Cintai Negeri Berarti Memajukan Negeri

Jika sudah begini. Bukan hanya orang-orang tertentulah yang memegang masa depan negeri ini. Tetapi saya, kita, orang-orang terdekat kita, orang-orang yang kita benci, dan bahkan, orang-orang yang tak pernah mau kita temui sekalipun. Semua memegang masa depan negeri yang besar ini.

Bahkan orang tak berpunya, tak berpendidikan, atau bahkan tak bermoral, memegang peranan penting untuk kemajuan negeri ini. Apalagi hanya sekedar masa depan. Yang mana masa depan negeri bisa saja baik atau buruk. Itu semua tergantung kecintaan rakyat terhadap tanah airnya. Mengapa demikian?

Latar belakang pendidikan, kewirausahaan, atau bahkan agama, tak menjamin membuat masa depan negeri ini lebih baik. Yang sangat menjamin adalah rasa cinta tanah air. Rasa cinta terhadap Indonesia. Percuma rasanya orang-orang hebat banyak hadir diseluruh negeri ini, tapi kecintaan terhadap negeri hanyalah omong kosong belaka.

Masa depan negeri ini dipegang oleh orang-orang yang mencintai negeri ini. Entah itu orang yang seperti apa. Entah bagaimana latar belakang kehidupannya. Namun, apabila melihat Indonesia dipandang sebelah mata, dia akan membela Indonesia sampai dia tak bisa membelanya lagi. Orang-orang seperti dialah yang memegang masa depan yang baik bagi negeri ini.

Mengapa saya mengulang-ulang statement mengenai “mencintai negeri” yang justru nampak membuat saya menghambur-hamburkan kata? Itu karena saya ingin semua orang mengerti, bahwasanya ada yang salah dengan kecintaan kita terhadap tanah air.

Banyak orang bilang, dan kita juga sering mendengar, seorang yang cerdaslah yang memegang masa depan bangsa. Seorang yang baik dan alim lah yang berhak memegang masa depan bangsa. Atau seorang wirausahalah yang memegang masa depan bangsa dengan ilmu dan pengalaman ekonominya. Tetapi, semua itu hanyalah omong kosong jika mereka tak mempunyai rasa peduli sedikitpun terhadap negeri ini.

Rasa peduli seperti apa?

Rasa peduli seperti, terenyuh ketika mendengar lagu wajib nasional. Termenung ketika mempelajari sejarah perjuangan bangsa, terkagum-kagum ketika melihat kearifan-kearifan lokal budaya bangsa, dan menangis ketika harga diri bangsa ini diinjak-injak.

Tapi bagaimana fakta yang ada?

Faktanya, kita sering kali lupa dan tak mengindahkan seberapa besar negeri ini. Seberapa hebat dan kuatnya Indonesia dibalik semua propaganda media yang mana lebih banyak memberitakan aib negeri, dan hampir tidak pernah memberitakan kemajuan yang terjadi pada negeri ini. Sikap optimisme dan rasa cinta tanah air mulai luntur di antara pemuda-pemudi negeri ini. Padahal pemuda-pemudi tersebut tentunya calon orang yang cerdas, baik, arif, alim, wirausahawan, kreatif, dan inovatif, bahkan sainstis. Ironisnya, rasa benci semakin telah menggerogoti jiwa pemuda-pemudi yang seharusnya jiwa tersebut penuh dengan cinta.

Siapa yang harus disalahkan? Tidak usah ada yang disalahkan. Tapi kita dapat melakukan suatu hal kecil yang mungkin membawa sedikit perubahan di sekeliling kita.

Jika kita memiliki seorang adik, atau sanak keluarga yang masih di bangku sekolah dasar atau menengah, jangan biarkan dia menonton berita di televisi terlalu sering. Tapi perbanyak untuk mengajak dia untuk mengenali budaya bangsa. Bagaimana kearifan lokal kita yang luar biasa. Dan  bagaimana hebatnya sejarah pahlawan kita. Mengapa demikian? Kalau saya boleh jujur, sebenarnya menonton kartun lebih baik daripada menonton berita televisi yang kebanyakan memberitakan kriminalitas dan kejahatan. Istilah media “bad news is good news” benar-benar kentara di sini. Di sinilah lahir jiwa pesimis dan matinya jiwa optimis dalam calon-calon pemuda kita. Untuk kasus seperti ini, hal yang sangat tepat dilakukan adalah membuatnya berbalik mindset, dengan menyuguhkan fakta bahwasanya Indonesia itu hebat dan besar. Dari Sabang sampai Merauke, dan dari Rote sampai Talaud, menyimpan begitu banyak budaya yang tak bisa dilupakan. Rasa cinta yang tercipta sejak dini akan membuatnya menjadi pemeran penting pemegang masa depan bangsa.

Jika kita memiliki seorang teman yang sering jengkel akan negeri ini (tidaklah sulit untuk mencarinya), maka ajaklah dia membuka internet. Bukalah website dan artikel mengenai pembangunan, prestasi, dan kehebatan Indonesia. Kenapa tidak kita ajak saja membuka tentang budaya bangsa? Sebaiknya jangan. Karena pemuda-pemudi tak menyukai mengenai budaya bangsa apabila dia belum memiliki kecintaan terhadap bangsa ini. Ini justru akan menimbulkan “omong kosong” di otaknya.  Beritahukan dia bahwasanya Indonesia akan menyusul Malaysia, Indonesia sudah memulai pembangunan jalur kereta di Sulawesi. Indonesia sudah mempunyai tol atas laut di Bali. Indonesia akan mempunyai jalan tol megah di Sumatera. Indonesia mempunya aset yang luar biasa di Papua. Dan Indonesia mengendalikan kekayaan alam di Kalimantan. Dan lain masih banyak lagi. Anak muda sangatlah identik dengan rasa penasaran yang tinggi. Dan ketika dia mulai penasaran, dia akan mencari tahu, dan ketika dia mencari tahu, dia akan menemukan betapa hebatnya negeri ini. Setelahnya, rasa cinta akan timbul. Selanjutnya, budaya mencintai akan sedikit demi sedikit lahir di dalam dirinya.

Lalu bagaimana jika kita sendiri tidak memiliki rasa cinta tanah air atau bahkan optimis saja susah?

Mari kita lihat dengan cara lain. Kita sebagai pemuda memiliki dua sudut pandang. Dan kita selalu menggunakan satu sudut pandang yang mana sudut pandang tersebut adalah sudut pandang umum atau sudut pandang yang sering orang-orang gunakan. Jika kita berada di sekitar orang-orang yang pesimis terhadap negeri. Itulah masalah kita yang sebenarnya.

Sempatkan membaca satu berita saja tentang kemajuan negeri ini. Atau jika malas membaca, sempatkan mendengarkan satu cerita saja dari teman kita yang mengetahui kemajuan negeri ini. Teman kita yang memiliki tugas untuk membuka mata kita. Satu berita baik akan mempengaruhi pola pikir kita. Mengapa? Kebaikan adalah sebuah racun yang lebih dahsyat dari pada racun terburuk sekalipun. Karena kebaikan tidak menyebabkan kehancuran, maka satu racun yaitu berita baik akan membuat sebuah gangguan terhadap keburukan-keburukan yang ada di otak kita. Dalam hal ini adalah jiwa pesimis yang kita miliki. Jika sudah, sempatkanlah diri ini untuk bertanya pada orang-orang yang berjiwa besar, bagaimana kita bisa memulai untuk mencintai. Beliau-beliau akan membuka mata kita. Cobalah.

Solusi-solusi di atas, dan sebenarnya masih banyak solusi yang bisa kita buat agar rasa cinta semakin kentara, saya tawarkan bukan hanya untuk orang-orang hebat atau orang-orang cerdas. Tapi untuk semua orang. Bahkan untuk preman pasar sekalipun. Kenapa?

Baik atau buruk seseorang hanyalah penilaian manusia yang mana penilaian tersebut selalu salah. Tapi rasa cinta, merupakan penilaian mutlak yang mana kita semua sepakat, bahwasanya cinta itu baik. Seorang penjahat, jika dia mencintai tanah airnya, dia tidak akan melakukan sebuah kejahatan terhadap negaranya. Paling banter kejahatan sesama manusia. Seorang tak berpendidikan yang cinta tanah air, dia akan selalu mencoba untuk tidak membuat susah negaranya. Paling banter meminta secuil anggaran untuk pendidikan gratis baginya. Seorang tak bermoral sekalipun, yang cinta tanah air, dia tak akan mencoba melawan kehormatan negerinya. Paling banter dia akan menodai kehormatan dirinya sendiri dan orang lain.

Tapi lihatlah? Seorang yang cerdas dan berpendidikan tinggi, tanpa rasa cinta tanah air, dia akan benar-benar membuat negaranya terpuruk. Dalam kasus ini, lihatlah koruptor. Seorang wirausaha sukses yang merupakan pemegang perekonomian bangsa, tanpa rasa cinta tanah air, dia akan benar-benar menjadi penjilat untuk negaranya. Dalam kasus ini, lihatlah tukang suap. Dan, seorang sainstis atau ahli dalam ilmu pengetahuan, tanpa cinta tanah air, dia akan tega mengkhianati negerinya dan tak peduli melihat keterpurukan negerinya. Berapa banyak orang yang telah pindah kewarganegaraan dengan membawa kecerdasan ilmunya dan membiarkan negeri ini begitu saja? Itu semua merupakan sebuah kejahatan yang melebihi apa yang dilakukan orang-orang yang menurut kita buruk di atas.

Lalu mana yang lebih baik? Tentu saja yang lebih baik adalah orang-orang hebat yang mencintai tanah airnya.

Jika seandainya kita dianggap sebagai orang-orang yang hebat oleh sekeliling kita, dalam kasus ini, seorang mahasiswa sebuah sekolah kedinasan paling dikenal, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Akankah kita melakukan suatu hal yang buruk sehingga kita menjadi orang hebat yang merugikan negerinya? Tentunya, yang pertama kita tanyakan pada diri kita adalah apakah kita mencintai tanah air ini?

Jika sudah begini. Bukan hanya orang-orang tertentulah yang memegang masa depan negeri ini. Tetapi saya, kita, orang-orang terdekat kita, orang-orang yang kita benci, dan bahkan, orang-orang yang tak pernah mau kita temui sekalipun. Semua memegang masa depan negeri yang besar ini.

Masa depan negeri ini, sejujurnya, ada di tangan semua orang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s