Pembunuhan Karakter

Karakter adalah hal yang unik
Setiap orang memiliki nya. Dan terkadang itu berbeda.
Maka, cobalah untuk memahami satu dengan lainnya

 

Postingan saya kali ini sedikit berbeda. Mungkin beresiko sih jika harus memposting ini. Tapi ini penting agar tidak ada kesalahpahaman, agar kita saling menghargai bagaimana teman-teman kita disekitar kita. Saya akan menulis tentang pembunuhan karakter. Iya, memang hal yang susah untuk dituliskan. Apalagi untuk orang awam seperti saya.

Pembunuhan karakter adalah suatu kasus di mana seseorang menolak karakter seseorang karena tidak cocok dengan karakter orang tersebut. Pembunuhan karakter diawali ketika seseorang mulai menghina sesuatu yang berbeda dari orang lain. Atau sesuatu yang tidak umum. Dengan kata lain sifat yang unik yang dimiliki seseorang. Pembunuhan karakter lazim sekali terjadi di Indonesia. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena menjunjung tinggi hak individu adalah pandangan para liberalis. Sedangkan Indonesia sendiri berpandangan pancasila. Pandangan yang menilai secara utuh mana yang pantas untuk rakyat kita. Tapi sering kali kita semua menyalahgunakannya. Saya di sini tidak akan menyalahkan pandangan pancasila kita yang luar biasa. Tapi sering kali seseorang menghina orang lain tidak pada tempatnya. Yang membuat seseorang mengalami penolakan yang seharusnya tidak untuk ditolak. Bahkan seseorang sering menghina sesuatu yang seharusnya tidak boleh dihina.

Prinsipnya, seseorang memiliki sesuatu keunikan tersendiri. Dan kita bisa melihat itu semua dimulai dari melihat teman-teman kita. Semua orang ingin diterima dikalangannya tanpa ada tekanan sedikitpun. Tapi hal itu cukup sulit ditemui di lingkungan kita. Menjadi diri sendiri adalah hal yang sulit untuk dijalani. Terkadang, kita harus bisa menyesuaikan diri kita dengan lingkungan dan menjelma menjadi orang lain. Dan itu harus dilakukan, jika tidak maka akan terjadi yang namanya penolakan. Nah, bagaimana cara menjalani hal ini? Menjadi orang lain untuk diterima adalah hal yang biasa dilakukan bagi masyarakat kita. Apakah itu munafik?

Saya katakan itu adalah tidak. Karena pandangan kita adalah pancasila. Mengedepankan kenyamanan bersama di atas keegoisan pribadi. Selama itu tidak membunuh karakter kita, maka itu harus dilakukan.

Lalu apa sih yang dimaksud pembunuhan karakter? Bukan definisi, tapi dilihat dari kehidupannya.

Pembunuhan karakter dalam kehidupan sehari-hari terjadi apabila seseoang sering mengalami hinaan, penolakan, dan bahkan kucilan karena sifat yang dimilikinya sedikit berbeda dari sifat umum. Orang yang mengalami hal ini akan berusaha merubah karakter tersebut secara mati-matian agar dia bisa diterima kembali oleh sekelilingnya. Merubah karakter adalah hal tersulit yang dialami orang tersebut. Pertama dia tertekan terhadap penolakan sekelilingnya, kedua dia tak pernah nyaman dengan karakter barunya tersebut.

Walhasil, hidupnya menjadi kalut.

Contoh simplenya dari kehidupan dikeluarga yang saya alami. Adek saya Ryno berbeda dari seluruh keluarga saya. Dia satu-satunya orang dalam keluarga saya yang tidak bisa diam. Kreasinya tanpa batas, susah belajar dengan ilmu eksak, mencintai seni dan kisruh. Kehidupan-kehidupannya penuh dengan goresan yang tak begitu terarah. Berbeda sekali dengan saya dan ibu saya. Saya sering memarahi nya karena karakternya itu. Dia selalu saya marahi ketika belajarnya tidak serius. Saya marahi ketika males-malesan belajar sains atau matematika. Yang dia bisa hanya seni dan semacamnya. Sekeras apapun saya marah, dia tidak akan bisa menjalani itu. Selanjutnya dia akan sedikit demi sedikit membunuh karakternya. Membuatnya hidupnya makin tak terarah. Karena dia memiliki konsepnya sendiri. Selanjutnya adek saya semakin hari semakin suram karena terkekang. Saya dan Ibu saya pun mencari tahu…

Belakangan saya menyadari bahwa memaksanya menjadi orang lain atau memaksa dia untuk seperti saya adalah hal yang benar-benar salah. Karakter dia ada di situ, dan tetap harus di situ selama itu tidak melenceng dari norma yang ada. Sekarang adek saya berubah menjadi seorang yang bebas dengan kreasinya. Dan saya serta Ibu benar-benar menghargai itu.

Jika contoh di atas adalah tidak membunuh karakter orang lain. Maka contoh selanjutnya adalah ketika kita dengan sendirinya menjelma menjadi karakter orang lain yang dirasa perlu untuk menyesuaikan diri kita.

Hakekatnya, karakter adek saya yang seperti dijelaskan di atas harus dia buang sejenak. Karena ada saatnya menyesuaikan diri dengan lingkungan. Mungkin ketika Ryno disekolah, tidak mungkin dia bisa bebas berkreasi dan tak terarah seperti di rumah. Dia harus mencoba belajar menjadi saya, seorang yang lurus dan pencinta ilmu eksak. Karena itu mutlak dibutuhkan di pendidikan kita. Dia harus menjelma menjadi seorang yang rajin dan tekun, serta terkonsep. Dalam hal ini Ryno selalu bertanya kepada saya bagaimana menjadi seorang yang seperti saya. Selanjutnya, saya menyerahkan ke dia bagaimana membuat dirinya nyaman ketika menjadi orang lain.

Alhasil, Ryno menjelma menjadi seorang yang mengagumkan. Dia mendapat peringkat 5 untuk semester ini. Selanjutnya saya dan Ibu saya mengingat masa-masa sebelumnya.

Sebelumnya, saya dan Ibu saya selalu menekan dia untuk lebih rajin dan rajin. Menekan dia untuk meninggalkan dunianya yang menurut kami tidak penting. Menyuruhnya berhenti menggambar, membuat kerajinan, dsb. Semua itu harus diganti dengan belajar dan belajar. Menyuapi dia dengan pelajaran ketika siang dan malam. Justru, itu semua membuat dia semakin hancur dalam akademiknya karena tekanan yang saya dan Ibu saya lakukan. Lalu, saya menyimpulkan, saya telah melakukan prosedur pembunuhan karakter.

Setelah sadar, saya mencoba memberi dia kebebasan. Sejak dia SMP, saya memberikan kebebasan kepadanya untuk berkreasi. Namun juga sesekali mengingatkan dia untuk menjelma menjadi orang lain. Saya juga mencoba menjelaskan hal ini kepada adek saya dengan bahasa yang mudah. Selanjutnya, dia memahami. Dia mencoba dengan sendirinya memanage waktunya sendiri. Meskipun porsi untuk bermain-main dengan kreasinya lebih banyak. Tapi nilai akademis nya cukup memuaskan untuk orang sebebas dia. Dengan mengenal karakternya, Ibu dan saya menyadari, kedepannya anak ini bukan tipikal orang yang bisa di suruh-suruh dan mengabdi kepada seorang atau badan. Tapi dia akan menjelma menjadi seorang bos dan wirausahawan mengingat sikapnya yang tidak bisa diam dan selalu berani break the rule.

Berbeda dengan saya, seorang yang taat, teguh, dan loyal serta bertanggung jawab. Maka di sinilah perjalanan saya. Di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara untuk selanjutnya berharap menjadi pegawai di DJP. Aamiin.

 

Advertisements

2 thoughts on “Pembunuhan Karakter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s