Quarter Life Crisis

Saya baru paham mengenai The Quarter Life of Crisis. Teror terberat manusia yang bisa menyebabkan kita ingin bunuh diri jika tidak tahan dengan teror tersebut. Quarter Life Crisis, teror yang sungguh menyakiti hati, pikiran, dan raga manusia, secara perlahan-lahan, sampai berada di titik paling parah sepanjang hidupnya. Saya membaca mengenai ini di Kaskus. Dan ternyata, bukan hanya saya yang mengalami Quarter Life Crisis, atau simpelnya, merasa hidup paling berat dibanding yang lain.

Kita bahas dulu mengenai apa itu Quarter Life Crisis.

Quarter Life, artinya seperempat kehidupan. Yang di maksud seperempat kehidupan adalah masa di mana kita menginjak usia antara 15-25 tahun. Ya, usia ini adalah usia di mana manusia ingin merasa bahagia di hidupnya. Tentu saja, kadar bahagia tiap orang berbeda-beda. Crisis yang di maksud di sini adalah, ketika kebahagiaan yang sangat diinginkan tersebut, ternyata sangat mustahil didapatkan. Sehingga yang didapat hanyalah rasa hancur.

Quarter Life Crisis menyerang semua orang. Atau setidaknya, menyerang orang-orang yang tak mensyukuri hidupnya.

Di usia-usia remaja (15-25 tahun), kita pasti memimpikan hidup nyaman dengan gaya kita. Ada yang berkata, hidup nyaman itu ketika :

  • Aku bisa berkumpul dengan ayah-ibuku (padahal mereka sudah tiada, entah karena meninggal atau berpisah karena masalah) – Kasus A
  • Aku bisa hidup bebas tanpa aturan (padahal mereka hidup dalam keluarga yang taat dan sempurna iman sehingga penuh dengan aturan yang mengikat) – Kasus B
  • Aku bisa hidup bersama orang tua yang kaya dan bergelimang harta (padahal mereka hidup dalam keadaan susah dan berkurangan harta) – Kasus C
  • Aku bisa hidup sendiri, mengatur hidupku, jauh dari kerangka orang tua (padahal mereka hidup bersama orang tua yang selalu mengaturnya) – Kasus X
  • Aku bisa hidup di kehidupan yang tertib dan bersama keluarga yang baik (padahal mereka hidup bersama keluarga yang hancur dan tak bermoral) – Kasus Y
  • Aku bisa hidup sederhana, dengan tenang (padahal mereka hidup bosan dengan kesendirian dan kekayaan yang tiada gunanya tanpa kebersamaan dengan keluarga) – Kasus Z
  • Β Dan masih banyak lagi

Apa yang terjadi jika apa yang kita impi-impikan tidak tercapai? Atau setidaknya sangat susah kita capai? Tentu akan merasa terpuruk bukan. Anehnya, kita seringkali merasa terpuruk ketika kita β€œingin” merasa terpuruk saja. Nah, itulah yang namanya Quarter Life Crisis.

Quarter Life Crisis bisa dilawan dengan BERSYUKUR. Itu saja!

Saya, dan semua orang yang seumuran saya, seringkali lupa arti bersyukur. Karena apa? Otak kita tak pernah diprogram untuk hidup apa adanya. Padahal hati ini selalu mampu hidup apa adanya. Kita juga jarang sekali belajar susah dari orang lain. Belajar yang bagaimana?

Saya ambil contoh Kasus C dan Kasus Z.

C merupakan seorang yang sederhana. Hidupnya susah, dan penuh penderitaan (menurutnya). Yang diinginkannya adalah kekayaan. Yang membuatnya hidup sedikit bermartabat (menurutnya). Kenyataan menunjukkan sebaliknya. Sialnya, C mengalami ini di saat dia remaja. Di mana kehidupan seorang remaja haruslah sempurna. Benar kan?

Sebaliknya, Z merupakan orang yang kaya. Tapi hidupnya kosong karena kekayaan tidak mengantar dia pada apapun. Yang dia tau hanya bersenang-senang, tanpa adanya perjuangan. Ketika ditimpa masalah, tak ada siapapun yang menemani. Orang tuanya sibuk bekerja. Padahal apa yang dibutukah sebenarnya adalah kebersamaan.

Saya rasa, dua kisah di atas sudah mainstream di televisi-televisi sehingga kita tahu endingnya.

Namun terkadang, televisi lupa menyampaikan, bahwasanya di saat Quarter Life Crisis melanda, alangkah baiknya kita melihat sekeliling.

  1. Lihatlah betapa hidupmu berguna

Setiap kesusahan ada arti yang pasti kita bawa. Itulah kehidupan. Jika saya, dan kita semua, merasa hidup ini tidaklah berguna, atau paling parah merasa tidak berguna, maka perjuangkanlah hidupmu. Karena kebergunaan akan hadir setelah kita melewati fase (merasa) tidak berguna. Yakinlah Tuhan menciptakan semua kehidupan ini berguna.

  1. Lihatlah betapa hidup tidaklah sendiri

Banyak teman, banyak kawan, sahabat, keluarga, orang tua, selalu mensupport kehidupan kita. Lihatlah betapa mereka selalu membantu mu dengan penuh hati. Itulah yang membuatmu berarti dalam kehidupan ini. Jangan ragu untuk bercerita kepada orang yang paling kamu percaya. Karena beban ini tak seharusnya kau pikul sendiri. Manusia itu terlalu lemah. Manusia membutuhkan (minimal) manusia lainnya.

  1. Lihatlah bagaimana Tuhan membuat hidupmu sedemikian rupa

Ini poin terakhir yang paling paling paling penting. Kenapa saya menuliskan kata paling 3x? Karena saya tidak bisa lagi membandingkan tingkat penting ini dengan apapun. Ketika kau merasa miskin dan kekurangan, jangan pernah kau ratapi itu! Tapi bayangkan kau orang yang kaya. Bayangkan! Bagaimana kehidupan orang kaya yang susah itu. Bayangkan dengan kekayaan, kau akan menjadi anak yang manja, tak tau arti perjuangan, orang tuamu bakalan sibuk total, hidupmu bakal dekat dengan maksiat, dan kamu tidak kuat Iman karena kau bergelimang harta. Yang tentunya akan mengantarkanmu pada lembah dosa. Lalu, rasakan kehidupanmu yang sekarang. Bagaimana kau bisa lebih kuat dari teman-temanmu. Bagaimana teman-temanmu mengeluh ketika kelaparan sedangkan kamu tidak. Bagaimana kamu masih bisa tertawa dalam kemiskinan padahal temanmu yang kaya saja hidupnya serasa suram. Faktanya, Tuhan telah membuat hidupmu paling sempurna. Dengan keadaan yang sedemikian rupa, engkau akan menjadi orang yang kuat sedemikian rupa. Itulah arti sesungguhnya bahwa hidupmu ini telah sempurna di mata Tuhan.

Ingatlah, logika kita terlalu tumpul jika dibandingkan logika Tuhan. Yakinlah Quarter Life Crisis pasti berlalu. Yakinlah, fase ini adalah fase untuk meningkatkan kadar cinta kita pada Tuhan dan kehidupan yang telah diberikan oleh Nya.

Teror ini sangat terasa berat bagi mereka yang tidak bisa bersyukur akan hidupnya. Teror ini akan mematikan untuk hati dan jiwa yang telah mati dan jauh dari rasa syukur. Tetapi, teror ini bisa menjadi kawan apabila kita bisa mengendalikannya dengan kesabaran kita. Gampang memang, berkata seperti ini dan seluruh tulisan ini. Tapi percayalah. Saya mengalami ini sekarang. Saya masih dalam fase Quarter Life. Dan beruntunglah saya, memiliki Tuhan yang selalu menjaga saya. Beruntunglah saya yang mempunya orang tua yang tegar, teman-teman yang selalu membantu, dan semua orang yang sangat berarti.

Sekali lagi, lihatlah sekeliling. Lihatlah betapa hidupmu sungguh berharga. Dan lihatlah betapa engkau lebih beruntung dan lebih tegar di banding siapapun.

Β 

Advertisements

7 thoughts on “Quarter Life Crisis

  1. tulisannya bagus mas.. rasa2nya juga saya mengalaminya untuk sekarang.. berasa hidup kurang berarti.. dan selalu mempertanyakan eksistensi diri ( apa yang telah saya capai selama ini? )
    BTW, thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s