Antara Berjuang dan Menyerah

Tuhan selalu membantuku ketika aku dan keluargaku ada masalah. Tapi aku selalu saja mendustakan-Nya. Terkadang aku selalu mengadu-ngadu dalam hati kenapa aku diberi kehidupan yang begitu sulit. Tapi Tuhan mengajarkanku betapa hidup ini indah dengan rasa sakitnya. Ketika aku selalu merasa bersyukur, maka aku akan merasa hidup ini semakin cukup. Maka aku menyimpulkan, bahwa sebenarnya yang membuat hidupku susah adalah perasaanku sendiri yang tak pernah mengenal rasa syukur.

Catatan Kehidupan
Episode 1 – Antara Berjuang dan Menyerah

Aku membangunkan Ibuku. Dengan perasaan bercampur aduk, aku membangunkannya. Hendak memberinya sebuah berita yang luar biasa mengagetkan. Aku pun masuk ke kamarnya. Segera kuberi tahu bahwa Om Gino habis telepon.

Malam ini, waktu menunjukkan pukul 12.33. Aku terbangun karena handphone yang aku taruh di sampingku bergetar. Menandakan ada telepon masuk. Om Gino mengabarkan kalau aku diterima di sebuah sekolah kedinasan yang menurut kebanyakan orang, itu sekolah yang cukup menjanjikan. Aku pun tersentak kaget. Yang membuatku lebih kaget adalah lokasi penempatan pendidikanku kelak. Yaitu di Manado. Entah seberapa jauhnya Manado dari kota kecil ku ini. Tapi aku tidak peduli. Hal yang harus ku lakukan terlebih dahulu adalah memberitahu Ibuku.

“Mah, Om Gino tadi habis telepon, katanya…” Aku belum menyelesaikan kata-kataku, tapi Ibuku menyela perkataanku yang belum sempurna.

“Iya, mamah sudah dengar… Coba cek di warnetnya Mas Dani” Kata Ibuku kalem.

Aku lihat mata Ibuku sejenak, aku tak tahu apakah ada air mata haru di sana. Tapi aku tak begitu peduli. Hal yang harus benar-benar kupastikan adalah apakah namaku ada di pengumuman mahasiswa yang diterima. Karena sebenarnya, nampak mustahil sekali bagiku untuk menembusnya.

Aku adalah seorang yang lahir dari keluarga yang sederhana. Kehidupan yang melelahkan mengajarkanku untuk selalu kuat dan tegar. Dan tentu saja, yang selalu di otakku adalah bagaimana aku mengakhirnya. Sebagai seorang remaja 18 tahun yang ingin selalu bahagia, hidup sederhana adalah hal yang paling aku benci. Tapi mau tidak mau, semua keadaan membuatku tertunduk. Tak bisa menyombongkan diri kepada orang-orang bahwa inilah aku. Ega Antara. Seorang yang harusnya kalian segani, bukan seorang yang kalian pandang sebelah mata.

Sikap sombongku selalu muncul. Namun sikap ini jauh berkurang akibat keadaanku dan keluargaku yang serba terbatas. Mungkin inilah cara Tuhan untuk menyelamatkan hidupku. Jika aku bergelimang harta, mungkin aku akan menjadi orang tak tahu diri. Tak tahu rasanya berjuang, tak tahu rasanya berbagi, dan tak tahu rasanya menghargai sesama.

Aku ingat arti syukur ketika aku mendapati semua tagihan buku ku tiba-tiba lunas. Kejadian ini terjadi ketika aku SMK dulu. Aku bersekolah di sebuah SMK Negeri di kabupatenku. Kala itu, aku hendak melihat berapa besar tagihan buku yang belum aku bayar. Tentu dengan hati yang mengumpat-umpat kenapa kedua orang tuaku tak pernah mampu. Bahkan untuk membayar buku sekolahku saja tidak mampu. Karena buku sekolah inilah yang membuatku tidak tenang selama di sekolah. Selalu dikejar-kejar bendahara. Namun rasa benci ku tak pernah kutunjukkan pada siapapun. Aku bagaikan orang munafik yang tak tahu diri. Di mata orang-orang, aku adalah orang yang baik. Berbakti pada orang tua, dan berbakti pada sesamanya.

Ketika aku sampai di koperasi siswa. Aku bertanya pada petugasnya.

“Bu, Ega Antara kelas XII TKJ 2, berapa total buku yang belum di bayar?”

Kemudian Ibu Ratna, sebagai petugas koperasi, mulai mencari namaku pada tumpukan kertas yang aku yakin semuanya berisi daftar nama. Ingin rasanya ku bakar saja itu kertas. Agar tak pernah ada lagi yang namanya tagihan.

“Tinggal 2 buku Ega… Matematika sama Bahasa Inggris. Mau kamu bayar sekarang?” Kata Ibu Ratna ramah.

Akupun terkaget-kaget. Terakhir aku ingat ada sekitar 9-11 buku yang belum aku bayar. “Loh, coba cek lagi Bu. Saya rasa ada yang salah?” kataku.

Kemudian Ibu Ratna menunjukkan daftarnya. Kucari namaku di daftar itu, sudah banyak tanda centang yang menandakan buku itu telah di bayar. Lalu aku bertanya-tanya siapa yang membayarnya. Kemudian Ibu Ratna menjelaskan bahwasanya ada seorang temanku yang telah membayarnya. Katanya, dia menginginkan identitasnya dirahasiakan saja. Seketika aku terkaget. Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membalas semuanya?

Seketika itu pula, ketahananku terhadap rasa angkuh pun hilang. Terganti semua dengan rasa syukur.

Tuhan selalu membantuku ketika aku dan keluargaku ada masalah. Tapi aku selalu saja mendustakan-Nya. Terkadang aku selalu mengadu-ngadu dalam hati kenapa aku diberi kehidupan yang begitu sulit. Tapi Tuhan mengajarkanku betapa hidup ini indah dengan rasa sakitnya. Ketika aku selalu merasa bersyukur, maka aku akan merasa hidup ini semakin cukup. Maka aku menyimpulkan, bahwa sebenarnya yang membuat hidupku susah adalah perasaanku sendiri yang tak pernah mengenal rasa syukur. Lalu, pertanyaanku selanjutnya, kenapa Tuhan membantu orang yang tak bersyukur sepertiku?

Tuhan sekali lagi memberikan Anugrah-Nya kepadaku. Malam ini aku kembali disadarkan oleh dinginnya malam bahwa ini semua nyata. Aku berjalan ke arah warnet bersama Ibuku. Kebetulan warnet itu dekat dengan rumahku, dan selalu tutup hingga jam 3 dini hari. Setibanya di sana, aku langsung memesan sebuah bilik. Tidak perlu antre lagi karena ini tengah malam. Hanya beberapa bilik saja yang terisi. Itu pun sebatas terisi oleh pemuda-pemuda yang ingin berseluncur di dunia mayanya.

Aku dan Ibuku secara seksama melihat pengumuman. Mencari namaku di antara ribuan nama yang diterima. Aku klik huruf E, kemudian aku cari namaku. Ega Antara, Ega Antara. Cukup sulit juga mencari satu buah nama di antara ratusan nama yang semuanya berawalan huruf E. Aku akhirnya menemukannya. Aku membaca namaku dengan seksama. Kemudian mencocokkan dengan nomor peserta, tak lupa melihat lokasi pendidikannya. Tertulis jelas di situ berbunyi Manado. Dan kemudian, aku lihat program diploma mana yang aku tempati kelak. Di situ tertulis Diploma I Pajak…

Aku kemudian melihat Ibuku. Aku tak tahu aku melihatnya dengan benar atau tidak. Aku sempat melihat matanya berkaca-kaca. Akupun tak jadi melihatnya. Aku melanjutkan menatap layar komputer. Mencari nama temanku. Terakhir kudapati temanku yang bernama Huda dapat di Jakarta, dan beruntung sekali aku, temanku yang bernama David sama lokasi pendidikannya denganku. Setidaknya, rasa khawatirku sedikit berkurang karena ada seorang teman yang bisa di ajak berjuang. Sekali lagi ku lihat Ibuku, ada ekspresi lega di wajahnya. Selanjutnya aku simpan data yang digunakan untuk daftar ulang.

Kemudian aku dan Ibuku pulang. Entah apa yang salah dipikirannya. Kali ini nampak ada yang begitu membebani di pikirannya. Tapi aku tak begitu merisaukannya saat perjalanan pulang. Karena yang aku pikirkan adalah aku diterima di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Sebuah sekolah kedinasan di bawah naungan Kementrian Keuangan Republik Indonesia. Yang mana, menurut kebanyakan orang, masa depannya terjamin. Di tambah sekolah kedinasan ini tidak dipungut biaya pendidikan sepeserpun. Seharusnya Ibuku merasakan bahagianya menjadi diriku yang berhasil lolos dari delapan puluh delapan ribu peserta lainnya. Tapi kali ini pikiranku tak memperdulikan apa yang dipikirkan Ibuku. Terlalu sibuk untuk memikirkan apa yang membuat tatapan matanya sepanjang perjalanan seperti kosong.

Ketika sampai di rumah, aku dan Ibuku pun berkumpul di kamarku. Kemudian sms Om Gino untuk berdiskusi mengenai daftar ulang. Dan terakhir aku baru sadar. Apa yang sebenarnya ada di pikiran Ibuku. Apa yang sebenarnya membuatnya begitu gamang dengan tatapan kosongnya. Ibuku memikirkan bagaimana aku bisa berangkat ke Manado sana. Tentu saja tidak ada tiket pesawat yang harganya sama dengan tiket bus ke Surabaya. Maka aku pun terdiam di sela-sela pembicaraan bagaimana caranya aku berangkat ke sana. Dengan kondisi yang serba tidak mungkin ini.

Aku menemukan sebuah hal yang paling ditakutkan oleh orang tua dan itu membuat perasaanku semakin menjadi-jadi. Yaitu rasa bersalah yang dirasakan orang tua, yang tidak bisa dihilangkan karena berpikir menggagalkan kebahagiaan anaknya atas dasar ekonomi. Aku lihat betul ekspresi Ibuku. Ingin rasanya aku meninju atap-atap langit untuk membuatnya runtuh. Kenapa? Sekali lagi aku bertanya pada Tuhan. Kenapa? Kenapa tidak di Jakarta saja, atau di Malang, atau di Cimahi, atau Yogyakarta? Kenapa harus jauh sekali di Manado? Yang butuh biaya banyak untuk menggapainya. Sekali lagi hatiku mengumpat-umpat. Dan rasa melas-ku bertambah ketika aku melihat wajah Ibuku yang kebingungan.

Aku merindukan sekali kebahagiaan yang Ibuku rasakan. Aku merindukan sekali tangis bahagianya ketika aku pernah memberinya sekali. Yaitu ketika aku dinyatakan lolos tes tulis USM STAN, yang kemudian memberikan secerah harapan, setelah aku dinyatakan gagal berkali-kali di berbagai universitas karena mengejar beasiswa pendidikan gratis seratus persen yang itu terlampau sulit bagi anak SMK sepertiku.

Kala itu aku sedang di masjid. Istirahat sejenak karena aku baru saja mengantar sekolah adikku yang bernama Edo. Kebetulan hari itu sedang puasa ramadhan. Jadi Edo tidak mampu bersepeda. Aku berkewajiban mengantar-jemput Edo. Kebetulan pula kala itu aku sedang libur atau lebih tepatnya menganggur. Tidak ada aktivitas yang kulakukan selain menunggu-nunggu hasil ujian-ujian saringan perguruan tinggi yang aku ikuti.

Kalau dipikir-pikir, terkadang dalam hati aku merasa aku orang paling naif di dunia. Tak tahu posisi di mana aku berada. Orang kecil seperti manabisa kuliah? Kalaupun bisa lolos paling banter di universitas lokal di kabupatenku sendiri. Itupun kalau bisa lolos dari jeratan biayanya. Aku hanya mengandalkan apa yang aku punya di otakku untuk mengejar beasiswa. Kalaupun dipikir ulang, aku ini orang yang bodoh dan tak tahu malu. Bagaimana bisa aku bisa lolos saringan beasiswa? Musuhku saja anak SMA yang super pintar. Sedangkan aku? Hanya lulusan SMK yang mana pelajaran sainsnya tidak begitu di dalami. Seharusnya aku bekerja saja. Seperti apa kata guruku dan para tetanggaku. Impian ku untuk kuliah terkadang menjadi lelucon bagi orang-orang yang sinis terhadap kehidupanku. Tapi terkadang, aku sendiri sepakat dengan pemikiran orang-orang itu.

Selesai sholat dhuha, akupun membaca buku Biologi. Buku ini diberikan oleh Noga, temanku saat SMP, yang saat ini sudah lolos di Institut Teknologi Sepuluh November. Alih-alih memahami, aku begitu sulit membaca nama-nama latin untuk organisme yang ada. Sungguh lucu kehidupanku. Aku melakukan ini karena aku akan melakukan tes yang sama tahun depan. Karena entah kenapa, aku merasa aku gagal di tahun ini. Maka dari itu, aku mulai belajar sedikit demi sedikit, mencari tahu sedasyat mana mata pelajaran anak SMA. Dan ternyata, benar-benar dasyat untuk otakku yang lelet ini.

Aku merasakan handphone ku bergetar. Handphone nokia jadul hadiah dari ayahku. Ada sms masuk, ku ketahui itu dari Tantri. Tapi ada apa Tantri sms? Tantri merupakan temanku SMP dulu. Aku buka sms nya, kemudian aku pun melakukan sujud syukur 3 detik setelah aku selesai membaca sms itu. 3 detik itu aku berikan untuk memberiku ruang bernafas. Aku berhasil lolos tes tahap pertama USM STAN. Tes yang menjadi momok bagi para pesertanya. Aku mendapatkan satu kursi dari tujuh ribu delapan ratusan kursi yang tersedia untuk melanjutkan tes selanjutnya. Aku, berhasil mengalahkan tujuh puluh ribu mahasiswa lainnya seantero Indonesia. Aku pun sempat mengeluarkan air mata. Benar-benar terharu.

Apa ini? Aku baca berkali-kali sms dari Tantri yang memberikan ucapan selamat. Aku memang lupa kalau hari ini adalah hari pengumuman USM STAN tahap pertama. Maka dari itu, aku sempat terkaget-kaget. Setelah aku melakukan sujud syukur kepada Tuhan yang Maha Pemurah dan Pengasih. Aku pun bergegas pulang. Memberikan kabar ini kepada Ibuku. Tentu saja aku naik motor dengan gemetaran karena entah apa sebenarnya yang aku rasakan. Sampai-sampai aku hampir saja menabrak pengendara motor dari arah lain. Dan sukses mendapat umpatan di pagi hari.

Sesampainya di rumah, aku menemui Ibuku. Aku tidak bilang apa yang terjadi. Aku kemudian meminta Ibuku uang dua ribu rupiah untuk pergi ke warnet. Ibu ku kala itu sedang berjualan di kantin SD. Inilah yang dilakukan Ibuku tiap hari. Mencari rezeki dari uang receh anak-anak SD yang tidak seberapa. Tapi tidak seberapa itulah yang selama ini membiayai kehidupanku. Ibuku membuka lapak dagang kecil-kecilan, dengan meja berukuran 2×3 meter untuk tempat jualannya. Gantungan di sana-sini dengan tali rafia untuk menaruh snacknya. Sungguh luar biasa Ibuku ini.

Akupun sukses menahan berita luar biasa ini dari Ibuku. Aku kemudian pergi ke warnet. Tentu saja untuk melihat pengumuman USM STAN tahap satu ini. Dan aku sekali lagi melakukan sujud syukur ketika aku benar-benar melihat namaku yang muncul di sana. Aku simpan halamannya, kemudian aku cetak, aku bayar biayanya, kemudian aku pulang. Tentu saja memberitahukan kabar ini kepada Ibuku. Dan kertas yang aku bawa ini sebagai kenang-kenangannya.

Sesampainya di sekolah dasar tempat Ibuku berjualan, aku pun menunjukkan kertas yang aku cetak tadi. Ibuku bertanya-tanya apa ini. Tapi aku hanya menyuruhnya membaca cover di atasnya. Kemudian Ibuku mengucapkan Alhamdulillah entah berapa kali. Kemudian dia berkaca-kaca. Air matanya pun berlinang di matanya yang indah itu. Aku memeluknya. Ibu-ibu yang menunggu anaknya pulang dan penjual jajanan lain memandangiku dan Ibuku. Kami tak peduli. Yang kami perlukan adalah pelukan yang menandakan bahwa ini nyata.

Aku tersadar dari lamunanku. Kali ini aku tak berhasil membuatnya menangis bahagia lagi. Justru aku menjadi bebannya yang semakin membuat hidupnya berat. Pertama, bagaimana bisa aku pergi ke Manado. Dan kedua, bagaimana bisa aku bertahan hidup di sana? Sedangkan hidup di sini saja susah. Aku pun berusaha menyambungkan pikiranku dengan pikiran Ibuku. Tapi aku tak menemukan apapun yang berbeda. Ibuku pasti berpikiran hal yang sama. Inilah hambatanku kali ini. Aku tak tahu.

Sekarang, yang aku pertanyakan dalam hatiku, dan aku tanyakan pada Tuhan adalah, Apakah aku akan melanjutkan perjuangan ini? Atau aku membiarkannya lepas?

Aku tak tahu.

Advertisements

2 thoughts on “Antara Berjuang dan Menyerah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s