Semua Manusia Berpotensi Korupsi

Korupsi bagaikan hal yang sulit dihilangkan dari Negara kita. Korupsi tak ubahnya seperti penyakit cacar yang menyerang seluruh tubuh setiap manusia. Berbicara soal korupsi, korupsi adalah suatu tindakan yang pada intinya menyenangkan diri sendiri dengan cara merugikan orang lain. Sebenarnya bibit-bibit korupsi sudah hadir sejak kita mengenal uang atau kenikmatan lainnya. Hanya saja, sedikit orang menyadari bahwa bibit tersebut tidaklah harus tumbuh di kehidupannya.

Kita mungkin sudah muak mendengar dan melihat berita-berita korupsi yang ada di media masa baik melalui televisi, internet, radio, koran, dan sebagainya. Tapi apakah muak yang kita rasakan ini berbanding lurus dengan sikap kita yang menunjukkan bahwa kita benci akan korupsi? Mari kita ulas.

Banyak orang berkoar-koar bahwasanya, “saya benci orang yang korupsi”, “korupsi merugikan”, dan sebagainya. Tapi sebagian besar dari mereka lupa bahwa mereka sendiri sering melakukan tindakan korupsi tersebut. Hal ini dicerminkan dari hal-hal kecil yang sering kita lakukan. Seperti mencontek ketika ulangan harian, menyuap untuk sekolah anak-anak kita. Dan masih banyak lagi contoh yang ada. Kalau sudah begini, siapa yang menyebabkan korupsi begitu meraja rela di Negara tercinta kita?

Sebagai contohnya, seseorang sebut saja bapak Ryan hendak membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Kemudian fiskus menghitung pajaknya sesuai prosedur yang telah ditentukan. Selanjutnya terhitung Pajak Bumi dan Bangunan bapak Ryan senilai 230 Juta. Namun kemudian bapak Ryan bertanya kepada fiskus tersebut, “Tak bisakah pajak saya lebih sedikit?” Pertanyaan bapak Ryan tersebut mengindikasikan bahwa sikap spontan tersebut merupakan bagian kecil yang akan berubah menjadi korupsi. Hal ini dicerminkan dari kejadian fiskus yang telah menetapkan pajaknya sesuai prosedur, tetapi bapak Ryan ingin angka yang lebih kecil. Jika keburukan ini menemui kesepakatan, maka selanjutnya bisa kita tebak apa yang terjadi.

Hal ini disimpulkan bahwa belum tentu korupsi yang dilakukan di mulai dari orang yang salah tersebut. Tapi lebih sering korupsi datang dari diri kita sendiri. Untuk itu, mari kita mulai dari intropeksi diri. Setiap orang menginginkan sebuah kenikmatan dan kebahagian, serta mencapai tujuannya. Namun tidak semua orang mengingat bahwa ada batasan yang tidak boleh dilewati untuk mencapai hal-hal tersebut. Jalan pintas dengan cara korupsi, kolusi, dan nepotisme merupakan pelanggaran terhadap batasan-batasan tersebut. Kita pernah mencontek untuk mendapatkan nilai bagus. Kita pernah menyuap untuk mendapatkan fasilitas tertentu. Kita juga pernah menilap sejumlah uang kas untuk diri kita. Bahkan kita pernah menyuruh pemilik toko untuk mengganti angka pada kwitansi agar dijadikan lebih besar. Semua itu kita lakukan untuk apa? Tentu saja untuk kenikmatan dan kebahagiaan kita terhadap uang. Tapi bagaimana dampaknya?

Dampak dari perbuatan kita tersebut, baik kita sadari atau tidak, tentu saja merugikan orang lain, dan yang paling parah, perbuatan-perbuatan tersebut akan berubah menjadi sebuah kebiasaan yang mengerikan. Di dalam hati kita terjadi sebuah pembiaran yang menyebabkan perasaan malu kita hilang. Perasaan kasihan karena merugikan orang lain hilang. Dan yang paling parah, perasaan sungkan kita pada Tuhan menjadi lenyap.

Inilah yang menyebabkan sendi-sendi korupsi di Negara kita sulit sekali dihilangkan. Sebaiknya, kita ubah cara pandang kita terhadap pemberitaan-pemberitaan tentang korupsi. Kita renungkan saja, bahwa sesungguhnya kita ini juga termasuk pelaku korupsi. Seandainya satu orang malu untuk melakukan korupsi, dan kemudian mempengaruhi satu orang lainnya. Maka sedikit demi sedikit, kasus paling berat ini akan lenyap. Meski begitu berat. Pepatah mengatakan, “tak usah kita mengubah dunia, cukup kita mengubah diri kita sendiri, maka dunia akan berubah dengan sendirinya.”

Ryan Wijaya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s