Jangan tanyakan apa yang negara berikan padamu
Tapi tanyakanlah apa yang kau berikan pada negaramu

Seberapa sering kalian berterima kasih pada Indonesia? Wait, itu berlebihan untuk para pemuda pemudi sekarang. Saya ganti, Kapan terakhir kali kalian berterima kasih pada Indonesia? Kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu, atau, … Belum pernah sama sekali?

Di tulisan ini saya tidak akan menjudge siapa pun. Saya akan coba hakimi diri saya sendiri.

Saya orang yang benar-benar tak tau terima kasih. Terutama pada bangsa yang besar ini. Dan saya benar-benar merasa bersalah sekarang. Kenapa? Karena bangsa ini memberikan saya banyak sekali hal. Banyak sekali. Dan saya tak akan mampu membalasnya sampai akhir hayat. Meskipun dengan kerja keras sekalipun. Dan bagaimana saya harus menggantinya? Ya tentu saya akan mulai lebih keras untuk kerja keras kedepannya.

Sejak saya menginjak kampus nyiur melambai, Kampus BDK Manado, di bawah naungan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, yang satu almameter dengan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, saya belajar banyak hal akan bangsa besar ini. Banyak dosen yang selalu memberikan stimulus-stimulus bahwa bangsa ini sangat luar biasa. Membuat saya semakin merasa bersalah akan apa yang saya lakukan dulu kepada bangsa ini.

Apa yang dulu saya lakukan? Saya dulu seorang yang tak tau harus suka atau tidak suka pada Indonesia. Saya begitu mengidolakan negara-negara barat, atau seenggaknya negara Singapura. Saya dulu sampai-sampai, jika saya kaya, saya akan pindah kewarganegaraan. Sungguh picik pikiran saya kala itu. Kalaupun saya kaya, itu karena apa? Ya karena bangsa ini yang memberikan segala fasilitasnya. Sayangnya dulu pikiran saya terlalu bodoh dan pendek.

Kenapa saya begitu? Dan saya yakin teman-teman juga masih ada yang belum tahu terima kasih pada bangsa ini?
Saya simpulkan sendiri, saya begitu termakan dengan media oposisi yang sering dan suka sekali memberitakan hal-hal buruk, dan diulang-ulang sampai menjadi mindset para pemuda seperti saya. Mindset bahwa Indonesia itu buruk, parah, enggak bakalan maju, dan sebagainya. Luar biasa sekali. Tanpa diimbangi dengan berita pertumbuhan ekonomi, kemajuan militer, dan sebagainya. Media tak bertanggung jawab seolah tak mau tau bagaimana liarnya pikiran negatif para pemuda.

Ah sudahlah, itu dahulu. Sekarang bagaimana?

Puncak dari segala rasa bersalah saya terjadi beberapa hari lalu. Entah saya berlebihan atau kenapa, saya sampai-sampai meneteskan air mata. Antara haru dan malu.

Beberapa hari yang lalu ketika surat perjanjian ikatan dinas dibagikan, pikiran liar saya entah kenapa menjerit-jerit berteriak “Betapa kamu tak tau malunya?”. Surat itu berkekuatan hukum, dan negara memberikan segalanya kepada saya. Mulai dari fasilitas pendidikan lengkap dan gratis, tunjangan ikatan dinas, sampai ikatan kerja di bawah Kementrian Keuangan, yang mana THP nya paling besar di antara kementrian lainnya. Saya dulunya seorang rakyat kecil yang benci dengan bangsa ini, sekarang menaruh harapan besar untuk kesejahteraan orang tua saya kepada Kementrian Keuangan, kepada negara Indonesia. Sungguh saya tak tau malu.

Dosen-dosen yang luar biasa, terutama bang Zega, selaku Kepala BDK Manado, selalu mengajarkan saya untuk mencintai bangsa ini dengan segenap hidup kita. Beliau berhasil membuat saya sadar dan merasa bersalah atas apa yang saya lakukan. Beliau selalu menstimulus kami dengan hal-hal luar biasa.

Kapan terakhir terenyuh ketika menyanyikan lagu-lagu nasional?Saya pribadi, sejak SD sampai SMA tidak pernah merasakannya.

Saya ingat guru BK saya ketika saya SMA dulu, Bu Rini menanyakan kepada saya pertanyaan itu. Dan Bu Rini menjelaskan banyak hal. Dan pikiran saya kala itu adalah “Ah dilebih-lebihkan saja”. Sekarang, sejak di BDK Manado, saya mengalami apa yang ibu Rini katakan. Momen di mana saya begitu menikmati dan mendalami betapa dalam dan hebatnya lagu-lagu wajib nasional kita. Dan favorit saya adalah Padamu Negeri. Lagu itu selalu sukses membuat saya merinding dan tertunduk malu.

Padamu Negeri, Kami mengabdi, berbakti, memuji, dan jiwa raga kami hanya untukmu Negeri..

Bisa dikatakan, BDK Manado dan semua orang-orang luar biasanya berhasil menyadarkan saya bahwa BANGSA INI LUAR BIASA. Dan tugas kita sebagai pemuda-pemudi Indonesia adalah, menyingsingkan lengan baju, untuk negara. Dan masa depan bangsa ini adalah tanggung jawab kita.

Jika negara adalah seorang manusia, mungkin negara ini adalah manusia paling dermawan sedunia. Ini tidak berlebihan. Banyak rakyat Indonesia yang menghujat-hujat sendiri negaranya, tanpa rasa bersalah meminta tuntutan-tuntutan dan haknya, dan anehnya tanpa mempertanggungjawabkan atas apa yang dia berikan kepada negara ini.
Mari kawan, kita mulai pikirkan…

Kalau bukan kita yang mencintai dan membangun bangsa ini? Siapa lagi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s