Membandingkan, Menghina, dan Membully

Hal yang harus dilakukan adalah memotivasi dia. Dengan tidak menjadi orang lain, tetap dengan dirinya sendiri. Dan memberikan tantangan ke dia, untuk bisa lebih dari sosok tertentu. Itulah yang disebut membiarkan semuanya berarti bagi dia. Karena tak ada yang lebih berarti kecuali menjadi diri sendiri, dan selanjutnya bermanfaat bagi orang lain.

Membandingkan, menghina, dan membully, tidak akan pernah menghasilkan apapun kecuali menciptakan sebuah kegagalan yang beruntun terhadap korbannya. Mengapa? Mari kita ulas.

Membandingkan adalah suatu hal di mana manusia satu, yang menurutnya lebih buruk, dibandingkan, disamakan, dicari perbedaannya dengan manusia lainnya, yang menurutnya lebih baik. Padahal sebenarnya, tidak ada manusia yang lebih baik atau lebih buruk di dunia ini. Yang ada, setiap manusia itu berbeda dengan keunikan dan caranya masing-masing.

Dikehidupan kita, membandingkan bagaikan perkara wajib untuk mengajarkan sesuatu. Padahal membandingkan dua hal secara berlebih akanlah menciptakan sebuah monster yang menggerogoti jiwa si korban. Dan itulah yang membuat metode membanding-bandingkan tidak akan pernah berhasil untuk membuat seseorang lebih baik.

Contoh membandingkan paling sering terjadi adalah ketika si A bisa melakukan suatu hal, dan si B tidak bisa melakukan hal yang persis dengan si A. Belum tentu juga si B tidak bisa memberikan yang lebih baik karena tidak punya cara yang sama dengan si A. Tapi si B selalu punya caranya sendiri. Itulah yang disebut kreativitas dan diakui. Sayangnya, untuk kedua hal ini, masih sulit dilakukan di lingkungan kita. Karena kita, terlalu sosialis.

Membandingkan dengan memotivasi menggunakan sosok tertentu itu berbeda jauh. Membandingkan identik dengan menjabarkan keburukan korban, dan menceritakan kebaikan si figur. Yang justru akan menciptakan sifat pesimistis pada korbannya. Dan tidak memberikan apapun pada pelakunya selain rasa kecewa yang lebih dalam lagi. Sedangkan memotivasi dengan sosok figur, adalah menceritakan kebaikan terhadap sosok tertentu, dengan mendorong bahwasanya si korban pasti bisa memberikan nilai lebih dari sosok tersebut. Dengan begini, akan tercipta sendiri cara-cara korban untuk mengalahkan si figur. Yang kemudian, keberhasilan dengan cara yang berbeda, akan tercipta dengan sendirinya.

Selanjutnya masalah menghina. Terkadang alasan menghina adalah untuk membuatnya dia sadar. Itu salah besar. Menghina tidaklah berguna di dunia yang hina ini. Justru akan membuat si korban makin terjatuh dalam dunia kelamnya. Menghina, bagaikan menancapkan paku lebih dalam lagi, sehingga untuk mencabut paku tersebut, dibutuhkan tenaga yang lebih juga. Metode dengan menghina, akan menciptakan sebuah ketidakterimaan terhadap diri sendiri pada diri korban. Si korban akan merasa dirinya selalu salah. Dan pertarungan terjadi. Menciptakan korban berada di persimpangan jalan terlalu lama. Antara menjadi orang lain, atau menjadi diri sendiri. Dan puff… matilah korban beserta karakternya karena di tabrak truk yang disebut sebuah hinaan.

Menghina tak ada gunanya. Yang lebih berguna justru sebuah tantangan. Seperti “kamu bisa tidak mendapatkah hal yang lebih dari dia?”. Namun ingat, tantangan bukanlah seperti “kamu bisa tidak seperti dia?” jawabanyya jelas tidak bisa. Karena kembali ke atas. Setiap orang itu berbeda. Dan menjadi berbeda bukanlah hal yang salah asalkan tidak melanggar batasan norma, agama, dan adat yang ada. Dengan tantangan, akan menciptakan sebuah dorongan yang kuat.

Yang paling bahaya adalah membully. Itu salah besar. Bully adalah kondisi di mana menjadikan si korban sosok yang menjadi bahan hinaan, perbandingan, ditambah kekerasan dan paksaan yang terlalu memaksa. Membully tak ubahnya membunuh korban secara perlahan. Membunuh di sini, membunuh jiwa, psikologi, dan karakternya. Dan itu benar-benar keterlaluan.

Membully seseorang akan menciptakan sebuah pertanyaan pada diri korban. “Sebenarnya saya ini kenapa?”. Membuat korban terjebak dalam lembah yang terlalu dalam. Dan karena bullyan, korban tak pernah berani bertanya apa kesalahannya. Yang selanjutnya, tentu saja membuat korban makin nampak bodoh karena tak tahu apa yang harus dilakukannya. Lagian, bully sudah masuk dalam kategori kekerasan. Yang artinya, korban akan tersiksa dengan kehidupannya.

Mengapa ketiganya menciptakan kegagalan yang beruntun? Semua itu karena korban merasakan dirinya salah. Dan berawal dari penolakan terhadap diri sendiri tersebut, semua yang dilakukannya akan nampak salah. Karena nampak salah, kesalahan pun sering terjadi karena terlalu takut terhadap apa yang dilakukannya. Jika sudah begitu, kegagalan lah yang datang.

Jika ingin membantu adik, teman, atau saudara agar lebih baik. Maka hentikan tiga hal di atas. Semua tidaklah berguna.

Hal yang harus dilakukan adalah memotivasi dia. Dengan tidak menjadi orang lain, tetap dengan dirinya sendiri. Dan memberikan tantangan ke dia, untuk bisa lebih dari sosok tertentu. Itulah yang disebut membiarkan semuanya berarti bagi dia. Karena tak ada yang lebih berarti kecuali menjadi diri sendiri, dan selanjutnya bermanfaat bagi orang lain.

Namun, jika ingin membunuh seseorang secara perlahan. Gunakan tiga metode ini. Itupun jikalau sampai hati melakukannya. Karena membunuh dengan cepat lebihlah mulia jika membunuh dengan perlahan atau dengan kata lain menyiksa. Sayangnya, di mana-mana, namanya membunuh adalah kejahatan yang paling tidak bisa ditoleransi.

Jadi? Hargailah semua orang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s