Individualis VS Sosialis

Individualis atau Sosoalis?

Apa pula arti kedua kata di atas? Di atas adalah sebuah aliran kepribadian yang membatasi diri manusia.

Saya mendapatkan kedua istililah di atas ketika saya mengikuti program Practicing Thinker Stimulation. Apa itu? Rasa-rasanya saya malas menjelaskan itu apa. Nanti terkesan promosi tanpa izin. Intinya di situ saya mendapat ilmu tentang cara kerja manusia dengan otaknya. Dan di situ dijelaskan pula bagaimana kita mengetahui diri kita yang sebenarnya.

Mari kita bahas satu-satu.

Individualis adalah posisi di mana manusia selalu melaksanakan hal sendiri. Penghargaan akan diri sendiri dan orang lain secara individual dijunjung tinggi. Orang-orang individualis akan merasa tersanjung jika dipuji secara personal. Mereka akan selalu memaksimalkan dirinya untuk menjadi yang terbaik. Tentu dengan cara-caranya tersendiri. Orang-orang individualis terkesan susah membaur dengan lainnya. Karena apa yang dilakukannya biasanya dia lakukan sendiri. Orang individualis akan terkesan sombong dan tak memiliki jiwa sosial. Mereka seperti tak mengenal kesetia kawanan. Mereka juga tak suka dibantu jika mereka merasa bisa melakukannya sendiri. Sisi positifnya, orang individualis cenderung mandiri dan kreatif. Mereka suka menunjukkan perbedaan dan potensi pada dirinya. Tanpa peduli itu diterima di masyarakat atau tidak. Mereka lebih suka menunjukkan kepada semua orang apa yang dia bisa. Hal ini secara tidak langsung menuntut mereka untuk selalu menjadi yang terbaik.

Sebaliknya, sosialis adalah di mana ketika semua hal dilakukan bersama dan sama rata. Prinsipnya satu untuk semua. Orang sosialis benar-benar memegang prinsip gotong-royong. Jiwa kebersamaan mereka tumbuh dengan subur. Mereka selalu mengedepankan kepentingan bersama. Kesalahan akan seorang individu akan terbebani kepada semua. Itulah yang membuat orang sosialis cenderung saling melindungi. Jeleknya, dalam kasus kumpulan sosialis, akan ada beberapa orang yang tidak belajar apapun. Seperti menggantungkan segalanya kepada kelompoknya. Orang sosialis cenderung tertutup. Dia hanya akan mengikuti apa yang terjadi pada kelompoknya. Tanpa berani menghasilkan karya-karyanya sendiri apabila dianggap karya itu berbeda.

Lalu manakah yang terbaik?

Tak ada yang terbaik atau terburuk. Pada prinsipnya, menjadi diri sendiri adalah hal yang terbaik. Entah itu sosialis atau individualis. Terutama orang Indonesia yang tinggi akan toleransi. Tidak terlalu condong ke kanan atau ke kiri. Indonesia mencintai ragam campuran. Dalam hal ini, di negara kita, tidak terlalu individualis, juga tidak terlalu sosialis. Maka dari itu, menjadi diri sendiri adalah cara terbaik. Tak peduli kita berada, kita harus menghargai perbedaan sifat antar keduanya.

Saya cenderung individualis tapi ada darah sosialis. Saya rasa teman-teman juga begitu. Karena prinsip gotong royong sering ditanamkan di diri kita. Mulai dari saat kita sekolah dasar, hingga menduduki dunia kerja. Loyalitas dan kebersamaan merupakan harga mati. Tapi di sini kita tak juga melupakan prinsip individualis, di mana semua orang adalah musuh. Ketika kasus-kasus tertentu kita diharuskan berdiri sendiri.

Buruknya, saya dan kebanyakan orang mengadopsi dua prinsip ini setengah-setengah. Membuat kita tak tau tempat, kapan kita harus sosialis, kapan kita harus individualis. Contoh simplenya begini aja deh, orang individualis terkesan tak mau dibantu jika mereka bisa. Kita? Selama ada yang bantu kenapa tidak? Bahkan di saat ujian sekalipun. Haha. Sebaliknya, orang sosialis cenderung sanggup menerima hukuman dalam skala kelompok atau bersama ketika memang kita sedang menjunjung tinggi kebersamaan dan diwajibkan untuk saling mengingatkan. Kita? Selama dia yang salah, kenapa harus kita pula yang menerima hukuman?

Baiknya, saya dan kebanyakan orang mengadopsi hal-hal baik yang ada pada keduanya. Kita semua tidak begitu individualis. Kita akan merasa sungkan jika yang lain bekerja keras sedangkan kita tidak. Kita akan dengan senang hati membantu pekerjaan sahabat kita, dan sahabat kita akan senang hati mengapresiasikannya. Terkadang kita pula memiliki keberanian untuk menunjukkan perbedaan kita karena kita yakin teman-teman kita mampu menerimanya. Dan dalam hal tertentu, kita tak sungkan-sungkan untuk menjadi yang terbaik dan bersaing, meskipun dalam kelompok sekalipun.

Nah, termasuk yang manakah anda?

Tulisan di atas merupakan tulisan yang saya buat atas dasar pengetahuan yang saya tahu tentang keduanya. Mohon dikoreksi jika terdapat kesalahan nalar dan pemahaman. Terima Kasih

Advertisements

3 thoughts on “Individualis VS Sosialis

  1. menjadi individualis bukan maksudnya tidak mempedulikan penderitaan orang apalagi enggan menolong orang yang membutuhkan, dari yang saya fahami, individualisme itu sebenarnya baik pada banyak aspek yakni kebebasan free wil and choices, kebebasan berkembang, hak penuh dalam menentukan jalan hidup sendiri tanpa intervensi kolektifitas yang dianggap pengekang primordial.
    saya rasa ini bagus, seorang individualis lebih “original” dalam menunjukkan jati dirinya yang mana deklarasi pribadinya sebagai person yang mutlak tanpa ingin dihubung-hubungkan oleh kelompok mana ia termasuk, keturunan siapa, serta dari aliran apa ia berangkat. yang ingin ditunjukan seorang individualis adalah seutuhnya seorang diri sendiri dari apa yang ia persembahkan dan yakini, Memahami manusia sebagai manusia.
    menurut saya tidak salah, karena kita belajar untuk tidak menjadi judgemental terhadap kehidupan orang lain (kebiasaan kolektif yang narrow minded), karena masing orang adalah karena individualnya sendiri, dan ia adalah mahluk yang bebas sebebasnya selama kebebasan tersebut tidak mengusik atau ikut campur urusan orang lain dan merusak persamaan hak dan derajat antar sesama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s