Berjuang untuk Bisa

Ketika saya menulis ini, saya baru saja belajar mengerjakan Pengantar Akuntansi tentang akuntansi perdagangan dengan sistem pencatatan periodik. Apa yang saya rasakan? Rasanya ingin teriak-teriak sembari garuk-garuk tanah.

UTS sebentar lagi. Tiga hari lagi kalau boleh menghitung. Dan apa yang saya rasakan? Semakin kesini semakin ketat persaingannya. Teman-teman saya yang luar biasa mulai mengeluarkan kiat-kiat dan jurus-jurus spesialnya. Dan saya? Hanya jalan ditempat menunggu sebuah ilham entah dari mana. Yang saya lakukan hanya biasa-biasa saja. Belajar alakadarnya. Dan saya baru menyadari kalau itu salah, hanya sekitar 3 hari lalu. Dan itu benar-benar terlambat. Oh Tuhan, bodohnya saya.

Saya ingin bercerita betapa luar biasanya teman-teman saya. Sebut saja si A, saya benar-benar ngefans dengan semangat dia yang menggebu-gebu. Saya mengamati tiap apa yang dilakukannya, dan itu memang luar biasa. Dia bisa tahan dari penat jikalau dia harus belajar berjam-jam. Pada awalnya, saya dan si A sama-sama dari nol. Dan sekarang, si A meninggalkan saya jauh sekali, terbukti dengan akuntansi nya yang mendapat โ€œExcelentโ€, sedangkan saya? Hasilnya banyak coret sana-sini dari dosen saya yang luar biasa. Rasanya pengen teriakโ€ฆ.

Apa yang salah? Kesalahan saya adalah ketika saya merasa bisa, saya tak pernah mengembangkannya lebih jauh. Saya hanya berhenti di tempat menunggu instruksi selanjutnya. Sedangkan si A? Dia akan belajar dengan semangatnya sampai dia berada di puncak kebisaan yang menurut dia sudah cukup. Diketahui lebih lanjut, si A rajin sekali mencari materi dan soal-soal di internet. Dia juga rajin latihan soal-soal setelah saya usik dan saya wawancarai apa saja kiat-kiatnya. Dan, dari situlah sekarang dia saya jadikan model untuk selanjutnya saya modifikasi. Sebut saja proses ATM, Amati-Tiru-Modifikasi.

Berpindah ke si B. Si B ini pada mulanya, kalau boleh dikatakan satu level di bawah saya. Si B selalu meminta bantuan kepada saya dan lainnya ketika dia merasa kesusahan. Dan hasilnya? Benar-benar luar biasa. Dia mendapat excellent untuk pre-test akuntansi kemarin, dan nilai yang sama dengan saya untuk pre-test PPh. Nilai PPh tersebut kalau di ranking satu kelas merupakan urutan ke 3. Apa yang membuatnya begitu berubah? Ternyata hanya satu, semangat dia. Dia berbeda dengan si A yang suka cari materi sana sini dan belajar latihan soal. Tapi si B punya cara sendiri, yaitu menjaga semangatnya tetap utuh dan tidak pernah merasa sungkan untuk bertanya kepada yang bisa. Ketika belajar bersama pun, dia sering menuntut untuk diajari dari mana asal nya ini dan itu. Sangat menyusahkan yang mengajari memang. Tapi kami sama-sama belajar di sini. Dan itu menstimulus saya untuk belajar lebih jauh. Maksud yang dia lakukan adalah, agar dia paham bagaimana alur dari soal atau masalah yang dimaksud. Agar ketika soal itu dimodifikasi, dia tak akan kesusahan mengerjakannya. Karena memegang kunci soal tersebut.

Selanjutnya si C, si C ini memang dari sononya dia anak yang cerdas. Semua mata kuliah dengan mudah dia kuasai. Lalu apa yang membuatnya berbeda? Dia dengan senang hati selalu membantu kami yang kesusahan. Terbukti, saya sendiri sangat senang jika diajari oleh si C. Belajar kelompok dengan si C. Prinsip yang dia pegang adalah (ini baru aku ketahui tadi ketika pelajaran PKn), sering-sering membantu teman agar Allah senantiasa membantu kita. Sungguh luar biasa.

Lalu apa tujuan saya menceritakan tiga sampel dari 28 teman satu kelas saya?

Saya hanya berbagi sebuah pengalaman dan kesimpulan yang saya dapat selama berada di kelas Pajak 1C. Semua yang ada di kelas saya, belajar dari nol. Kita lulus dari IPA atau IPS atau SMK, itu hanya sedikit membedakan pada beberapa mata kuliah saja. Misal anak IPA menguasai statistika dengan lancar. Anak IPS menguasai akuntansi dengan santainya. Anak SMK? Kalau SMK kayak saya gini, benar-benar dari nol. Tapi yang membuat kita mendapat hasil yang berbeda adalah usaha kita.

Teman-teman saya disini tak mengenal kata menyerah. Kami dididik untuk bekerja keras dan membantu sesama. Ketika dosen menjelaskan, terkadang hanya satu sampai lima orang saja yang paham. Nah, setelahnya, dengan tau diri yang tidak paham itu akan bertanya ke dosen atau ke teman-teman yang paham. Di kelas, semua anak menguasi mata kuliah tertentu. Dan tidak menguasai mata kuliah tertentu. Dan tugas dari masing-masing adalah belajar dengan metode silang. Itulah metode yang baru saya kenal ketika saya berada di sini. Metode silang adalah metode di mana yang bisa mengajari yang tidak bisa pada matkul tertentu. Dan sebaliknya. Semisal si A jago PPh, dan si B jago Statistika. Maka si A akan belajar statistika kepada si B. Dan si B belajar PPh dengan si A.

Belajar kelompok adalah jalan lain menuju kata bisa. Saya beruntung memiliki teman-teman yang suka membantu. Di pendopo masjid biasanya kami sering berkumpul. Atau kalau tidak berkumpul di kost salah seorang teman. Belajar kelompok menurut saya benar-benar efektif membantu ketidakbisaan saya terhadap mata kuliah yang diajarkan. Di samping itu, belajar kelompok sekaligus sebagai media komunikasi dan pengakraban diri kepada sesama.

Apakah saya siap untuk UTS kelak?

UTS ini berasa seperti Ujian Nasional saja. Ketika SMK kelak, saya tak pernah merasa pusing atau risau dengan UTS. Toh hanya UTS. Tapi sekarang? Seminggu sebelum UTS saja saya sudah membuat mind map, rangkuman, dsb. Dan itu juga terinspirasi dari teman-teman. Sekali lagi mereka lebih maju dari saya. Haha. Dosen juga sering mewanti-wanti untuk menyiapkan diri menghadapi UTS. Dan yang paling penting mewanti-wanti dan melarang keras untuk mencontek. Karena itu benar-benar tidak bisa di toleransi di STAN. Ketahuan mencontek atau memberi contekan, akan langsung di keluarkan dari pendidikan tanpa kongkalikong lagi.

Belajar di STAN, membuat saya bisa paham arti perjuangan dalam ranah pendidikan. Rasa galau hadir ketika kita tidak bisa memahami satu pertemuan dalam sebuah mata kuliah. Dan rasa senang hadir ketika kita dengan entengnya menguasai materi. Rasa ingin teriak ketika tak tau harus diisi apa ketika pre-test. Perjuangan untuk bisa, hidup sendiri, dan jujur dalam mencari nilai. Persaingan dan keaktifan yang selalu dituntut lebih dan lebih dari hari kehari. Dan banyak hal, yang jauh berbeda dari jenjang pendidikan terdahulu.

STAN, saya bersyukur mendapat kesempatan berada di sini. Dan sekarang, saya siap untuk menghadapi UTS besok senin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s