Terbaik namun Terbengkalai

Kuucapkan kembali dalam-dalam sebuah kalimat penyemangat, “Jika Tuhan sudah mengizinkan aku di sini, maka Tuhan sudah menyediakan rezekinya.” Namun fakta bahwa aku di sini akan menghadapi ngerinya kelaparan dan kelantungan, ternyata mampu menggoyahkan sedikit sikap optimisku pada skenario Tuhan.

Catatan Kehidupan
Episode 3 – Terbaik Namun Terbengkalai

Baca episode sebelumnya – Tuhan Telah Lupa

Aku masih menerka-nerka, sekali lagi aku selalu mencoba menerka-nerka, mencari sisi kebaikan apa yang akan didapat dari hari-hari yang sialan ini. Sungguh benar-benar aku tak bisa berpikir apa baiknya. Apa yang harus kulakukan. Dan selalu saja pertanyaanku sama. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus membatalkan semua rencana ku?

Kepalaku sudah benar-benar penat. Aku tak bisa lagi melakukan apapun. Ayolah ayolah. Semua yang kulakukan ini tak boleh sia-sia. Aku mulai dari mana dulu untuk menyelasaikan masalah ini. Akupun terlanjur bingung.

Sejenak aku lupakan masalah ayahku yang tak menyetujuiku untuk sekolah di Manado. Aku melupakannya. Ada masalah-masalah yang lebih urgen. Aku kemudian membaca file berkas daftar ulangku. Aku lihat sejenak. Aku pun akhirnya mengeluh untuk sekian kalinya. Ternyata berkas ini wajib dikumpulkan saat daftar ulang. Dan, waktu daftar ulang tinggal lah seminggu lagi.

Bagaimana aku dan ibuku bisa mencari uang sekitar satu sampai dua juta dalam satu Minggu ini? Sekali lagi aku meragukan keadilan Tuhan ketika mengingat kenyataan pahit ini. Selalu aku ulang-ulang dalam hati. Berkata bahwa, “Tuhan kau ini adil atau tidak?” Dan sesekali mencoba mencari tahu apa arti semua ini.

Aku menemukan secercah harapan. Mungkin aku bisa tanya pada Om Gino. Apakah dia bisa membantu atau tidak?

Om Gino adalah adik dari ibuku. Ibuku merupakan yang tertua dari saudara-saudaranya. Om Gino adalah yang paling muda. Mereka semua tiga bersaudara. Om Gino sekarang bekerja di Kalimantan. Dia adalah seorang yang tentu saja, selalu membantuku dan ibuku jika kami benar-benar kesusahan.

Apa yang dilakukannya adalah wujud tanggung jawab, sekaligus balas budi.

Om Gino pernah sekali nekat meminjam uang di bank berjuta-juta atas nama temannya. Tentu saja jika atas nama dirinya sendiri, bank tidak akan percaya mengingat keadaan rumah kami yang compang-camping. Keahliannya adalah merayu orang-orang untuk bisa bekerja sama dengannya. Dan kala itu, Om Gino sukses merayu temannya untuk berbisnis dengannya.

Mereka berdua sepakat untuk berbisnis peternakan sapi, dan membuka soto ayam Lamongan. Dengan modal hutang, mereka semua mulai menjalankan usahanya. Tentu dengan sikap optimis dan tahan banting dari nasehat-nasehat orang-orang yang melarangnya untuk tergesa-gesa.

Karena tidak ada basic apapun, Om Gino pun mengalami kegagalan. Tentu kegagalan itu berdampak besar pada perekonomian di rumah kami. Sekolahku makin nampak berantakan. Berbanding sama lurus dengan wajah ibuku yang makin kusut. Karena dia memasrahkan semua hutangnya kepada ibuku. Kemudian dia pergi ke Kalimantan untuk bekerja.

Om Gino tipikal orang yang keras dan teguh pendirian. Dan ibuku tipikal orang yang selalu mengalah. Tentu saja ini berdampak pada cerita mereka. Yang akhirnya hutang di bank, terbengkalai. Dan ibuku adalah target penagihan bank dan temannya karena Om Gino.

Akhir dari cerita ini adalah dijualnya satu-satunya sawah milik ibuku. Yang seharusnya sawah itu sebagai salah satu sumber penghasilan yang bisa digunakan untuk menyekolahkanku. Karena ini semua, Om Gino senantiasa membantuku dan ibuku. Dan kali ini, aku berharap banyak darinya.

Tak disangka, Om Gino telepon. Bersamaan dengan itu, ibuku datang dengan wajah ceria. Kemudian aku memutuskan untuk mendengar ibuku berbicara dahulu. Dan membiarkan posisi handphone yang sedang bergetar.

“Ga, mamah lupa. Mamah kan masih punya arisan yang bisa dijual. Lumayan, mungkin bisa laku dua jutaan.” Kata ibuku bersemangat. Seolah ekspresinya menemukan rezeki nomplok. Padahal ini adalah pembuangan harta.

“Wah, Ega terserah mamah aja. Tapi gak apa-apa mah arisannya dijual?” kataku. Kemudian aku melihat handphone ku yang berhenti bergetar. Menandakan aku telah melawatkan satu panggilan masuk berharga. Yang mungkin saja sebuah bantuan.

“Iya gak apa-apa lah ga. Nanti temenin mamah tanya ke orang-orang ya. Semoga aja ada yang beli. Sudah kamu tenang aja” Ibuku berkata dengan penuh harap

“Iya mah.” Kataku cepat. Kemudian handphone ku bergetar kembali. Om Gino menelpon ulang. “Ada telepon dari Om Gino”. Kataku. Ibuku mengangguk tanda mengerti. Kemudian dia duduk di sampingku. Mungkin ingin pula mendengar percakapan yang penuh pengharapan ini.

Percakapan di mulai dengan basa-basi. Bagaimana kemarin malam apakah bisa tidur? Apa mimpiku sebelumnya sampai bisa masuk STAN. Dan sebagainya. Namun, beberapa menit kemudian, pembicaraan berubah menjadi curhatan seorang bocah yang lagi kesusahan dengan sesuatu.

Aku menceritakan semua kekurangan dan kesusahan yang aku alami. Bagaimana perasaan bingungku. Bagaimana logikaku tak bisa menelaah mencari penyelesaian untuk masalah ini. Maka dari itu, aku juga menceritakan bagaimana aku benar-benar mengharapkan Om Gino.

Kali ini Tuhan sedikit berbaik hati kepadaku.

Om Gino menyetujui untuk membantu biaya daftar ulangku. Kebetulan dia ada rezeki lebih. Uang itu bisa aku gunakan untuk melengkapi berkas daftar ulang. Paling tidak, masalah ini selesai. Aku bisa memulainya hari ini juga.

Beberapa saat kemudian, telepon kami sudahi.

Yang selanjutnya aku lakukan adalah memandang wajah ibuku. Di situ nampak romansa kelegaan yang luar biasa. Inilah yang paling aku sayangi dari sekian banyak ekspresi wajah di ibuku. Dan yang paling aku ingat adalah ekspresi kelegaan ini. Betapa indahnya ketika melihat seorang ibu yang luar biasa ini merasa lega.

Satu hari ini aku gunakan untuk mengurus sebagian keperluan daftar ulang. Kulakukan ini bersama Alif. Alif adalah seorang yang cukup tampan dan bersih perawakannya. Berbeda denganku yang nampak lusuh dan kampungan. Dia juga sama-sama diterima di STAN, dan mendapatkan lokasi pendidikan di Manado pula. Kami kemudian membuat sebuah kesepakatan untuk kost di sana berdua. Dan menjadi teman seperjuangan. Tak ubahnya seperti kakak-adik yang saling menjaga.

Uang yang dikirimkan om Gino ini sungguh sangat membantu. karena tidak mungkin semua berkas bisa ditangani dalam satu hari, maka besoknya aku harus kembali ke kota untuk melengkapinya. Tetapi setidaknya aku sudah punya gambaran apa yang harus kulakukan.

Kali ini saatnya aku menemani ibuku untuk keliling menjual arisannya.

Kegiatan seperti ini sudah bukan merupakan hal yang sulit. Aku telah terbiasa bertemu dengan orang-orang yang cukup mampu untuk meminjam uang, menjual suatu barang, atau hanya sekedar beramah-tamah. Tentu saja bersama ibuku.

Ku mulai dari orang-orang terdekat. Tetapi aku dan ibuku tidak mendapatkan hasil apa-apa. Yang didapat hanya ucapan selamat dan maaf. Tetapi salah seorang teman ibuku ada yang memberikan sejumlah uang kepadaku. Katanya uang ini sebagai pegangan di Manado sana. Ya, tentu saja aku terima dengan senang hati.

Tetapi permasalahan intinya ada pada arisan ini. Begitu susah mencari orang yang bersedia membelinya. Arisan ini rencananya dijual ibuku dengan harga dua juta. Meskipun kami sama-sama tahu, dengan menjualnya dua juta, ibuku akan merugi sebesar empat ratus ribu. Tapi itu semua harus kami lakukan untuk keberangkatanku ke Manado.

Kami sudah mendatangi setidaknya empat rumah, dan semuanya nihil.

Saat-saat seperti inilah yang sebenarnya sangat menyebalkan. Ibuku memutar otak, siapa lagi kira-kira yang bisa membeli arisan ini. Kemudian ibuku mendapati sebuah nama. Dan kami pun segera meluncur ke sana.

Kami pergi ke rumah salah seorang yang cukup kaya. Dan kami berhasil menjual arisan kami. Aku juga mendapat wejangan-wejangan dan ucapan selamat dari pembeli arisan tersebut. Kebetulan dia adalah teman baik ibuku ketika ibuku masih sekolah dahulu. Kemudian masalah tiket pun selesai.

“Tuh ga,,, ketika Allah mengizinkanmu untuk lolos di STAN, maka Allah telah menyiapkan rezekinya.” Kata Ibuku tenang. Kemudian mengajakku pulang ke rumah. Selanjutnya aku merenungkan apa maksud dari perkataan ibuku yang bernada menyudutkanku ini. Karena sebelumnya aku agak meragukan keadilan dan kebaikan Tuhan.

Ternyata Tuhan memang baik. Malu aku ketika beberapa hari ini aku mendustakan-Nya. Nikmat mana yang harus kudustakan lagi. Logika ku memang terlalu tumpul jika harus memikirkan kebaikan yang Tuhan berikan. Karena itu terlampau baik. Aku mencoba membayangkan apa jadinya jika aku tak punya seorang seperti Om Gino. Seorang seperti ibuku yang luar biasa ini. Dan orang-orang yang membantu ibuku tadi tidak pernah hidup. Aku tak bisa membayangkannya jika seketika beberapa orang luar biasa ini, terutama ibuku, hilang.

Kemudian ada sebuah keyakinan yang menumbuhkan semangat juangku. Perkataan ibuku tadi akhirnya bisa kuterjemahkan dengan sukses di otakku yang lelet ini.

Ketika Tuhan memberikan sebuah hasil, maka Tuhan akan memberikan beberapa hal yang harus dijalani dan sudah menyiapkan segalanya. Jika hasil yang didapat itu dari hal yang baik, semisal dari sebuah perjuangan, maka beberapa hal yang harus dijalani dan sudah disiapkan pasti berkaitan erat dengan kebaikan. Dalam kasusku aku menarik kesimpulan beberapa hal.

Aku telah memperjuangkan ini semua dari awal. Aku telah memperjuangkan mimpiku untuk kuliah, dan sekarang aku mendapatkannya. Tuhan mengizinkanku untuk bergabung dengan empat ribu orang lainnya di STAN. Dan aku diberi amanat untuk menuntut ilmu di sana. Maka seharusnya aku yakin, bahwa Tuhan pasti sudah menyiapkan segala rezekinya. Tapi kala itu aku terlalu bodoh. Aku terlalu banyak mengeluh. Itulah mengapa aku tak pernah merasa cukup. Karena aku tak pernah bersyukur.

Sudahlah. Semua sudah kulupakan saja. Lagian semua orang akan sama tumpulnya denganku, jika menghadapi tekanan hidup sepertiku. Aku mengingatkan diriku untuk tidak menyalahkan diriku sendiri. Karena yang salah tetap keadaanku yang luar biasa menyialkan.

Beberapa hari ke depan, hal yang kulakukan adalah mengumpulkan berkas-berkas pendaftaran. Membeli perlengkapan apa yang sekiranya akan di bawa. Berkonsultasi dengan kakak tingkat bagaimana mekanismenya. Dan tentu saja, memesan sebuah tempat kost yang kelak akan aku gunakan sebagai rumahku selama setahun.

Dalam beberapa hari yang berjalan ini, ibuku juga sukses meyakinkan ayahku bahwa semua akan baik-baik saja. Kemudian disepakati ayahku akan pulang dari Bandung untuk menemaniku dan Alif ke Juanda. Sekaligus sebagai ucapan perpisahan. Karena satu tahun ke depan aku takkan bisa bertemu ayah dan ibuku, adik-adikku, dan orang-orang lain yang aku sayangi. Tapi tak apa, hanya satu tahun dan itu waktu yang singkat.

Kini aku siap sepenuhnya untuk bertempur dan menempuh pendidikan di Balai Diklat Keuangan Manado. Balai diklat itu adalah kampus STAN untuk mahasiswa Diploma I Pajak dan Diploma I Kepabeanan dan Cukai. Aku siap menghadapi kejamnya dunia dan persaingan para mahasiswa STAN di Manado sana.

Lalu kekejaman satunya muncul kembali.

Om Gino keluar dari perusahaan yang selama ini memperkerjakannya dengan baik di Kalimantan. Perusahaan yang secara tidak langsung menjadi harapan terakhirku ketika aku tertekan. Dan kini Om Gino sukses menjadi pengangguran. Ada wacana dia akan pulang ke tanah Jawa kembali. Tetapi wacana itu tidak penting. Yang menjadi ganjalan di pikiranku adalah kasus kenapa dia keluar.

Ibuku tak kalah kalutnya. Malahan lebih khawatir dibandingkan diriku sendiri. Aku yakin betul. Apa yang dirasakan ibuku seperti sebuah ketidakmampuan. Ibuku tahu, aku sudah begitu siapnya untuk pergi ke Manado. Tapi ibuku juga tahu, dia meragukan kemampuannya untuk mencari uang tanpa bantuan Om Gino. Lalu bagaimana dengan kehidupan anaknya yang sedang menuntut ilmu kelak? Jauh dari apapun. Jauh dari jangkauan orang tua dan orang-orang yang peduli.

Beberapa hari sebelum hari keberangkatan. Aku dan ibuku berdua di ruang tamu. Membicarakan suatu hal yang dikhawatirkan. Termasuk aku juga yang mengkhawatirkannya.

“Ega gak usah bingung masalah biaya. Meskipun Om Gino udah gak kerja lagi. Mamah akan berusaha sekuat tenaga” kata Ibuku. Dengan nada penuh getar menunjukkan suatu kengerian yang luar biasa.

“Berangkat atau enggak mah? Tapi sudah terlanjur beli tiket seharga satu juta ini?” kataku

“Bukan masalah tiketnya. Tapi kesempatanmu untuk kuliah di STAN itu sangat langka. Dan Tuhan telah berbaik hati. Jangan mau kalah sama keadaan. Biar mamah yang cari rezeki buat kamu. Dan kamu kuliah sungguh-sungguh di sana” Ibuku meyakinkanku dengan penuh kasih sayang.

“Tapi dengan biaya hidup di sana mah? Om Gino sudah gak kerja lagi. Mamah gak bisa dapat bantuan lagi” kataku khawatir

Om Gino selama ini adalah harapanku. Ketika tes-tes dahulu, dia lah yang selalu aktif mensuplai uang untuk perjalananku. Ketika aku benar-benar kepepet, dialah yang membantuku. Ketika SMK dulu, dialah yang membayar tunggakan SPPku. Dan ketika hendak ujian, dialah yang membayar tunggakan tagihan bimbinganku dan dana kelulusanku. Penghasilan ibuku hanya cukup untuk adikku Edo, dan Eli. Untuk makan sehari-hari. Dan penghasilan ayahku tak pernah bisa diharapkan. Om Gino salah satu penyemangat keuanganku.

“Sudah… Yakin saja. Meskipun mamah gak bisa ngasih sesuatu yang besar seperti Om Gino. Tapi mamah akan berusaha sekuat tenaga untuk membiayai kamu di sana” Kata mamahku. Nadanya lemah. Menunjukkan sebuah ketidakberdayaan. Membuatku makin merasa bersalah.

“Maafkan aku mah.”

“Mamah yang minta maaf. Gak bisa ngasih kamu yang terbaik. Yang buat hidup kamu penuh kekurangan.”

Aku yakin. Ada setetes air mata yang jatuh dari matanya. Aku yakin betul mamahku khawatir akan kelangsungan hidupku di Manado kelak. Aku yakin, mamahku benar-benar merasa tidak mampu. Tapi dia tetap optimis hanya untuk membuatku yakin juga. Namun, tak dapat aku pungkiri, yang membuatku yakin untuk berangkat ke Manado adalah Om Gino. Karena memberikan secercah harapan ketika ibuku benar-benar tidak ada dana. Ketika ayah dan ibuku tak bisa membantu rengekan kelaparanku.

Dan sekarang aku sudah menginjakkan kakiku di tanah Sulawesi Utara ini. Kemudian fakta mengingatkan bahwa salah satu bala bantuanku ada yang gugur. Sekali lagi aku meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Kuucapkan kembali dalam-dalam senuah kalimat penyemangat, “Jika Tuhan sudah mengizinkan aku di sini, maka Tuhan sudah menyediakan rezekinya.” Namun fakta bahwa aku di sini akan menghadapi ngerinya kelaparan dan kelantungan, ternyata mampu menggoyahkan sedikit sikap optimisku pada skenario Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s