My First False Awakening – Ketika Aku Salah Bangun

Sering saya mendapatkan lucid dream, tapi baru sekali merasakan false awakening. Mungkin kedua istilah tersebut cukup asing terdengar kecuali sering nongkrong di forum kaskus mengenai lucid dream dan sebangsanya. Akan saya jelaskan dahulu mengenai dua hal tersebut.

Lucid dream adalah fenoma di mana kita menjadi dream bender. Apa itu dream bender? Dream bender adalah pengendalian mimpi. Simpelnya, kita sadar kita sedang bermimpi. Dan ketika kita sadar, kita akan bisa mengendalikan mimpi kita. Saya dahulu sering ber-lucid dream ria. Terakhir kelas XI SMK, dengan adegan favorit menjadi pengendali air dan adegan romantis. Hihi. Semua orang bisa melakukan lucid dream. Tentu dengan latihan rutin. Jika ingin mencoba, bisa dicari di google mengenai lucid dream. Akhir-akhir ini, saya memulai lagi untuk ber-lucid ria. Ya hitung-hitung senang-senang dalam mimpi mengingat hidup yang susah ini. Haha.

False awakening adalah fenomena di mana kita salah bangun. Begini penjelasan simpelnya. Ketika kita bermimpi atau berlucid, terkadang kita akan mengalami false awakening. Bahasa indonesianya salah bangun. Salah bangun adalah kondisi di mana kita terbangun, tapi sebenarnya kita masih tidur. Susah menjelaskannya. Intinya, kita terbangun, tapi bangun itu ternyata masih mimpi juga.

Film Inception merupakan satu-satunya film yang saya tahu, yang menjelaskan mengenai lucid dream.

Di sini saya akan berbagi mimpi saya yang lucid, dan pertama kalinya dalam seumur hidup, saya mengalami false awakening. Tulisan ini berdasarkan jurnal mimpi yang saya tulis tadi malam. Mungkin ada sedikit improvisasi. Tetapi tulisan saya dalam jurnal mimpi benar-benar dari ingatan saya akan mimpi saya. Tulisan tangannya sangat jelek, karena bangun tidur langsung menulis. Harap dimaklumi.

Saya gunakan gaya penulisan sudut pandang orang pertama agar memudahkan penulisan.

Bagian I – Lucid Dream

Aku berada di sebuah jalanan sepi. Seperti di sebuah lokasi pada film Captain America 2 – The Winter Soldier, di sebuah sudut jalan entah di mana.

Aku melihat sebuah mobil hummer bewarna hitam melintas cepat. Aku sekilas melihat teman sekelasku Dimas. Iya, Dimas sedang diculik. Seketika aku berlari. Dan ajaibnya aku berhasil masuk di mobil tersebut. Ada sebuah tanda lingkaran berbentuk spiral di mobil tersebut.

Aku tanyai Dimas mengenai kenapa dia berada di sini. Dia bilang dia diculik. Tapi perhatianku teralihkan oleh bentuk mobil yang kurang lengkap. Seperti mobil ini tanpa atap, dan kaca spion yang bolong. Ketidaklengkapan detail tersebut bewarna hitam pekat. Bagaikan ruang kosong. Kemudian saya tanyai Dimas yang berada di sampingku.

“Dimas, mobil ini kurang lengkap detailnya. Lihatlah sekeliling?” kataku seraya menunjukkan atap mobil dan kaca spion depan. Entah bagaimana kita berdua bisa melihat kaca spion depan.

“Iya, saya akan perbaiki” kata Dimas.

Kemudian mobil dengan sendirinya menjadi lengkap. Atap dan kaca spion yang kurang lengkap detailnya berubah menjadi detail yang sempurna. Kali ini, mobil ini benar-benar mobil. Namun di saat yang sama aku bingung sekali. Bagaimana bisa Dimas merubah detail mobil ini.

Kemudian dua orang teman tiba-tiba datang. Ada Baihaqi, dan ada juga Pandu. Di saat yang sama, aku mulai sadar ini merupakan sebuah mimpi.

Salah satu dari mereka berdua menjelaskan suatu hal. Menjelaskan yang pada intinya, mimpi ini adalah milik Dimas. Yang membuat desain akan mimpi ini adalah Dimas. Kita bertiga tidak bisa menciptakan sebuah benda apapun atau bahkan kondisi sekecil apapun. Ini konsep yang aneh. Sepertinya aku masuk dalam mimpinya Dimas saja. Aku dan kedua temanku.

Aku mengangguk tanda setuju. Kemudia aku berteriak ke Dimas. Menyuruhnya menciptakan sebuah objek baru. Iya, sebuah senjata api laras panjang. Dimas pun membuatnya. Kemudian kami semua menembaki bagian depan mobil. Seketika, aku berteriak, “Ini mimpi.. Ini mimpi.. kendalikanlah!”. Aku pun menampar-nampar wajahku. Mencoba meyakinkan diri. Iya. Aku tidak merasa sakit sama sekali. Ini benar-benar mimpi. Aku pun berteriak keras “Ini mimpi!!”.

Bagian II – False Awakening

Sayangnya aku terbangun. Sesaat setelah aku berteriak. Aku tertidur dalam kasur kost-ku. Di sampingku David. Tentu saja dia sedang tertidur. Kemudian aku bangun. Hari sudah subuh. Entah kenapa, tidak seperti biasanya. Aku pergi ke masjid. Setelah sholat, aku bertemu dengan Pandu, Afif, Baihaqi, Haidar dan Dimas. Aku pun mengajak mereka semua berkumpul. Dan membahas mimpiku tadi.

Dalam diskusi tersebut, kami semua membahas mengenai bagaimana aku bisa masuk ke dalam mimpinya Dimas. Ternyata Pandu, dan Baihaqi juga mengalami hal yang sama. Artinya, adegan di mana kami berkumpul tak ubahnya seperti adegan di mana kami bersatu dalam mimpi. Benar-benar luar biasa. Sementara Afif dan Haidar makin penasaran, aku menjelaskan mimpi tersebut. Bagaimana detail mobil yang tidak lengkap, lambang yang ada dalam mobil, dan sebagainya. Aku, dan Afif mencoba memecahkan kode lambang yang ada di mobil. Dan entah bagaimana, yang lain menghilang.

Kemudian karena kami berdua kebingungan dengan kode dan fenomena yang ada, kami pun memutuskan pulang saja. Di gerbang masjid ada seseorang yang berteriak ke arah kami. Seseorang tersebut adalah pegawai Paniki Jaya yang mana dia juga sering ke masjid. “Hati-hati dengan Lucid Dream!!!” kata orang itu berteriak.

Aku pun menjawab “Iya, saya juga takut false awakening…”.

Dan, terakhir aku melihat wajah Afif yang tersenyum. Kemudian semua hilang.

Saya pun terbangun. Membuka mati lagi untuk kedua kalinya. Benar-benar bingung pada menit-menit pertama. Saya benar-benar mengamati sekeliling. Saya lihat David, dia sedang tertidur. Saya lihat jam, menunjukkan pukul hampir jam 3 dini hari. Aku dengarkan detakan jam, dan terdengar nyaring. Saya sering menggunakan detakan jam untuk menentukan apakah saya sedang bermimpi atau tidak. Karena dalam mimpi, jam tidak pernah berdetak. Kali ini, saya benar-benar menyimpulkan saya sudah bangun dengan utuh.

Kemudian saya mengambil binder saya, saya catat semua yang saya ingat. Catatan tersebut lah yang saya maksud di atas. Yaitu sebuah jurnal mimpi. Setelah selesai menulis dengan tulisan bak cakar ayam. Saya ingat bahwa saya ada tugas mengirim email ke dosen Aplikom. Saya lakukan itu. Sekaligus mengirim pesan kepada Dimas. Karena saya benar-benar penasaran, apakah betul fenoma penggabungan mimpi itu nyata?

Sebelum tulisan ini dibuat, Dimas sudah mengkonfirmasi bahwa dia bermimpi hal yang berbeda. Maka saya simpulkan tidak ada yang namanya penggabungan mimpi. Itu artinya, fenoma tadi malam adalah bukan lucid dream. Karena saya tidak mengendalikan mimpi tersebut. Mimpi itu mimpi biasa, hanya ceritanya yang unik, seolah-olah Dimas lah pengendalinya. Tetapi, saya benar-benar mengalami False Awakening. Merupakan pertama kali False Awakening seumur hidup saya. Beruntunglah si Dimas, Baihaqi, Afif, Pandu, Haidar, dan pegawai Paniki Jaya yang entah siapa namanya yang bergabung dengan adegan tersebut. Pasti akan selalu teringat karena mimpi adalah konsep bawah sadar.

Tulisan ini saya persembahkan untuk tokoh-tokoh dalam mimpi saya dan false awakening saya. Entah apa maksudnya kenapa kalian begitu beruntung dan saya begitu apes mendapatkan tokoh-tokoh seperti kalian. Hahaha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s