Keberuntungan? Nyatakah itu?

Keberuntungan, benarkah ada? Saya mau menyampaikan pendapat saya mengenai keberuntungan.

Kata sebagian besar orang, apalagi orang jawa, yang namanya keberuntungan aka. Bejo itu adalah suatu hal yang mana seseorang mengalami atau mendapatkan sesuatu yang diinginkannya dengan usaha yang minimal.

Adakah yang seperti itu? Saya rasa tidak pernah ada… Tuhan tidak akan memberikan semuanya secara cuma-cuma. Bakalan buat kita manja dong akhirnya. Sedikit-sedikit mengandalkan keberuntungan. Yang padahal keberuntungan yang benar-benar beruntung itu tidak ada dalam kamus saya.

Kenapa saya repot-repot menghapus kata beruntung di kehidupan saya?

Ketika ujian melanda, keberuntungan pun menjadi mainstream dan diharap-harapkan kedatangannya. Saya hanya bilang dalam hati “Jangan harap bro.. kalau kamu gak usah keberuntungan yang bikin kamu berhasil gak akan pernah datang”. Dalam ujian atau persaingan, jangan pernah mengenal yang namanya keberuntungan. Apalagi mengharapkan. Kenapa?

Satu kata yaitu keberuntungan seringkali menghambat semangat kita untuk tetap maju dan belajar dengan teguh. Hati kita tergoyah akan janji manis keberuntungan. Membuat kita makin terlena dan terlena. Ini sebelas dua belas sama mengharapkan sebuah pahala tanpa berbuat kebaikan. Hanya diam saja tanpa usaha. “Ah, semoga keberuntungan menyertai saya”. Bulshit itumah.

Lalu bagaimana saya menjelaskan sebuah kejadian yang sering terjadi di dunia ini. Seseorang tak rajin belajar tapi justru mendapat hasil yang luar biasa dalam ujian?

Begini bro, ini pendapat saja, seseorang yang dalam hidupnya selalu bersungguh dan berusaha selalu berbuat kebaikan, maka Tuhan akan memberikan balasan kebaikan dan keberhasilan. Entah langsung atau ditunda. Semisal, si A belajar dengan teguh pada saat Ujian Nasional SD. Pagi siang dan sore dia belajar dengan sungguh. Tak lupa senantiasa berdoa. Dan si B belajar alakadarnya. Semau yang dia mau. Sebisa yang dia bisa. Pada saat pengumuman hasil NEM. NEM si B fantastis, dan NEM si A di bawah si B. Semua orang akan berkata, “wah si B ini beruntung ini. Buktinya si A yang mempeng belajarnya, kalah sama NEM nya si B.”. Ini Bulshit. Senyata-nyatanya. Tuhan menunda keberhasilan si A dan akan memberikannya suatu hari nanti. Karena mungkin, Si A terlalu polos untuk menerima NEM yang tinggi, selanjutnya akan tumbuh sikap sombong di dirinya. Yakinlah.

Ketika masuk keperguruan tinggi. Misal USM STAN. Si A dan Si B kebetulan mendaftar. Di hari H, si A jatuh sakit pilek dan panas sehingga kosentrasi nya buyar. Dalam hati si A sudah tidak ada harapan lagi. Sementara si B, dia dalam keadaan sehat. Dan sekali lagi, si B terlena dengan kata keberuntungan karena mindset dia terbentuk akibat dari pengalaman ketika dia SD. Alhasil mereka mengerjakan USM tersebut dengan gaya dan perasaan masing-masing. Ketika hasil USM keluar, si A yang tidak yakin sama sekali mendapati dirinya lulus. Dan si B mendapati dirinya tidak lulus USM. Sekali lagi orang-orang akan bilang, “wah si A beruntung ini. Buktinya si A lagi sakit ketika USM, tapi dia lolos”. Senyata-nyatanya, si A lolos, mungkin saja sudah saatnya Tuhan memberikan hadiah akan usahanya ketika SD. Keberhasilan yang tertunda. Dan si A sudah cukup dewasa untuk menjadi seorang yang rendah hati dan tidak sombong atas keberhasilannya.

Coba pahami cerita di atas? Masih percaya sama keberuntungan? Keberuntungan adalah sebuah perkataan dari orang-orang disekitar kita ketika mereka melihat keberhasilan kita secara instant. Padahal tidak ada keberhasilan yang instant. Terkadang kita lupa kapan kita berjuang sehingga mendapat keberhasilan ini. Maka itulah yang membuat kita mengatakan diri kita beruntung.

Rencana Tuhan itu luar biasa. Ketika kita tidak berhasil atas usaha kita yang luar biasa, dan orang lain berhasil. JANGAN PERNAH MENYALAHKAN KEBERUNTUNGAN ATAU TIDAK KEBERUNTUNGAN. Yakinlah usaha itu akan selalu terbayar. Hidup mengajarkan bahwa, tidak ada yang gratis di dunia ini. Dan Tuhan juga mengajarkan tidak ada pahala dan kebaikan yang datang dengan sendirinya. Kalau tidak berusaha mengambilnya, selamanya pahala dan keberhasilan itu selalu di tangan Tuhan. Tidak akan turun ke tangan kita.

Nah bro dan sist, mulai sekarang, ketika akan menghadapi ujian atau persaingan, hilangkan kata beruntung dari kamus kehidupan. Usahalah yang sungguh-sungguh. Entah secepatnya atau tertunda, Tuhan pasti akan mengganti usaha kita. Dan jangan lupa kekuatan do’a. Karena do’a mempercepat datangnya keberhasilan.

Advertisements

2 thoughts on “Keberuntungan? Nyatakah itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s