sering orang tua memberikan solusi untuk keluar dari kasus ini. Alhamdulillah…

Dampak dari terbukanya saya kepada orang tua adalah saya menjadi bisa membentuk kepribadian dan tahu betul hidup tanpa penuh kemunafikan di depan orang tua. Orang tua saya pun menjadi percaya kepada saya untuk menjaga diri sendiri tetap dalam koridor.

Entahlah, meruntun cerita simpang siur di atas, sebenarnya siapa yang harus bertanggung jawab atas pemikiran liberal yang saya miliki ini saya juga tidak tahu. Bukan hanya saya, hampir semua orang yang saya kenal sama pemikirannya dengan saya. Hanya segelintir orang saja yang masih berpegang dan bermindset teguh pada agama. Sisanya, mereka memisahkan antara urusan kehidupan dan urusan akhirat. Hidup dalam kebebasan, dan agama yang tetap dijalani. Bukan hidup dengan agama sebagai hukumnya.

Dunia dan akhirat memang sudah benar-benar terpisah sekarang. Para pemuda-pemudi termasuk saya, membatasi dengan memberikan dinding yang besar di antara urusan dunia dan urusan akhirat itu sendiri. Padahal seharusnya, urusan dunia dan akhirat merupakan hal yang satu dan saling berdampingan.

Advertisements

One thought on “Liberal itu, Bingung Membedakan antara Pahala dan Dosa

  1. haha sebenarnya kamu udah tau jawabannya….
    tinggal di teguhkan aja dan direalisasikan…
    oya BTW masalahmu apa sih? apa dugaan ku benar ya? hahaha bisa kita bicarakan jangan sungkan… bahkan di dalam forum KSI kita sering bahas masalah2 personal. tapi nanti kalau ada masalah yang lebih privat bisa di bicarakan pada seseorang yang kamu bisa percaya…
    SUKSES….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s