Demokrasi, Liberal, dan Demokrasi-Liberal

Kebebasan yang mutlak itu ada kah? Saya rasa tidak. Kebebasan kita nyatanya terhalangi oleh hak orang lain dan kita diwajibkan memahami, mengerti, dan memakluminya. Itulah mengapa liberalism keblablasan tidaklah baik bagi kita.

Ada yang membatasi kenapa perkembangan liberal garis keras dilarang di Indonesia. Karena Indonesia mengenal yang namanya budaya, norma, dan adat yang mutlak dipatuhi oleh seluruh penduduk yang bersangkutan. Jauh-jauh liberal. Hak asasi manusia aja masih kalah dengan adat, budaya, dan norma setempat. Bisa dikatakan, di Indonesia masih terjadi tawar-menawar. Melihat keadaan tersebut, Pancasila menjadi tolak ukur pandangan hidup bangsa. Tidak terlalu fanatic dan tidak terlalu liberal. Semua diharapkan tetap pada koridor yang diharapkan.

Ada yang unik dari pembagian cara pandang di Indonesia. Meskipun Negara hanya mengakui Pancasila sebagai cara pandang yang sah dan baik bagi cita-citanya. Ada 3 kubu yang mewakili para masyarakat. Ini dari penilaian subjektif saya pribadi dengan melihat pemandangan sekililing. Yang pertama liberal garis keras, kedua demokrasi garis keras, ketiga liberal-demokrasi.

Liberal garis keras biasanya terdiri dari orang-orang yang berpola pikir maju tapi tidak memahami adat, budaya, dan agama yang ditempatinya. Dia menuntut kebebasan atas segalanya dan menjujung Hak Asasi Manusia sangat tinggi. Mendewakan sains dan ilmu pengetahuan. Orang-orang seperti ini acap kali dijumpai di Indonesia. Namun harus mencarinya dengan cara tersendiri. Karena orang berpandangan seperti ini cenderung pendiam namun cerdas. Kebetulan saya punya teman seorang yang memiliki pandangan liberal garis keras. Kita sebut saja namanya L.

L merupakan seorang yang jenius, aktifis sekolah, dan ketua osis disekolahnya. Dia seorang yang cerdas dan berpola pikir unik. Salah satu keunikannya dia menjunjung tinggi paham liberal. Bahkan sangat tinggi. Dia menjujung hak-hak pribadi atas kebebasan tanpa batas. Yang paling ekstrim dia ikut mengkampanyekan beberapa hal-hal terlarang dalam budaya kita. Seperti yang paling ekstrim legalitas pernikahan sejenis. Walah, saya sempat ngeri dengarnya. Tapi melihat alasan dia yang berdasarkan HAM dan pemikiran sains yang agung. Saya kalah bantah. Disinilah saya menyimpulkan bahwa orang-orang liberal garis keras biasanya terlalu mendewakan ilmu pengetahuan. Baginya, kebebasan dan ekspresi dia adalah tanpa batas. Ini yang sebenarnya menurut saya salah kaprah.

Kita berubah ke demokrasi garis keras. Demokrasi garis keras yang paling banyak kita temui di Indonesia. Bahkan uniknya kita kadang berdemokrasi untuk hal yang benar-benar buruk. Contoh simple saja ketika zaman sekolah dulu. Saya kala itu seorang ketua kelas yang bertanggung jawab. Ceileh. Kala itu guru pengajar belum juga datang. Teman-teman sepakat atas dasar demokrasi garis keras untuk tidak usah mencari, mengingatkan, atau bahkan memberitahu bahwa kelas kami sedang kosong. Jika saya melakukannya, saya akan mendapat kecaman dari teman-teman. Itu contoh buruk. Buruk sekali.

Pada dasarnya demokrasi adalah hal yang baik. Tapi orang-orang awam menganggap semua hal haruslah di demokrasikan. Itulah yang salah kaprah. Dan itulah mengapa kebanyakan orang-orang awam sangat mendukung demokrasi garis keras. Karena belabuh dari demokrasi, dengan suara terbanyak, mereka bisa melakukan apapun. Oh alangkah lucunya. Mereka lupa bahwa terkadang, meskipun pendapat terbanyak, belum tentu pendapat tersebut paling baik.

Nah lalu manakah yang paling baik?

Saya rasa, menyangkut pola pandang seperti ini, adalah masalah pribadi. Saya rasa yang paling baik adalah yang paling membuat kita dan orang lain nyaman. Tergantung mana yang akan kita gunakan. Solusinya, lakukanlah ekspresi dengan bebas, dengan mengingat budaya, adat, agama setempat untuk memagarinya.

Kemarin teman saya sebut saja D berkata bahwa dia berpadangan liberal tapi dibatasi demokrasi. Saya pun demikian. Menyebut pandangan hidup saya liberal demokrasi.

Apapula itu?

Saya menganggap semua orang mempunyai hak untuk mencapai apa yang dia inginkan. Asal tidak melanggar batas norma yang ada. Di sini, agama, adat, dan budaya adalah pagar yang paling kuat untuk membatasi kita agar tidak terlalu berliberal ria. Disini, kita juga dilarang menghakimi orang lain tanpa dasar. Kita juga memiliki hal diberi serta wajib memberi kesempatan orang lain akan kehidupannya. Pandangan liberal dan demokrasi pada dasarnya pandangan yang baik jika kita sikapi dengan positif.  Terkadang kita harus berani mengkampanyekan diri dan potensi kita di muka umum. Dan terkadang kita harus memusyawarahkan suatu hal di muka umum.

Sebagai contoh.

Kita tidak boleh menghakimi seorang cowok yang sekolah di jurusan fashion misal. Karena bisa saja itu memang potensi terbesar dia. Mari kita tengok negara barat terlepas dari segala keburukannya. Anak-anak di sana diberi kebebasan untuk megembangkan potensinya. Mereka bebas memilih apapun yang mereka inginkan asal mereka bahagia. Tidak ada yang salah jika seorang cowok mengambil jurusan tari. Atau bahkan balet. Mereka tetap gagah bukan? Nah melihat itu, alangkah baiknya kita jangan dan tidak pernah menghina teman kita atas dasar gender. Karena bisa saja itu membunuh karakter dia. Dengan catatan, potensi dan apa yang dia lakukan itu tidak melanggar agama dan norma yang ada.

Contoh lainnya, kita juga tidak boleh terlalu bebas dalam melakukan suatu hal. Misal menyetel music sangat keras. Atau sekarang yang lagi tren pacaran zaman sekarang. Wah ini adalah dampak liberalism yang mengalir deras di budaya kita. Ciuman, seolah dibuat hak pribadi untuk melakukannya. Melihat video porno merupakan hal yang patut dipertontonkan bersama atas dasar hak pribadi dan sudah biasa. (saya sendiri sudah terkontaminasi). Padahal kalau kita berdemokrasi, dan mengingat budaya dan agama kita. Itu adalah hal yang dilarang.

Apa tujuan saya menulis ini?

Tak lain hanya ingin berbagi. Gatal saya ini tangan rasanya.  Saya ingin, dengan membaca tulisan ini, saya pribadi ingin menjadi orang yang lebih bijaksana saja menyikapi perubahan arus zaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s