Ibu, Amel, dan Kebodohan yang Telah Kuperbuat.

Jadi, hujan tak kunjung reda, namun rasa lapar ini tak bisa dikompromikan lagi. Oke kalau gitu, saatnya ambil payung dan pergi ke tempat makan. Kali ini aku memilih KFC saja. ~ Seperti biasa, KFC adalah opsi terakhir jika sudah bingung mau makan apa.

Suasana Jakarta memang sering hujan akhir-akhir ini. Entah apa yang menyebabkannya. Apakah kesedihan orang-orang yang berpadu dengan pengharapan yang menyebabkan itu semua? Ya, hujan pada dasarnya membawa cerita-cerita unik ditiap bulir nya.

67ADC052-9B2B-4CAF-839B-B660A1148ABB[1]
Hujan yang membawa cerita di setiap butirnya ~ Eaaa
Menerobos hujan adalah perkara gampang, tapi menahan lapar, itu tidaklah gampang. Setibanya di KFC, seperti biasa, antre di kasir dan pemesanan adalah perkara wajib. Aku tak mengamati jelas siapa dua orang di depan ku ini. Karena aku fokus berpikir pada menu apa yang akan aku pilih malam ini. Untuk mengusir jauh semua rasa lapar yang tak mengenakkan ini. Oke wingers dan cream soup.

Continue reading “Ibu, Amel, dan Kebodohan yang Telah Kuperbuat.”

Advertisements

Mencoba untuk Kembali

Mencoba untuk Kembali

Selamat Malam

Sudah sekian lama, sangat lama sekali saya tidak menulis di website yang saya bangun ketika saya mengalami susah-susahnya hidup ~ berlebihan. Pepatah bilang, orang bijak seringkali lahir dari orang-orang yang hidupnya susah (atau merasa susah). Namun sayang sekali, sampai sekarang saya belum juga menjadi orang yang bijak. Hehe

Sudah setahun lebih saya tinggal di Jakarta, dan tulisan saya yang terakhir mengenai uang receh yang entah kenapa, berhasil mencuat lagi, membuat saya tergugah untuk menghidupkan website ini lagi. Tulisan itu dibuat entah tahun berapa, terinspirasi oleh Ibu tercinta ketika masih di kampung halaman dulu. Sekarang saya sudah bekerja di Jakarta, sebuah kota besar namun penyakitan… Ah semoga saya betah…

Continue reading “Mencoba untuk Kembali”

Uang Receh? Antara Angkuh dan Tak Bernilai

Uang Receh? Antara Angkuh dan Tak Bernilai

Karena keangkuhan dan sikap tidak menghargai uang akan datang jika hidup mulai berkecukupan, sementara kita tidak merasa mengimbanginya dengan kerja keras.

Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya. Tertohok dan membuat saya berpikir ulang mengenai standar dan pola pandang saya terhadap kekayaan itu sendiri. Dalam hal ini cara pandang saya terhadap nilai uang.

Entah mengapa? Nilai 10.000 yang dulu merupakan uang yang cukup besar, sekarang menjadi tidak begitu berharga. Bukan, bukan karena kebutuhan yang makin meningkat, karena status saya dari SMA hingga sekarang masih lajang dan bebas tanggungan. Tetapi anehnya, uang bernilai 10.000 membuat saya berpikir “kok cuma segini sih?” Continue reading “Uang Receh? Antara Angkuh dan Tak Bernilai”

Mengapa Dilahirkan bersama Ketidakberuntungan?

“Jika memang hidup ada dua bagian, yaitu orang-orang yang beruntung dan tidak beruntung. Mengapa aku dilahirkan di posisi yang kurang beruntung?”

Terkadang beberapa orang akan berpikir demikian, termasuk penulis pribadi. Melihat sahabat baik, teman, dan bahkan orang yang kita tidak suka, mengapa hidup mereka tanpa beban? Mengapa hidup mereka tanpa cobaan? Mengapa?

Sebenarnya titik terberat yang menyebabkan pertanyaan ini muncul adalah rasa tidak bersyukur. Namun jika berpatokan hanya pada itu saja, rasanya tidak puas. Jadi, mari menggunakan realita.

Continue reading “Mengapa Dilahirkan bersama Ketidakberuntungan?”

Sudah, Mencontek Sajalah!

Barusan saja, ada salah seorang teman posting display picture BBM yang bunyinya begini “Tanpa Sadar, Pendidikan yang Membesarkan Kita Adalah Pendidikan yang Memacu Kreatifitas Untuk Berbohong!”

Ya! Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang tua yang selalu menginginkan anaknya dapat nilai A+. Lalu kepada seluruh guru Indonesia yang “hanya” menghargai murid dari nilai yang didapat. Lanjut kepada para pejabat pembuat kebijakan pendidikan yang “seolah lupa” pentingnya nilai kejujuran karena mengejar yang namanya target nilai akademik. Dan terakhir, kepada seluruh murid Indonesia yang merasakan serba salah karena dilema akan pilihan “mencontek salah, tidak mencontek kalah.” Ya, kalau mereka semua baca tulisan di blog kecil ini sih.

Susah memang menjadi murid yang baik dan jujur di seluruh penjuru Indonesia ini. Namun lebih susah lagi jika tidak menjadi murid. Agar tidak egois, mari dengarkan cerita dari orang-orang di bawah ini. Continue reading “Sudah, Mencontek Sajalah!”

Tidak!! Pacar Saya kok Berkerudung sih…

“Kak, sekarang aku kalau keluar nggak pakai kerudung, rasanya malu” Begitulah bunyi BBM Isti tadi sore.

Tulisan kali ini murni opini pribadi. Karena ini website saya maka penanggung jawab tulisan ini sepenuhnya milik saya. Jika tidak setuju lontarkan di kolom komentar. Dengan senang hati saya akan menjawabnya. Mengapa? Karena tulisan ini mungkin dipandang aneh oleh banyak orang, dan bahkan mungkin dipandang omong kosong belaka. But, let it’s flow.. Toh semua bebas mau berkomentar apa.

Ketika pacar saya kirim BBM di atas. Ada dua hal yang saling bertarung dalam diri ini.
Continue reading “Tidak!! Pacar Saya kok Berkerudung sih…”

Semangat Penempatan!

Post saya hari ini terinspirasi dari aksi gila saya tadi pagi di aula KPP Pratama Bojonegoro. Mengapa aksi gila? Ya karena saya hampir menjadi gila karena menahan rasa gerogi untuk tampil di depan seluruh pegawai kantor dan teman-teman se-angkatan.

Tadi pagi ada morning activity yang rutin dilakukan di KPP Pratama Bojonegoro. Kebetulan saatnya kelompok kami tampil. Sepakat, kelompok kami menyampaikan materi mengenai masalah penempatan. Nah, di ambilah saya selaku sampel, karena dulu lokasi pendidikan saya dalam tahap awal perjuangan memasuki Kementerian Keuangan adalah di Balai Diklat Keuangan Manado. Continue reading “Semangat Penempatan!”