Manado dan Toleransinya

Indonesia

Sesuai mottonya, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Buat teman-teman yang di jawa, pernahkan teman-teman merasakan indahnya arti motto itu?

Saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk merasakan indahnya bersama dalam perbedaan. Teman-teman mengira adalah Bali, tepat berbagai macam etnis berkumpul. Iya, saya tidak bisa menyanggahnya, karena saya belum pernah ke bali dan tinggal di sana dalam waktu lama.

Bukan ajang promosi kota Manado, tapi di sini saya akan ceritakan keunikan mereka dalam menghargai antar umatnya. Sesuai motto kota ini “Torang Smua Bersaudara”. Sungguh luar biasa kental yang saya rasakan. Persaudaraan, baik kepada sesamanya, atau kepada lainnya. Manado, sebuah ibukota provinsi yang ramai dengan wisata nya, dan keindahan alamnya. Berada di ekor peta sulawesi paling utara. Iya pucuk sekali. Sampai-sampai, banyak orang jawa membayangkan Kota Manado itu kota yang tertinggal. Ah, saya juga berpikir begitu dulu.

Sejak meninggalkan pulau jawa, di pesawat saya sering menengok ke jendela. Melihat indahnya Indonesia dari udara. Ketika pilot mengumumkan kalau sudah berada di kota Manado dan hendak mendarat, saya semakin menjadi-jadi. Berharap bisa melihat gedung-gedung. Ah, kita persingkat saja…

Dalam perjalanan dari Bandara menuju Perum Paniki II, di mana Kampus BDK Manado berada, saya tidak begitu kecewa. Ternyata di sini ramai juga. Banyak gereja besar di sepanjang jalan AA. Maramis. Dan, apa yang dituliskan di internet, bahwa mayoritas di sini Kristen dan Katolik adalah benar adanya. Menjadi tantangan tersendiri buat saya. Sebagai seorang muslim yang belum kuat imannya, dan masih unyu-unyu pengetahuannya.

Image

Kehidupan di sini juga begitu unik. Pernah saya menghadiri acara tahlilan dan doa di sebuah rumah yang berkabung atas meninggalnya seorang keluarga. Yang berbeda dari acara ini adalah, para tetangga yang beragama non muslim juga hadir. Dan mereka mengikutinya dengan khitmad. Ceramah yang di usung Kyai nya juga benuansa netral. Tidak akan menyinggung agama lainnya. Lalu, bapak kost juga bercerita, beliau sering menghadiri acara pernikahan orang kristen atau katolik. Yang unik di sini adalah jamuannya. Dalam makanan prasmanannya, di bedakan menjadi dua. Masakan Nasional dan Masakan Minahasa. Masakan nasional diperuntukkan bagi mereka yang muslim, dan masakan minahasa yang mayoritas daging babi, boleh di makan siapapun yang mau makan. Muslim kalau mau makan juga tidak apa-apa asal berani nanggung dosanya.

Agama di sini juga sangat kental. Saya tidak pernah merasakan sepersaudaraan semuslim yang sangat kental sebelumnya. Di jawa, semua biasa-biasa saja karena mungkin muslim mayoritas di sana. Tapi di sini, dengan heterogennya masyarakat sini, semua menjadi unik.

Perbandingan muslim sini ibarat 1:2. Dan kita semua membaur. Masjid sering mengumumkan acara-acara tahlilan, yasinan, doa bersama dan sebagainya melalui speaker masjid. Dan gereja sering mengumumkan acara ibadah-ibadahnya melalui speaker gereja. Seolah sama-sama bersaing dalam mendalami iman. Itulah hal unik yang saya rasakan.

Hari paling hening di sini adalah hari Jum’at dan Minggu. Yang mana masing-masing hari itu adalah hari Ibadah. Jum’at siang harus benar-benar Off. Begitu juga Minggu pagi. Di hari jum’at masjid begitu ramainya dan umat muslim berbondong-bondong ke masjid. Di hari minggu gereja-gereja bersahutan menyanyikan doa-doa mereka. Ibadah masing-masing dilaksanakan dengan damainya. Tanpa ada rasa terancam, tertekan, atau apapun. Kita semua bersaudara.

Oh ya, kalau berada di rumah makan, jangan sungkan untuk bertanya apakah di sini rumah makan halal atau bukan. Pemilik toko akan senang hati menjelaskan. Tak akan pernah merasa tersinggung sekalipun itu tidak halal. Karena mereka mengerti bahwa muslim tidak boleh memakan apapun yang bernuansa haram. Dalam membeli makanan juga begitu, jangan sungkan untuk menanyakan apakah bahannya? Karena dengan senang hati pelayan akan menjelaskan. Kalaupun pelayan tidak tau soal bahannya, maka kita akan direkomendasikan untuk tidak beli saja dari pada salah. Padahal pelayan itu non muslim. Tapi mereka siap mengingatkan lainnya. Sungguh luar biasa.

Jika menanggapi peperangan antar agama di Internet, kita semua hanya tertawa. Ah biarlah, mereka hanya orang-orang yang radikal. Kembali ke motto hidup “Torang Smua Bersaudara”

Kalau di atas bercerita bagaimana mereka menetralkan diri demi perdamaian, maka sekarang akan saya ceritakan bagaimana indahnya muslim di sini.

Selain acara rutin mingguan yaitu yasinan, kami anak-anak STAN sering sekali di undang di acara-acara lainnya. Yang mana di setiap acara pasti ada prasmanannya. Sebuah anugrah tersendiri bagi kami yang perantauan dan jauh dari orang tua. Penduduk sini tak sungkan-sungkan untuk mengundang anak-anak STAN. Undangannya bukan nama per-nama, tapi langsung “Anak-anak STAN” yang ingin ikut. Kalau kami berbaik hati, maka 196 orang akan hadir di acara itu. Tapi, dalam tiap acaranya hanya 10-25 orang yang datang. Takut jamuan yang diberikan habis, dan kami juga harus menjaga etika. Kalau se batalion kan ya gak etis juga. Hahaha.
Di samping masjid juga di sediakan sebuah pendopo atau saung untuk belajar. Kami sering berkumpul dan belajar kelompok di sana. Hampir tiap malam ramai digunakan untuk sekedar kumpul, ngerjakan tugas, dan belajar kelompok. Di sana lah anak-anak STAN bersatu diluar kampus. Karena satu-satunya masjid yang ada di Perumnas ini, kebetulan ada di tengah-tengah. Jadi semua peserta kost bisa menjangkaunya. Jika tersesat atau tak tau tujuan, kami sering mengatakan “ketemu di masjid aja” dan semua akan mengiyakan. Karena semua tau, masjid adalah sentral dari segalanya.

Penduduk sini terutama muslim sangat terbuka dengan kami. Karena mereka menganggap kami para pencari ilmu di jalan Allah sekaligus Mualaf. Menolong kami adalah pahala bagi mereka. Itulah prinsip mereka. Dan itu jugalah yang membuat kami terharu, indahnya orang-orang Manado sini.

Ketika baru menginjakkan kaki di Perumnas saja, dan kami belum punya tujuan tinggal, para penduduk menyuruh atau mengantar kami untuk pergi ke masjid saja. Karena di masjid ada tim khusus yang menampung kedatangan kami. Perlu diketahui, kami tak pernah tau menau soal tim khusus ini. Semua murni kemauan penduduk. Kami juga terheran-heran dengan kebaikan mereka. Tugas tim khusus ini adalah mengucapkan selamat datang, membantu, memberi pengarahan, dan menyebarkan kami ke kost-kost orang muslim untuk tinggal. Jadi kami tak perlu lagi repot luntang-lantung tanya sana kemari perihal kost.an

Kami juga dijelaskan tata kehidupan di sini. Dan yang paling berkenan adalah bagaimana cara menghadapi Anjing-anjing yang berkeliaran di jalanan. Haha. Karena mereka tau persis kami pasti ketakutan melihat anjing itu. Mereka memberi tips dan trik nya. Dan kami benar-benar menikmatinya sekarang. Tak takut lagi kalau ada anjing di depan mata.

Sekian dulu cerita indahnya Manado.

Advertisements

2 thoughts on “Manado dan Toleransinya

    1. hidup tidak harus merasa benar sendiri adalah pernyataan yang benar,
      namun jika disandingkan dengan sebutan kafir, tidak ada hubungannya
      karena memang benar kafit itu ditujukan bagi mereka yang non muslim…
      terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s