Maafkan Saya

Seberapa besarkah saya sekarang? Dan seberapa sering saya merepotkan kedua orang tua saya? Parahnya kadang saya tak tau malu. Selalu membangkang pada orang tua. Jika postingan saya sebelumnya menceritakan tentang betapa saya gak tau malunya pada negara ini, postingan kali ini akan membeberkan kemaluan saya lagi (apacoba?), yaitu ketika saya tak tau malu pada orang tua saya. Benar, hina banget hidup saya ini. Hina!

Mungkin tulisan-tulisan tentang dasyatnya orang tua bukan hal baru lagi. Tapi saya akan beberkan dari sudut pandang lain. Ya, dari sudut pandang seorang yang luar biasa.

Seorang teman saya bernama Alfa pernah bercerita kepada saya sesuatu mengenai keadaan kedua orang tuanya yang serba susah. Saya akan gunakan sudut pandang orang pertama dalam kisah ini. Agar mudah dipahami, dan saya juga tidak terlalu susah menulisnya jika dibandingkan dengan sudut pandang orang ketiga. Oh ya, postingan ini juga sudah mendapatkan izin yang luar biasa dari Alfa, harapan dia, semoga menginspirasi kita semua.

Saya selalu merasa kebingungan jika harus meminta uang kepada orang tua. Saya di sini, di Manado, tak tau harus meminta tolong kepada siapa lagi selain kepada Allah, Dzat Yang Maha Mengasihi. Saya selalu merasa serba salah.

Kedua orang tua bukanlah orang yang berpunya. Mereka berdua saja kesusahan untuk biaya hidup di rumah. Ayah saya seorang buruh toko dan ibu saya seorang penjual jajanan di sebuah sekolah dasar. Saya memiliki 2 orang adek yang keduanya masih membutuhkan banyak dana untuk hidupnya. Saya merupakan si sulung, dan saya yang paling merepotkan. Saya benar-benar sedih.

Terkadang saya sampai menangis ketika mamah saya sms, mengabarkan bahwa mamah masih berusaha mencari uang untuk bayar kost dan makan. Mamah sampai meminta maaf kepada saya karena menurut mamah tidak bisa memberikan yang terbaik. Padahal mamah saya adalah seorang yang selalu memberikan yang terbaik bagi saya. Mamah saya sangat kesusahan mencari uang untuk biaya hidupku di sini.

Bapak saya seorang buruh toko, penghasilannya tak bisa diandalkan. Penghasilan bapak saya hanya untuk makan sehari-hari saja sudah cukup. Maka, mamah dan bapak membagi tugasnya. Mereka tak pernah cerita kepada saya bahwa mereka berbagi tugas, tapi sebagai anak yang tau diri, saya tau mereka sedang menyusun sebuah strategi. Dan telusur, bapak saya bertugas membiayai kehidupan sehari-hari dan mamah bertugas membiayai saya di sini.

Itu adalah sedikit cerita. Tapi permasalahan utamanya bukan di situ. masalahnya adalah ketika hari-hari berlalu dan keuanganku di sini kian menipis. Saya benar-benar malu jika harus meminta uang kepada mamah atau bapak saya. Saya merasa saya begitu merepotkan mereka. Saya tak tega melihat perjuangan mereka untuk saya. Saya tak tega sekali ketika mamah atau bapak meminta maaf kepada saya. Kata maaf mereka semakin membuat saya merasa terpojokkan. Eh, bukan terpojokkan sih, tetapi membuat saya semakin merasa di pojok.

Sebisa mungkin saya tak pernah membeli apapun kecuali benar-benar penting. Kadang pulsa dan internet saya kategorikan untuk hal yang tidak penting. Tapi nyatanya saya membutuhkan keduanya. Dan uang yang dikeluarkan untuk keduanya lumayan besar. Ah sudahlah, itu pengeluaran yang sebenarnya bisa ditunda. Hanya saya saja yang tak bisa mengaturnya harus menunda dengan apa. Yang makin buat saya bingung adalah pengeluaran yang sangat penting. Yaitu seperti buku dan alat tulis, fotocopy materi dan sebangsanya. Saya harus putar otak untuk memanage uang. Kadang uang 100ribu harus cukup untuk segalanya. Kadang juga tidak.

Saya tak pernah sampai hati kalau harus berkata jujur. Maka saya hanya bisa berkata jujur melalui ini. Saya di sini tak pernah merasa kekurangan. Tapi saya hanya merasa bersalah. Saya menyayangi kedua orang tua saya, namun yang saya lakukan di sini adalah merepotkan mereka. Saya berharap saya bisa membantu mereka.

Surat ikatan dinas yang saya terima beberapa hari lalu adalah pelipur lara bagi kedua orang tua saya. Dan semua itu harus saya dedikasan untuk Allah Sang Pemberi Kehidupan dan orang tua selaku pengisi kehidupan itu sendiri. Semoga saya bisa memberikan yang terbaik. Kamu temen saya yang paling akrab. Maka dari itu, bantulah saya dengan doโ€™amu yang luar biasa.

Cerita di atas cukup sampai di situ. Saya harus menghela nafas berkali kali untuk menulis sebuah cerita ini agar mudah dipahami bagi diri saya sendiri. Sungguh luar biasa perjuangan teman saya ini.

Lalu, yang membuat saya merasa malu adalah saya tak bisa semerasa bersalah itu ke orang tua. Dengan entengnya saya meminta uang kepada orang tua saya. Wah, saya memang benar-benar tak tau malu untuk kesekian kalinya. Rasanya saya merasa orang yang paling tidak tau diri lagi. Kadang saya merasa mengeluh kepada orang tua. Ah sudahlah, kesimpulan dari cerita di atas bisa teman-teman tarik sendiri. Tapi yang membuat saya termotivasi adalah uniknya si Alfa ini. Ketika dia merasa takut dan bersalah ketika harus meminta uang, padahal uang dia benar-benar habis untuk segala keperluan di sini.

Alfa, saya yakin Tuhan akan selalu membantumu dalam tiap kesusahan dan kebahagiaanmu. Terima kasih atas cerita yang luar biasa.

ย 

ย 

Advertisements

One thought on “Maafkan Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s