Tuhan telah Lupa

Iya, Tuhanlah yang salah. Apa tujuan-Nya dia meloloskan ku tetapi di Manado? Apa tujuan-Nya dia memberikanku sebuah kebahagiaan jika itu tak bisa ku gapai? Skenario Tuhan kali ini tak bisa aku terawang. Yang meriak-riak dalam cairan hati dan pikiranku adalah dua buah pertanyaan, mengapa dan apa. Pikiranku tak sanggup lagi untuk mencari tahu kata berbaik sangka pada Tuhan. Aku sudah terlalu lelah dengan kehidupan ini. Semua percuma. Malam ini, kantuk pun tak bisa mengalahkanku. Tetap saja aku terjaga, sampai waktu subuh pun tiba.

Apa Tuhan lupa bagaimana perjuanganku dulu? Ketika aku kelantungan di Surabaya hanya untuk berjuang di jalan-Nya? Mencari jalan untuk menuntut ilmu.

Catatan Kehidupan
Episode 2 – Tuhan telah Lupa

Baca episode sebelumnya – Antara Menyerah dan Berjuang

Aku terlalu penat memikirkannya. Semua yang aku rasakan ini entah bagaimana. Mulai dari bahagia yang kini bercampur aduk dengan kenyataan pahit. Sekali lagi aku merenungi betapa melasnya hidupku ini. Apa yang kulakukan seolah sia-sia. Aku kemudian memutuskan untuk tidur saja. Berharap pagi esok aku menjadi orang kaya seketika. Bergelimang harta, kalau perlu punya pesawat pribadi agar bisa berangkat ke Manado sana. Tapi apa daya khayalanku tak ubahnya seperti khayalan anak tujuh tahun yang tak bisa digapai oleh si pengkhayal.

Tidurpun susah sekali. Apa yang salah? Tentu saja banyak sekali yang salah. Tapi aku paling ingat, bahwasanya Ibuku berkata bahwa kesalahan itu datangnya selalu dari manusia. Dan kebaikan datangnya selalu dari Tuhan. Sekali lagi aku berpikir. Sudah penat pikiran ini mendapati tekanan di mana-mana. Kalau memang kesalahan datangnya dari manusia, lalu sebenarnya apa kesalahanku? Apakah benar kata orang-orang itu bahwasanya kesalahanku adalah keinginanku untuk kuliah? Aku tak tahu apa yang selanjutnya meracuni pikiranku. Kemudian aku menyalahkan Tuhan.

Iya, Tuhanlah yang salah. Apa tujuan-Nya dia meloloskan ku tetapi di Manado? Apa tujuan-Nya dia memberikanku sebuah kebahagiaan jika itu tak bisa ku gapai? Skenario Tuhan kali ini tak bisa aku terawang. Yang meriak-riak dalam cairan hati dan pikiranku adalah dua buah pertanyaan, mengapa dan apa. Pikiranku tak sanggup lagi untuk mencari tahu kata berbaik sangka pada Tuhan. Aku sudah terlalu lelah dengan kehidupan ini. Semua percuma. Malam ini, kantuk pun tak bisa mengalahkanku. Tetap saja aku terjaga, sampai waktu subuh pun tiba.

Aku harus ke masjid. Aku akan mengadu dan bercurhat pada Tuhan apa yang harus kulakukan dengan ini. Jika tidak ada jawaban apapun, lebih baik aku sudahi saja semua ini.

Apa Tuhan lupa bagaimana perjuanganku dulu? Ketika aku kelantungan di Surabaya hanya untuk berjuang di jalan-Nya? Mencari jalan untuk menuntut ilmu.

Masih segar dipikiranku. Saat aku menerobos hujan untuk pergi ke bank pagi hari hanya untuk membayar biaya pendaftaran. Tentu uang pendaftaran sebesar seratus lima puluh ribu itu bukan perkara mudah bagi keluargaku. Aku ingat ketika aku dan Ibuku ke sana kemari mencari pinjaman uang, mempertaruhkan harga diri kami hanya untuk sebuah pendidikan. Tak sedikit pula yang mencibir, apa tujuanku untuk kuliah? Toh banyak juga para sarjana yang menganggur. Aku ingat Ibuku yang tetap teguh pendiriannya untuk mencarikan aku pinjaman uang untuk daftar USM STAN. Dan, aku dengan setia menemaninya ke sana kemari.

Sedapatnya uang itu ditanganku, pagi hari aku menyetornya. Karena hari ini hari terakhir. Aku pergi ke bank yang jaraknya 8 kilometer dari rumahku. Tak jauh karena aku mengendarai sepeda motor. Motor butut yang selalu aku gunakan ke sekolah. Aku menerobos derasnya hujan. Jalanan saja sampai tak nampak. Aku tak punya waktu lagi Karena jam 9 aku harus ke Surabaya untuk melakukan ujian SBMPTN. Ya, keseharianku adalah pulang pergi ke Surabaya hanya untuk tes. Dan sejauh ini belum ada hasil.

Kemudian, aku mengingat bagaimana aku berangkat saat hendak mengikuti tes tulis STAN. Tes yang merupakan tahap awal dengan peserta yang mencapai delapan puluh delapan ribu siswa se-Indonesia. Tentu dengan sikap optimis aku berjuang. Om dan tante ku, kakekku, tetanggaku yang baik hati, dan orang-orang yang mengerti arti perjuanganku, mendukungku dengan penuh. Bahkan aku mendapatkan uang saku dari mereka. Tentu aku mengucapkan banyak terima kasih. Uang itu aku gunakan untuk bertahan di Surabaya.

Aku juga mengingat kenangan ketika aku telat berbuka puasa karena baru tiba di lokasi tes pukul setengah tujuh malam, lalu seseorang menawariku makan, aku juga ingat ketika aku tidur di selasar masjid karena tes tulis dilaksanakan esok harinya pukul delapan pagi. Aku juga ingat bagaimana aku sendiri dalam kerumunan anak yang sama berjuangnya. Aku merasa sendiri karena tak ada yang ku kenal. Keadaan menunjukkan aku anak SMK yang mayoritas lulusannya bekerja. Yang mindsetnya dibangun bahwasanya kuliah itu buang-buang waktu saja. Aku ingat betul ketika sepatuku hilang saat aku bangun jam tiga dini hari. Dan aku mencari ke sana kemari tidak menemukannya.

Aku mengingat juga perasaanku dan Ibuku ketika aku dinyatakan lolos tes tulis STAN. Kemudian aku mulai berlatih lari dan menjaga kesehatan fisikku untuk memulai tes kesehatan dan kebugaran. Aku ingat tiap subuh dan sore aku berlari menempuh satu setengah sampai dua kilometer hanya untuk berjuang agar aku bisa lolos tes selanjutnya. Yang paling berkesan tentu saja ketika aku kelantungan menginap dua hari di Surabaya untuk menghadapi tes kesehatan-kebugaran dan tes wawancara. Untung ada kakak kelasku yang berbaik hati yang mengijinkanku untuk menginap di kontrakannya.

Dan yang paling aku ingat adalah, betapa Ibuku tak pernah lelah mencarikan aku dana untuk berjuang di tiap langkahku dan kemajuan yang aku raih.

Lalu ketika aku mengingat semua itu? Apakah Tuhan mengingatnya? Atau setidaknya, mengingat betapa luar biasanya Ibuku? Seorang Ibu yang merawat anaknya? Apakah Tuhan mengingatnya? Aku pun hanya bisa meronta-ronta dalam hati. Di masjid inilah aku sholat, kemudian aku mengadu. Dan sekali lagi aku mendustakan-Nya. Meragukan setiap skenario-Nya.

Ketika sang fajar mulai menerjang sulitnya kehidupan ini. Kehidupan yang memuakkan ini dimulai kembali. Kehidupan tak ubahnya seperti roda yang selalu berputar-putar. Tapi kehidupanku seolah selalu berada di sebuah roda yang terletak paling bawah.

Seperti biasa, Ibuku pergi ke pasar untuk membeli persediaan jajan untuk di jual. Dan tugas ku serta adikku Edo adalah mempersiapkan jajanan di sekolah sehingga ketika Ibuku datang, semua sudah siap. Hanya tinggal dipermanis dengan jajanan baru. Beberapa saat ketika Ibuku datang, Ibuku kemudian berkata padaku untuk segera memberikan kabar kepada ayahku bahwasanya aku diterima di STAN. Dan melupakan sejenak masalah apakah aku bisa berangkat ke sana atau tidak. Maka aku lakukan itu dengan berat hati. Aku kemudian mengirimkan sms kepada ayahku. Belum dibalas juga karena mungkin dia masih tidur.

Ayahku bekerja di Bandung. Bandung adalah kota kelahiranku dan ayahku. Di sanalah saudara-saudara ku dan sanak keluargaku yang lain berada. Ayahku bekerja di Bandung sebagai karyawan di sebuah toko milik pamanku. Biasanya aku memanggil pamanku Mang Wawan. Kebetulan Mang Wawan adalah suami dari saudarinya ayahku, atau dengan kata lain, suami dari Tanteku yang biasa aku panggil Bibi Dewi. Ayahku tentu saja senang sekali bisa bergabung untuk bekerja di sana. Penghasilan ayahku di sana hanya cukup untuk keperluan hidupnya di sana, dan terkadang ayahku mengirimkan uang untuk keperluan ekstra di sini.

Handphoneku bergetar. Ada telepon dari ayahku.

“Ada apa ga?” kata ayahku dari telepon.

“Pak, Ega keterima di STAN. Sekolah kedinasan yang iyang ceritain kemarin dulu itu lho?” Aku harus menjelaskan kembali tentang STAN. Karena ayahku buta akan pendidikan. Berbeda dengan Ibuku yang cukup tahu karena saat sekolah dulu, Ibuku merupakan orang pintar dan dipandang mampu dalam pelajaran apapun.

“Yang di Jakarta itu?” Ayahku betanya kembali

“Iya, tapi Ega dapatnya enggak di Jakarta pak lokasi pendidikannya.”

“Wah, syukurlah yang. Di mana dapatnya?” Bapakku bertanya.

Kemudian aku berdiam diri sejenak. Memandang wajah Ibuku. Ibuku mengangguk tanda meyakinkan. Kemudian kata itu akhirnya terucap dari mulutku. “Manado pak, di Sulawesi Utara. Bapak tahu?”

Kali ini ganti ayahku yang terdiam. Cukup lama. Mungkin mencari tahu dalam memorinya saat dia sekolah dulu dan berharap mendapati kota Manado terletak di mana.

“Jauh gitu ga. Bapak gak mau kamu sekolah jauh-jauh. Gimana dengan biayanya? Gimana dengan keadaannya? Bapak gak bisa ngijinkan kamu ke sana ga.”

Seketika, dunia serasa runtuh. Aku tak tahu harus menjawab apa. Kebetulan sambungan telepon ini aku loud speaker sehingga Ibuku dan adikku Edo bisa mendengarnya dengan jelas.

“Tapi pak, itu sekolah kedinasan, masa depannya meyakinkan. Banyak orang yang ingin masuk ke sana tapi di tolak pak…” Aku mencoba memberikan sebuah harapan kepada ayahku.

“Enggak, pokoknya bapak tidak menginjinkan”

Aku pun tak tahu harus menjawab apalagi. Aku ingin teriak, menangis, dan meninju dunia. Tapi teriak membuatku nampak bodoh. Menangis membuatku nampak lemah, dan meninju dunia membuatku nampak idiot. Maka yang kulakukan hanyalah memberikan handphone itu pada Ibuku. Biarkan saja Ibuku yang menjelaskannya. Sementara Ibuku menjelaskan, pikiran ku bermain entah ke mana lagi.

Sekali lagi dari beberapa kali ini aku muak. Apa gunanya aku berjuang kalau begini akhirnya. Lebih baik Tuhan tidak meloloskan aku saja dari awal. Aku mengumpat keras-keras dalam hati. Lupa bahwa Tuhan itu Maha Penyayang. Karena hati ini sudah begitu panas. Benar-benar panas menghadapi panasnya dunia ini. Yang aku pikirkan sekarang adalah betapa busuknya hidup ini. Betapa hidup ini tak berarti bagi orang sepertiku. Betapa perjuanganku tak pernah ada gunanya. Semua sia-sia tak ada hasilnya.

Ibuku menyudahi pembicaraan dengan ayahku. Aku tak tahu apa yang dibicarakan oleh mereka. Lagi pula, kalaupun Ibuku berhasil meyakin ayahku. Semua itu tak berguna. Karena aku tak punya biaya untuk pergi ke sana. Bulshit lah semua usaha yang dilakukan Ibuku, aku, dan semua orang yang mendukungku.

“Bapak itu gak tau pendidikan yang bagus dan jelek. Sudah jangan dipikirkan.” Kata Ibuku menenangkan kalutnya hatiku.

Aku tak menjawab. Yang aku perlukan adalah sebuah kepastian. Aku kemudian berpikir berulang-ulang. Apa gunanya bapakku menyetujui kalaupun kenyataannya tetap saja tiket pesawat itu hampir sejuta?

“Mamah tadi udah bilang ke bapak, katanya nanti dibantu memikirkan biaya untuk berangkat ke sana.” Kata ibuku menambahkan. Aku yakin betul kata-katanya tadi hanya sekedar penghiburan agar aku tidak terlalu kalut.

Aku kemudian mengiyakan. Selanjutnya aku pulang ke rumah. Ke kamarku. Menyalakan laptopku. Laptop ini adalah hadiah dari Om Gino karena aku berhasil lulus tes tulis STAN. Om Gino lah yang merasa paling bahagia setelah kedua orang tuaku. Laptop ini adalah hadiah atas prestasi itu. Agar aku selalu ingat sakitnya sebuah perjuangan, dan nikmatnya dari hasil sebuah perjuangan. Aku kemudian membuka file tentang berkas daftar ulang. Aku lihat sekali lagi namaku dan tulisan Manado di lokasi pendidikannya. Tidak berubah juga ternyata. Kemudian aku baca persyaratan daftar ulangnya.

Seketika aku mengumpat-ngumpat.

Di situ dituliskan SKCK, Surat keterangan rontgen, Surat keterangan bebas narkoba, dan surat-surat lain yang aku yakin betul untuk mendapatkannya harus melalui pemeriksaan dokter. Dan untuk bertemu dokter, sekali lagi, membutuhkan biaya yang cukup untuk makan kami 4 hari. Sekali lagi. Aku muak dengan rencana yang diberikan Tuhan ini. Hatiku benar-benar buntu, jikalau harus mencari tahu kebaikan apa yang ada di balik kesusahan ini, jawabanku hanya satu. Semua itu hanyalah omong kosong.

Akupun hanya bisa terduduk lemas.

Advertisements

One thought on “Tuhan telah Lupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s