Antara Dibully atau Dibantai

Dan memang begitu faktanya. Mereka yang selalu membantaiku habis-habisan adalah mereka yang selalu membantuku dalam setiap kesusahan. Andai saja aku tersinggung ketika aku dibantai, wah, bakal hilang semua teman-temanku yang bisa bantu aku dalam tiap kesusahan.

Saya ingin membedakan garis penting antara dibully dan dibantai. Haha.

Dibully atau bahasa kerennya bullying adalah keadaan di mana seseorang dibuat tidak berkutik dengan cara melakukan kekerasan baik fisik maupun perkataan. Yang sangat menusuk hati, dan parahnya dilakukan secara berkesinambungan. Dan biasanya, pelaku pembullyan adalah orang yang berkuasa dalam sebuah komunitas.

Sedangkan dibantai, (saya tidak bisa menemukan istilah yang tepat untuk ini) adalah keadaan di mana seseorang dibuat tidak berkutik (juga) dengan cara melakukan kekerasan hanya dengan perkataan dan sedikit kekerasan fisik. Ditambah, dibantai ini seringkali dilakukan oleh orang-orang yang “berani” melakukannya saja.

Apa sih sebenarnya perbedaan dari keduanya? Lihat saja, keduanya sama-sama membuat orang lain tak berkutik bukan?

Memang, keduanya sama-sama membuat seseorang tak berkutik. Tetapi, lihatlah tujuannya. Hanya untuk bersenang-senang dan menunjukkan kekuasaan, atau bersenang-senang dan menambah keakraban?

Bully, merupakan kejahatan luar biasa yang mana seharusnya, para pelakunya diberikan hukuman yang setimpal. Beruntunglah karena kita memiliki Tuhan yang Maha Adil yang akan menghakimi para pelaku bullying yang kurang ajar tersebut. Sementara bantai, adalah kejahatan semu yang dilakukan tanpa adanya niat kejahatan. Tergantung dari cari pandang kita apakah kita menganggapnya jahat, atau sekedar bercanda.

Mengapa ini penting untuk dibedakan? Ini semua karena mempengaruhi pola pertemanan dan jawaban atas pertanyaan “mengapa saya tidak mempunyai teman?”

Perlu dibedakan apakah kita atau saya sedang dibully atau dibantai. Jika suatu tindakan mengandung perkataan yang tidak bisa ditoleransi dalam sudut pandang umum, misal seseorang mengata-ngatai orang tua dengan sebutan kotor, atau melakukan kontak fisik langsung untuk dibuat tidak berkutik. Maka itulah yang namanya bullying. Doakan saja mereka semua musnah atau dimusnahkan. Haha. Apalagi yang bisa kau lakukan selain berdoa? Iya kan?

Namun, jika mereka hanya menghina mu dengan kata-kata. Atau banyak orang memberondongmu dengan banyak kata-kata yang membuatmu tak berkutik, bahkan malu. Saya tekankan JANGAN TERSINGGUNG SEDIKITPUN. Kenapa? Faktanya, orang yang melakukan itu semua adalah teman-teman baikmu. Dan ketika kau tersinggung, engkau lupa akan semua kebaikan yang pernah dia lakukan, atau sebuah kebaikan yang mungkin bisa saja dia lakukan. Jika kau gampang tersinggung, saya pastikan kau tidak akan memiliki banyak kawan.

Fasenya begini (saya sedang membahas pembantaian), pertama saling kenal, lanjut dengan dekat dan akrab, kemudian mereka semua seolah berubah karena selalu membuatmu menjadi bahan kalah-kalahan atau tertawaan.

Banyak orang, dengan bodohnya merasa tersinggung ketika mengalami fase terakhir tersebut. Apa yang terjadi? Semua kedekatan dan keakraban yang didapat di tahap kedua akan sirna. Mereka akan merasa takut dan canggung untuk berteman denganmu lagi. Karena apa? Karena engkau begitu gampang tersinggung. Membuatnya tidak nyaman. Ini aneh memang. Pertanyaan yang mungkin terbesit adalah “kenapa saya harus selalu jadi bahan olokan untuk teman-temanku? Mana mau aku jadi begitu?”

Perlu diketahui, menjadi bahan olokan inilah yang membuatmu begitu berkesan. Kadang olokan itu sangat pahit, tetapi ingat, mereka itu pernah akrab denganmu dan selamanya akan begitu. Mereka yang membantaimu adalah teman-temanmu sendiri. Niat mereka hanya untuk tertawa. Bukankah semua teman begitu? Jika seorang teman saja sudah serius terus bawaannya, itumah namanya pacaran, bukan temenan. Haha.

Jadi poin pentingnya, jika ada seseorang yang membuatmu tak berkutik, lihatlah dia. Apakah dia pernah akrab denganmu? Jika iya, maka jangan tersinggung, nikmati saja. Jika tidak, lawan dia atau sumpahi dia.

Saya sendiri korban pembantaian selama entah berapa bulan. Tulisan ini terinspirasi akibat perkataan si Baihaqi yang tanya “kamu betah kan yan? Masih 3 bulan lagi.. yang sabar ya..”. Saya hanya tertawa. Sementara dalam hati (sekarang saya tulis di sini) berkata “Ya betah lah Bai, saya tidak merasa di bully, sedangkan kau, dan mereka semua, teman baik yang saya jamin selalu membantuku tanpa pamrih. Ada pamrih paling juga sedikit. Hahaha”

Dan memang begitu faktanya. Mereka yang selalu membantaiku habis-habisan adalah mereka yang selalu membantuku dalam setiap kesusahan. Andai saja aku tersinggung ketika aku dibantai, wah, bakal hilang semua teman-temanku yang bisa bantu aku dalam tiap kesusahan.

Mohon maaf atas perubahan kata dari saya menjadi aku dan menjadi saya lagi. Saya tidak tahu penggunaan mana yang lebih pas. Apakah dengan “saya” atau “aku”. Haha.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s