Menjadi Berguna

Menjadi Berguna

Menjadi seorang teman yang memiliki suatu penyakit yang harus disembuhkan secara berkala, terkadang cukup melelahkan. Tetapi, lelah itu berhasil dikonversi menjadi suatu kebahagiaan yang luar biasa, ketika melihat kesembuhannya dan bagaimana dia tersenyum sumringah ketika dokter memvonis dia sembuh.

Aku mempunyai seorang teman yang memiliki penyakit paru-paru basah. Aku ingat betul ketika awal dia bercerita mengenai ini aku begitu ketakukan. Selangkah dengan cepat aku browsing diam-diam sementara dia merasa lega karena sudah menceritakan masalahnya. Ditambah lagi, paru-paru basah adalah sebuah penyakit menular – menurut banyak artikel di internet.

Continue reading “Menjadi Berguna”

Advertisements

Kenapa Ibu-Ibu Begitu Jahat?

Kenapa Ibu-Ibu Begitu Jahat?

Naluri seorang Ibu memang sudah terbentuk sedari dulu. Sedari mereka sebelum menjadi Ibu. Dibalik hiruk pikuknya busway tersebut. Saya belajar banyak hal.

Kebetulan saya menyaksikan dan ikut bericuh-ria di dalam busway dalam acara pesta yang katanya untuk rakyat yang diadakan Monas. Apa yang dihasilkan? Sampah. (Literally memang sampah di mana-mana setelah acara tersebut).

Dimulai ketika beberapa hari sebelumnya saya memutuskan untuk pergi ke Perpustakaan Nasional yang beralamatkan di Jalan Merdeka di dekat-dekat Monas situ. Bersama sahabat baik yaitu Farida. Kita memutuskan untuk menghabiskan hari sabtu di Perpustakaan dan (mungkin) mengunjungi beberapa situs heritage di Jakarta. Tapi semua berubah, ketika Ibu-Ibu menyerang. Menyerang menyerbu monas untuk menghadiri event tersebut. Entah mereka dapat info dari mana. Yang jelas, panitia acara tersebut sukses memobilisasi masa terutama Ibu-Ibu. Mungkin iklan acara tersebut terselip di iklan sinetron Anak yang Tertukar, atau sinetron Tukang Cendol Bersemayam di Jeruk Purut. Continue reading “Kenapa Ibu-Ibu Begitu Jahat?”

Kesendirian itu Membunuhmu

Kesendirian itu Membunuhmu

Aku pun bingung dengan orang dahulu yang bisa bertapa sendiri, memikirkan dan mengupgrade diri dengan cara pengasingan. What the hell was going on back then?

Nyatanya, kesendirian itu bisa membunuhmu pelan-pelan.

Aku duduk sendiri, mengingat tak ada yang dilakukan. Pertanyaannya, benarkah kita bisa melakukan me-time? (istilah keren untuk aktualisasi diri dengan menghabiskan waktu sendirian).

Tidak. Kau tidak bisa sendirian, bengong, do nothing. Pikiranmu akan membunuhmu saat itu juga.

Kesendirian adalah perkara perasaan. Perasaan yang dihadapi di saat tidak ada apapun yang menemanimu. Kesendirian adalah sesuatu yang kadang orang lain takuti, kadang juga disukai. Namun, aku pikir, orang yang menyukai kesendirian tidaklah sedang sendiri. Fisiknya memang sendiri, namun hati dan otaknya sedang enjoy bersama sesuatu yang tidak kita ketahui.  Continue reading “Kesendirian itu Membunuhmu”

Ibu, Amel, dan Kebodohan yang Telah Kuperbuat.

Jadi, hujan tak kunjung reda, namun rasa lapar ini tak bisa dikompromikan lagi. Oke kalau gitu, saatnya ambil payung dan pergi ke tempat makan. Kali ini aku memilih KFC saja. ~ Seperti biasa, KFC adalah opsi terakhir jika sudah bingung mau makan apa.

Suasana Jakarta memang sering hujan akhir-akhir ini. Entah apa yang menyebabkannya. Apakah kesedihan orang-orang yang berpadu dengan pengharapan yang menyebabkan itu semua? Ya, hujan pada dasarnya membawa cerita-cerita unik ditiap bulir nya.

67ADC052-9B2B-4CAF-839B-B660A1148ABB[1]
Hujan yang membawa cerita di setiap butirnya ~ Eaaa
Menerobos hujan adalah perkara gampang, tapi menahan lapar, itu tidaklah gampang. Setibanya di KFC, seperti biasa, antre di kasir dan pemesanan adalah perkara wajib. Aku tak mengamati jelas siapa dua orang di depan ku ini. Karena aku fokus berpikir pada menu apa yang akan aku pilih malam ini. Untuk mengusir jauh semua rasa lapar yang tak mengenakkan ini. Oke wingers dan cream soup.

Continue reading “Ibu, Amel, dan Kebodohan yang Telah Kuperbuat.”

Jakarta, It’s not that Bad

Jakarta, It’s not that Bad

Pengalaman ini dimulai setahun yang lalu, tepatnya 7 Desember 2016

Mendapat penempatan kantor di Jakarta merupakan bukan perkara yang sepele. Namun jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang luar biasa, yang tetap tegar meskipun penempatan jauh sekali dari rumah, penempatan Jakarta tidaklah ada apa-apanya dan wajib disyukuri.

Memiliki pengalaman yang sangat buruk di Jakarta saat menghadiri Wisuda di kampus STAN – Bintaro, saya selalu bersumpah serapah, bahwasanya Jakarta bukanlah kota yang sangat enak untuk ditinggali. Saya membayangkannya ngeri-ngeri sedap kala itu. Namun, setelah 1 tahun lebih saya di sini, Hmm.. not bad…

Continue reading “Jakarta, It’s not that Bad”

Mencoba untuk Kembali

Mencoba untuk Kembali

Selamat Malam

Sudah sekian lama, sangat lama sekali saya tidak menulis di website yang saya bangun ketika saya mengalami susah-susahnya hidup ~ berlebihan. Pepatah bilang, orang bijak seringkali lahir dari orang-orang yang hidupnya susah (atau merasa susah). Namun sayang sekali, sampai sekarang saya belum juga menjadi orang yang bijak. Hehe

Sudah setahun lebih saya tinggal di Jakarta, dan tulisan saya yang terakhir mengenai uang receh yang entah kenapa, berhasil mencuat lagi, membuat saya tergugah untuk menghidupkan website ini lagi. Tulisan itu dibuat entah tahun berapa, terinspirasi oleh Ibu tercinta ketika masih di kampung halaman dulu. Sekarang saya sudah bekerja di Jakarta, sebuah kota besar namun penyakitan… Ah semoga saya betah…

Continue reading “Mencoba untuk Kembali”

Uang Receh? Antara Angkuh dan Tak Bernilai

Uang Receh? Antara Angkuh dan Tak Bernilai

Karena keangkuhan dan sikap tidak menghargai uang akan datang jika hidup mulai berkecukupan, sementara kita tidak merasa mengimbanginya dengan kerja keras.

Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya. Tertohok dan membuat saya berpikir ulang mengenai standar dan pola pandang saya terhadap kekayaan itu sendiri. Dalam hal ini cara pandang saya terhadap nilai uang.

Entah mengapa? Nilai 10.000 yang dulu merupakan uang yang cukup besar, sekarang menjadi tidak begitu berharga. Bukan, bukan karena kebutuhan yang makin meningkat, karena status saya dari SMA hingga sekarang masih lajang dan bebas tanggungan. Tetapi anehnya, uang bernilai 10.000 membuat saya berpikir “kok cuma segini sih?” Continue reading “Uang Receh? Antara Angkuh dan Tak Bernilai”