Tuhan, Engkau sudah Tiga Kali Melakukan ini.

Kehidupan ini sudah cukup getir untuk dipikirkan, maka tak usah dipikirkan. Namun jika kehidupan tak pernah kita pikirkan, maka rasa-rasanya tidak bijaksana sikap kita terhadap kehidupan kita sendiri. Jika sudah tidak bijaksana, maka kehidupan ini akan menjadi cukup getir untuk dipikirkan.

Saya buktikan saya mampu menahan tangis akan setiap masalah kehidupan yang saya hadapi di sini. Tetapi saya belum mampu menahan tangis jika orang-orang yang saya sayangi pergi dari dunia ini, sementara saya tak bisa di sisi mereka karena keadaan saya yang seperti ini.

Tulisan kali ini berisi curhatan saya pribadi. Saya tahu tulisan ini pasti bisa dibaca oleh umum. Tetapi tujuan saya bukanlah menceritakan betapa lemahnya saya akan hidup ini. Bukan! Tetapi sekedar mengingatkan, bahwasanya hidup itu kejam sekali. Dan kalian semua yang membaca tulisan ini, janganlah menjadi orang yang lemah dan tak berdaya seperti saya. Sungguh tiada guna.

Nyatanya, segala problematika kehidupan di sini belum cukup menyusahkan saya, jika itu dilihat dari sudut pandang Tuhan Yang Maha Esa. Kenapa? Saya pikir saya mendapatkan cobaan yang sudah cukup berat untuk saya lalui, tetapi nyatanya, Tuhan memberikan cobaan yang lebih-lebih berat dari yang saya alami sekarang. Entah ini sebuah cobaan, atau (yang saya khawatirkan) itu sebuah azab atas segala “tidak tahu diri” saya kepada-Nya.

Saya cukup kuat, jika menahan sakitnya merasa menjadi orang yang susah dan tidak berpunya. Kalian tahu apa yang lebih sakit dari ketidakpunyaan harta? Yang lebih sakit adalah ketika kita merasa tidak mampu, dan kita kemudian merepotkan orang-orang disekitar kita. Dan sialnya, seringkali orang yang kita repotkan ini adalah orang-orang terbaik di kehidupan kita. Saya bisa melewati sakitnya itu. Saya bisa. Saya tekankan saya bisa. Karena sejauh ini saya berhasil. Tetapi, jika kekuatan saya di uji ketika seseorang yang saya cintai pergi? Saya masih ragu untuk melawannya.

Tuhan sudah tiga kali melakukan ini pada saya. Saya sungguh takut sekarang. Saya ingin cepat-cepat pulang jika sudah begini ceritanya. Saya ketakutan merasa jauh dari rumah. Saya belum punya solusi untuk ini.

Setelah beberapa minggu tiba di sini, kemudian 4 bulan yang lalu, dan berita terakhir adalah kemarin… secara berturut-turut, mereka semua meninggalkan saya di saat saya sendiri tak bisa menghadari penghormatan terakhir untuk mereka. Sungguh sedih rasanya. Dan kemarin, adalah berita duka paling menyakitkan. Karena beliau adalah orang yang sangat saya cintai. Sama seperti orang tua saya sendiri. Saya takut sekarang. Saya benar-benar ingin pulang sekarang. Sekedar menjenguk keadaan keluarga dan mengunjungi makam mereka semua. Saya tidak tahu harus menahan kesedihan ini dengan cara apa.

Jika sudah begini saya bertanya? Kenapa saya lemah sekali dalam menghadapi masalah ini? Kenapa Tuhan tidak pernah menguatkan hati saya untuk menghadapi segala pahitnya kehidupan dan kejamnya kehidupan yang tanpa ampun ini? Sementara semua teman-teman saya bisa tertawa girang, yang saya yakin mereka juga memiliki masalah yang sama getirnya dengan saya. Kenapa saya tidak bisa seperti teman-teman saya yang kuat dan mampu untuk tetap tertawa?

Ah Tuhan. Aku tahu Engkau pasti membaca tulisan ini. Aku tidak meminta revisi apa-apa atas skenario yang Engkau berikan dari dulu dan untuk masa yang akan datang. Tetapi aku hanya minta, atur ulang waktunya. Beri aku kesempatan untuk bernafas bahagia dulu, sebelum Engkau memberikan cobaan yang akan membuat nafasku sesak kembali. Itu saja Tuhan. Jangan kau berikan semuanya secara bertubi-tubi.

Kehidupan ini sudah cukup getir untuk dipikirkan, maka tak usah dipikirkan. Namun jika kehidupan tak pernah kita pikirkan, maka rasa-rasanya tidak bijaksana sikap kita terhadap kehidupan kita sendiri. Jika sudah tidak bijaksana, maka kehidupan ini akan menjadi cukup getir untuk dipikirkan. Jika kehidupan ini sudah getir untuk dipikirkan, maka tak usah dipikirkan. Mengapa begini terus alurnya? Ya kehidupan ini sungguh kejam. Tiada pernah ada kebahagiaan karena kebahagiaan bukan datang dari kehidupan. Tetapi dari hati. Sialnya, hati yang saya miliki sulit sekali untuk di ajak berbahagia jika mengingat hidup yang kejam ini. Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s