Menyumbang? Siapa Takut!

Sumbangan itu menambah cukupnya harta kita. Fakta!!

Banyak orang bilang sumbangan itu menambah kekayaan kita. Di sini akan saya ulas dengan bahasa dan cerita yang akan teman-teman mudah pahami. Cerita kelanjutan kehidupan si Alfa di Manado adalah cerita luar biasa yang saya jadikan motivasi. Dan kadang saya mendapat izin special sehingga ceritanya dapat saya posting di sini.

Saya juga tidak tau dan hanya pernah dengar bahwa Al-Qur’an atau Al-Hadis juga menyebutkan bahwa sumbangan itu tidak mengurangi harta. Melainkan mencukupi kebetuhan kita. Terlepas dari mengupas itu semua, saya akan ceritakan kebenaran sumbangan dengan cara pandang yang ringan dan ala remaja yang malas membaca terjemahan atau tafsir kedasyatan kebenaran Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Berikut cerita dari si Alfa yang saya jadikan sudut pandang orang pertama agar lebih enak di bacanya.

Pernah suatu hari ibu saya bilang bahwa sumbangan itu melipatgandakan harta kita. Jika dilogika ya mana mungkin? Justru sumbangan itu mengurangi keuangan kita. Dari uang kita yang 100 menjadi 80 rupiah. Belum lagi kadang bikin nyesel karena ada sumbangan yang sifatnya bikin sungkan jika tidak di bayar. Saya tipikal orang yang benar-benar-benar berhemat dalam masalah keuangan. Ya karena emang gak punya uang. Tapi anehnya saya selalu merasa cukup. Ya meskipun harus di tambal dengan hutang dulu. Tapi alhamdulilah saya selalu bisa membayarnya.

Ketika saya mendapat kembalian atas pembelian suatu hal dalam uang receh. Saya selalu menyimpannya di rak di kamar kost saya. Saya kumpulkan kali aja bisa berguna. Sebenarnya tujuan saya adalah uang itu bisa saya jadikan pelengkap kekurangan atau yang paling berguna untuk di infaq-kan ke masjid. Wooh sungguh luar biasa manfaatnya.

Sumbangan, infaq dan sejenisnya membuat kita tak pernah merasa kekurangan. Ketika saya menyumbangkan bagian dari uang saya. Secara naluriah dan dapat kita maklumi, saya berharap Allah mengembalikannya dalam hal yang lebih bermanfaat. Tidak harus dalam jumlah besar yang penting asal mengembalikannya dalam hal jika saya benar-benar butuh. Dan itu selalu benar-benar terjadi. Karena Allah menyayangi kita semua.

Wejangan ibu saya memang benar. Jika di dompet saya ada cukup uang. Saya akan menyumbangkan ke masjid tiap jum’at dengan nominal yang saya suka. Tentu dengan perasaan senang sekali karena bisa menginfaq-kan di masjid. Sekaligus berucap terima kasih ke masjid karena anggap saja masjid adalah seorang manusia. Karena telah menyediakan tempat untuk berkumpul, belajar, dan berdoa kepada Allah. Jika di dompet benar-benar tidak ada uang seperti minggu-minggu yang lalu, saya akan gunakan receh saya untuk menyumbang. Seraya berharap semoga Allah memberikan saya bantuan di kala saya butuh. Dan jika uang receh benar-benar habis seperti minggu-minggu ini ditambah uang di dompet juga benar-benar hilang dari peredabannya, maka saya hanya bisa berucap terima kasih dan meminta maaf karena hari ini tidak dapat menabung kepada Allah lagi. Dan berharap Allah melancarkan rezeki orang tua saya, agar minimal bisa bayarkan saya uang kost dan uang catering.

Dari pengalaman-pengalaman saya. Ketika kau menabung lima ribu, maka kau akan mendapat nilai yang lebih dari sepuluh ribu. Tidak harus berupa uang. Tapi berupa manfaat yang luar biasa. Semisal saya pernah suatu hari karena kebetulan saya punya rejeki yang bisa saya infaq-an di masjid. Saya infaq-kan sejumlah uang saya di masjid secara sukarela dan senang hati. Ya seraya hitung-hitung menabung dan berharap Allah mengembalikannya dengan penuh manfaat. Dan ternyata Allah menggantinya dengan nilai yang cukup besar. Semisal dengan mendapat bantuan, pinjaman, pemberian, dan rezeki lainnya lewat ibu kost yang memberi celana, teman sekost-an yang memberikan kaos dan celana, teman sekelas yang membelikan roti untuk makan siang, sahabat yang senang meminjamkan uangnya ketika saya butuh dan masih banyak lagi. Dan pemberian itu selalu tepat di saat saya benar-benar membutuhkan. Itu fakta luar biasa yang membuat saya bersemangat untuk selalu menabung pada Allah.

Gini saja, istilah bad-boy nya begini. Daripada taruhan uang kepada acara-acara atau kegiatan gak jelas karena berharap mendapat keuntungan. Mendingan taruhan sama Allah, pasti untung. Dengan cara memberikan uang kita di jalan Allah. Dengan ikhlas… Dijamin gak bakalan buntung.

Menyumbang seperti sebuah ritual saja bagi saya. Jika menjadi sebuah kebiasaan. Maka dalam keadaan kepepetpun kita pasti akan ingin sekali menyumbang. Karena manfaat yang diberikan sungguh luar biasa. Dan kita selalu mendapat bantuan dari Allah dari segala kesulitan yang kita hadapi.

Cerita dari Alfa di atas dapat teman-teman jadikan motivasi bahwa hidup ini indah dengan berbagi. Tak ada kata rugi dari berbagi. Tulisan di sini merupakan pengalaman pribadi. Terlepas dari pembahasan yang lebih kongkret di Al-Qur’an dan Al-Hadist. Cerita di atas memberikan sedikit contoh dari banyak sekali contoh bahwa sumbangan itu luar biasa manfaatnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s